Memetik Hikmah Dari Kisah Hindun Binti ‘Uthbah

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh : Neneng Sri Wahyuningsih

Seorang wanita cantik, cerdas, fasih dalam bersyair, mahir menunggang kuda, dan sangat berpengaruh di penduduk Mekkah. Namun ia terkenal sebagai sosok yang sangat membenci Islam dan pernah melakukan perbuatan mengerikan saat perang Uhud. Siapakah dia?

Dia adalah Hind bint ‘Uthbah atau kita sering menyebutnya Hindun. Nama lengkapnya Hind binti ‘Uthbah bin Robi’ah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al-Umawiyah al-Qurasyiyah. Suaminya adalah Abu Sufyan bin Harb (paman Rasulullah namun agak jauh). Hindun adalah Ibu dari salah satu khalifah setelah Ali bin Abi Thalib yakni Muawiyah.

Sebelum menikah dengan Abu sufyan, ia terlebih dulu menikah dengan seorang lelaki dari Bani Makzhum. Suaminya kaya raya, cerdas, dan memiliki sebuah penginapan gratis yang diperuntukkan untuk orang-orang berhaji. Sehingga siapa pun berhak datang kesana.

Suatu hari, terlihat ada seorang lelaki keluar dari penginapannya secara terburu-buru. Lalu suaminya curiga dan menuduh Hindun berselingkuh. Ia menendang dan memulangkan ke rumah orang tuanya. Ayahnya bertanya, “Benarkah kau berselingkuh?” Banyak berita beredar tentang ini. Hindun berusaha menyakinkan ayahnya bahwa ia tak melakukan perbuatan keji tersebut.

Kemudian ayahnya mengajak Hindun dan suaminya pergi ke orang pintar (orang Yaman). Ingin membuktikan, benarkah tuduhan yang dilontarkan laki-laki kaya raya itu.

Ayahnya memiliki ide cemerlang dan sangat bijak. Tak hanya mereka bertiga yang pergi. Tapi ayahnya juga membawa banyak perempuan lainnya dan tidak memberitahu dukun, mana yang bernama Hindun.

Secara bergantian dukun tersebut memegang kepala wanita-wanita itu dan mengatakan, “Ini suci. Ini suci”. Tiba gilirannya memegang kepala Hindun dan berkata, “Wanita ini suci dan paling suci. Dan suatu saat nanti akan melahirkan seorang raja”.

Sontak suaminya langsung minta maaf dan membujuknya untuk kembali. Namun sayang seribu sayang, Hindun menolaknya.

Akhirnya kini di masyarakat tersebar bahwa ia adalah wanita suci, tidak pernah berzina. Dan tak berselang lama, datanglah dua proposal kepadanya. Bermaksud ingin melamarnya.

Laki-laki pertama adalah laki-laki terhormat, kaya raya, dan memberikan kebebasan atas apa yang ingin dilakukan istrinya. Laki-laki kedua adalah laki-laki cerdas dan terhormat, tapi apa yang dia inginkan itulah yg harus terjadi. Dan dia memilih yang kedua. Kok bisa?

Hindun adalah wanita yang cerdas. Dia berfikir, jika memilih yang pertama, maka dia harus menanggung semuanya sendiri. Berbeda dengan yang kedua, laki-laki pilihannya akan bertanggung jawab, bisa memimpin keluarga dan mendidik anak-anaknya meski tegas. Dan dialah Abu Sufyan bin Harb.

Setelah bersama, keduanya terkenal sebagai kaum kafir quraisy yang sangat memusuhi Rasulullah secara terang-terangan.

Namun ada masa ketika masih non muslim, Hindun pernah menawarkan bantuan kepada Zainab binti Rasulullah yang hendak berhijrah ke Madinah. Hindun menghampiri Zainab dan berkata padanya, “Wahai sepupu, jika ada hal yang dapat menyenangkanmu untuk menemanimu dalam perjalanan pulang menuju ayahmu, jangan sungkan (katakanlah) padaku. Ini hanya pembicaraan antar wanita saja.”

Zainab kemudian menjawab, “Tidak, tidak ada.” Percakapan tersebut menjadi sebab Zainab merasa takut kepada Hindun dan khawatir dengan rencana jahatnya. Ya, karena Hindun sangat membenci Islam dan Rasulullah.

Inilah hikmah pertama yang bisa kita ambil. Yakni ketika kita ingin berbagi khususnya tentang kehidupan pribadi pada orang lain, maka lihatlah lawan bicaranya. Jika orang tersebut tidak suka pada kita, maka saat melihat/mengetahui kesedihan kita, dia akan senang. Begitupun sebaliknya.

Kekalahan Kaum Quraisy pada Perang Badar

Pada perang Badar, kafir quraisy mengalami kekalahan. Beberapa orang terbunuh seperti Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah dan Walid bin Utbah. Ketiganya adalah keluarga dekat Hindun.

Ketika penduduk quraisy mengetahui kekalahan ini, sebagian besar mereka berprilaku layaknya orang gila. Menangis meraung-meraung, tidak rela menerima keluarganya gugur di medan perang.

Lantas bagaimana dengan Hindun ketika mengetahui anggota keluarganya gugur dalam peperangan tersebut? Ia tidak bersikap sebagaimana penduduk quraisy lainnya. Sama sekali tidak menampakkan kesedihan.

Sehingga ada yang bertanya padanya, “Apakah kamu tidak sedih?”. Hindun menjawab, “Sungguh hatiku hancur berkeping-keping. Namun aku tidak mau jika Muhammad mengetahui kalau aku bersedih, menangis karena kehilangan keluargaku”. Dan ia bertekad, “Aku tidak akan pernah mencuci rambutku, tidak akan pernah membiarkan suamiku mendekatiku hingga tiba waktunya kita bisa mengalahkan kaum muslimin”.

Perang Uhud

Sampailah waktu pada perang Uhud. Hindun mengupah Wahsyi Alhabsyi, seorang budak, untuk membunuh Hamzah. Wahsyi dijanjikan akan mendapat kemerdekaan bila dapat membunuh Hamzah dalam peperangan ini.

Ketika pasukan quraisy tiba di Abwa, tempat dimakamkannya ibunda Rasulullah SAW. Hindun memiliki rencana untuk mengeluarkan jenazah Siti Aminah, ibunda Rasulullah. Hal ini dimaksudkan, ketika mereka kalah perang dan kaum quraisy ditawan, maka jenazah ibunda Rasulullah inilah yang akan dijadikan sebagai tebusannya.

Namun apa respon dari Abu sufyan? Dia menolaknya karena tak mau hal serupa terjadi pada kaumnya, “Tidak. Begitu dendamnya kau pada Muhammad dan kaumnya. Aku tidak mau suatu hari nanti terjadi pada kaumku”. Akhirnya niat busuknya pun tidak dilakukan.

Pada perang Uhud, pasukan kaum Muslimin yang berjumlah 700 orang melawan kaum musyrikin Makkah yang berjumlah 3.000 orang. Dalam perang dahsyat itu pasukan Muslimin sebenarnya sudah memperoleh kemenangan yang gemilang.

Namun, kemenangan tersebut berbalik menjadi kisah pilu, karena pasukan pemanah kaum Muslimin yang tadinya ditempatkan di Bukit Uhud, tergiur barang-barang kaum musyrikin yang sebelumnya sempat melarikan diri.

Melihat kaum musyrikin melarikan diri dan barang bawaannya tergeletak di lembah Uhud, pasukan pemanah meninggalkan posnya dengan menuruni bukit.

Adanya pengosongan pos oleh pemanah tersebut digunakan oleh panglima kaum musyrikin, Khalid bin Walid (sebelum masuk Islam) untuk menggerakkan kembali tentaranya guna menyerang umat Islam. Khalid bin Walid ini, sebelumnya memang digambarkan sebagai seorang ahli strategi yang memimpin tentara berkuda.

Akibat serangan balik tersebut, umat Islam mengalami kekalahan tidak sedikit. Sebanyak 70 orang sahabat gugur sebagai syuhada. Termasuk paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthalib. Ya, Wahsy berhasil membunuh Hamzah.

Saat Hamzah terbunuh, Hindun pun bersuka cita dan bersumpah dengan segala nama berhalanya. Ia melepaskan semua perhiasannya dan memberikannya kepada Wahsy yang berhasil membunuhnya. Dan saat itu, Wahsy pun terbebas dari budak.

Tak berhenti disitu. Hindun dan beberapa wanita yang bersamanya mengiris bagian tubuh para syuhada. Mereka mendapatkan telinga dan hidung yang banyak. Mereka menjadikannya sebagai perhiasan yakni gelang kaki dan kalung. Selain itu, Hindun juga membelah perut Hamzah dan mengambil livernya. Mengunyah dan sempat menelannya namun ia muntahkan.

Berita ini sampai pada telinganya Rasulullah SAW. Nabi SAW bersabda, “Kalau saja dia menelannya, tentu dia tidak akan tersentuh api neraka. Karena Allah mengharamkan bagi neraka untuk menyentuh bagian daging Hamzah sedikit pun.”

Dari sini, kita mendapat hikmah kedua. Yakni jika berteman, harus berhati-hati. Hindun ini memiliki strong personality. Jika kita berteman dengan orang yang strong personality namun tidak baik disisi Allah, maka berhati-hati lah karena akan terbawa pada keburukan. Begitupun sebaliknya jika kita yang berpengaruh di tengah-tengah masyarakat, maka berikanlah pengaruh yang baik.

Sebelum terjadinya perang uhud, Rasulullah pernah bermimpi. Rasulullah berkata, “Aku bermimpi sapi disembelih, pedangku berdarah dan Istana dijaga”. Lalu para sahabat bertanya, “Apa maksud dari mimpi tersebut ya Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Sapi yang disembelih artinya banyak kaum muslimin yang terbunuh. Darah di pedangku artinya ada keluargaku yang terluka. Dan Istana yang dijaga ini adalah Madinah.

Perang uhud ini sangat menyedihkan di mata kaum Muslim. Banyak kaum muslimin yang syahid dan perlakuan terhadap para syuhada pun sangat mengerikan.

Keislaman Hindun

Tibalah saatnya kemenangan bagi kaum muslimin. 10.000 kaum muslimin pergi ke Mekah hendak berumrah. Rasulullah meminta pamannya Ibnu Abbas untuk mengabarkan pada kaum Mekah bahwa Rasulullah akan pergi ke baitullah.

Di perjalanan, Ibnu Abbas bertemu Abu sufyan yang pulang dari berdagang. Beliau menyampaikan pesan Rasulullah. “Hai Abu Sufyan. Katakan pada kaummu bahwa Muhammad beserta pasukannya hendak menuju Mekah”. Setelah obrolan panjang dengan Ibnu Abbas, Abu Sufyan pun memeluk Islam. Dan ia bergegas untuk segera sampai di Mekah.

Sesampainya di Mekah, Abu Sufyan teriak dengan lantang, “Wahai kafir Quraisy, ketahuilah sesungguhnya aku telah masuk Islam. Maka masuk Islamlah kalian! Sungguh Muhammad telah datang kepada kalian dengan pasukan yang tidak sanggup kalian hadapi. Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia selamat.”

Lalu berdirilah Hindun dan memegang jambang suaminya seraya berkata, “Seburuk-buruk pemimpin suatu kaum adalah engkau. Wahai penduduk Mekah, berperanglah kalian! Alangkah buruknya pemimpin kaum ini.”

Abu Sufyan menimpali, “Celaka kalian! Janganlah kalian terperdaya dengan ocehan wanita ini. Sungguh Muhammad telah datang dengan membawa kekuatan yang tidak mungkin kalian hadapi. Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia aman.” Mereka berkata, “Semoga Allah membinasakanmu. Mana cukup rumahmu untuk menampung kami semua?” Kemudian Abu Sufyan menjawab, “Barangsiapa menutup pintu rumahnya maka ia aman. Dan barangsiapa masuk masjid maka ia aman.” Mereka mempercayai perkataan Abu Sufyan, kemudian lari terbirit-birit. Ada yang masuk ke dalam rumah dan ada pula yang berlindung di dalam masjid.

Tak berselang lama, Rasulullah tiba di Mekah dengan genderang kemenangan atas kaum muslimin menaklukkan Mekah. Sebuah fenomena yang indah, Rasulullah bisa kembali ke tanah kelahirannya tanpa pertumpahan darah dan bisa bertemu dengan sanak saudaranya.

Pada hari kedua, setelah Fathu Mekah, Hindun berkata kepada suaminya, “Aku ingin mengikuti Muhammad. Bawalah aku untuk menghadapnya.” Abu Sufyan heran, “Sungguh, kemarin aku melihatmu sangat benci dengan perkataan tersebut?” Hind menjawab, “Demi Allah, aku belum pernah melihat Allah disembah dengan sebenar-benarnya di dalam masjid sebagaimana yang aku lihat kemarin malam. Demi Allah, kemarin malam aku melihat orang-orang tidaklah melakukan sesuatu di masjid melainkan mereka shalat dengan berdiri, rukuk, dan sujud.”

Abu Sufyan berkata kepada istrinya, “Sesungguhnya engkau telah banyak berbuat salah. Maka pergilah bersama seorang laki-laki dari kaummu.” Akhirnya, Hindun pergi menemui ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Keduanya menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam riwayat Imam ath-Thabari disebutkan, Hindun datang memakai cadar untuk menutupi wajahnya karena takut dikenali. Hindun masih merasa takut akibat tindakannya terhadap Hamzah di masa lalu. Di atas bukit Shafa, Nabi SAW berkata, ”Aku meminta kalian berjanji untuk tidak menyekutukan apa pun dengan Allah (syirik).” Lalu Umar RA yang berada di bawah bukit menyampaikan perkataan Rasulullah itu kepada kaum wanita dan memastikan jawaban mereka.

Rasulullah melanjutkan, ”Dan tidak boleh mencuri.” Tiba-tiba Hindun berkata, ”Sesungguhnya Abu Sufyan sangat kikir. Bagaimana jika aku mengambil sebagian hartanya tanpa dia ketahui?” Abu Sufyan yang berada tidak jauh dari tempat tersebut menimpali, ”Semua yang engkau ambil telah kuhalalkan.”

Mendengar jawaban itu, Nabi SAW pun tersenyum, lalu berkata, ”Engkau pasti Hindun?” Wanita bercadar itu pun menjawab, ”Benar. Maafkanlah segala kesalahanku di masa lalu, wahai Nabi Allah”. “Ahlan wa sahlan bi hind. Semoga Allah mengampunimu”, sahut Rasulullah.

Hindun berkata, “Demi Allah ya Rasulullah, dulu sungguh tiada orang di muka bumi ini yang paling aku sukai untuk mendapatkan kehinaan melainkan engkau. Namun sekarang tidak ada kaum yang aku sukai untuk mendapat kemuliaan selain kaummu”.

Dari sini kita mendapatkan pelajaran ketiga. Yakni memaafkan. Ketika ada orang yang bersalah dan kita memaafkan maka bisa jadi itu jalan hidayah untuknya. Islam itu rahmatan lil ‘alamiin. Rasulullah memaafkan, mengesampingkan rasa sakit hati dan kecewanya. Masya Allah kelembutan dan kebaikan membawa kepada keberkahan.

Pengorbanan Hind Setelah Memeluk Islam

Sungguh ia memang wanita yang cerdas, pemberani lagi tegas. Seiring berjalannya waktu, semakin bertambahlah pengetahuan Hindun dalam masalah keimanan. Dalam hati nuraninya, ia terdorong untuk ikut berjuang bersama kaum muslimin di medang perang. Dan tiba saatnya, Abu Sufyan dan Hindun pun turut berjihad di perang Yarmuk. Perang melawan pasukan romawi yang jumlahnya sangat banyak.

Tak sedikit tubuhnya mendapatkan luka yang serius. Namun ia tetap semangat dan menabuh genderang menyemangati kaum muslimin agar tidak mundur. Hindun berteriak dengan lantang, “Percepatlah kematian mereka dengan pedang kalian, wahai kaum muslimin!”.

Jika sebelum keislamannya ia menyemangati kaum kafir Quraisy untuk memerangi islam, kini setelah masuk islam ia menyemangati kaum muslim.

Pada perang ini terdapat beberapa orang yang ingin melarikan diri, namun Hindun dan para kaum muslimah menghadang mereka dan memberi kecaman keras kepada siapa saja yang hendak kabur. Tak terkecuali kepada Abu Sufyan, suaminya sendiri yang hendak mundur dari peperangan. “Engkau mau ke mana, wahai putra Shakhr? Ayo, kembali lagi ke medan perang! Berjuanglah habis-habisan agar engkau dapat membalas kesalahan masa lalumu, saat engkau menggalang kekuatan untuk menghancurkan Rasulullah.” Abu sufyan dan kaum muslim lainnya pun kembali ke medan perang dan ikut berjuang hingga akhirnya kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut.

Dari sini kita bisa mendapatkan pelajaran keempat. Yakni mengambil peran sesuai karakter kita. Pada cerita diatas, Hindun yang memiliki strong personality menggunakan kelebihannya itu untuk menyemangati kaum muslimin. Jika kita refleksikan, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. Misalnya ada yg pintar menulis, pintar ngomong, pintar usaha, dan lain sebagainya. Maka gunakanlah kelebihan yang kita mililki untuk kemuliaan Islam dan meraih syurgaNya.

Ibuku adalah wanita yang sangat berbahaya di masa Jahiliyah dan di dalam Islam menjadi seorang wanita yang mulia dan baik,” ujar Mu’awiyah bin Abu Sofyan mengungkapkan sifat sang ibu. Setelah memeluk Islam, Hindun dikenal sebagai seorang wanita yang memiliki sifat luhur, fasih dalam berbicara, pemberani, kuat, dan berjiwa besar.

Wallahu a’lam bishshowab

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *