Belajar Bahasa Mandarin, Urgenkah?

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Pemerhati Politik Asal NTT)

Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi meminta kemampuan berbahasa Mandarin yang digunakan bangsa China dapat dikuasai siswa madrasah aliyah, selain bahasa Inggris dan Arab. Hal itu untuk meningkatkan daya saing lulusan sekolah tersebut. (CNN Indonesia, 8 Januari 2020).

Belajar bahasa memang sangat penting karena bahasa merupakan alat komunikasi antar manusia. Pesan bisa dipahami jika bahasa yang digunakan diolah dengan tepat.

Masalahnya seberapa penting atau mendesak kah belajar Bahasa Mandarin bagi rakyat Indonesia? Apakah Cina telah memberikan kontribusi yang pesat bagi Indonesia sehingga perlu bagi rakyatnya belajar bahasa Mandarin?

Hubungan kedua negara secara ekonomi ternyata lebih menguntungkan Cina. Cina mampu membuat Indonesia berutang luar negeri hingga bulan Agustus 2019 sebesar US$ 16,99 M atau Rp. 239, 55 T (Kurs Rp.14.100).

Jika yang dimaksud agar WNI diserap sebagai Tenaga Kerja Cina, maka harus dilihat lagi berapa banyak perusahaan China di Indonesia. Dan berapa devisa yang diberikannya kepada Indonesia.

Ketua Kamar Dagang China di Indonesia (CCCI), Gong Bencai, menyatakan sebanyak 1.000 perusahaan China beroperasi di Tanah Air. (Republika, 27 November 2018). Namun sayang perusahaan ini bekerja di penanaman modal yang tentu saja lebib berpihak kepada China dan belum menyentuh pada sektor dagang (sektor riil) masyarakat Indonesia. Presiden Joko Widodo juga sempat kecewa dengan 33 Perusahaan China yang ogah merelokasi pabriknya di Indonesia, lebih memilih Thailand, Vietnam dan Mexico.

Dalam negeri pun harus dilakukan riset berapa banyak kantor dan perusahaan Indonesia yang telah menggunakan bahasa China untuk memperbesar bisnisnya. Atau memang bahasa China belum diperlukan sama sekali?

Yang nampak sekarang Indonesia dibanjiri TKA China. Publik dan Netizen ramai memberitakan bukti banyaknya TKA di banyak daerah di Indonesia. China juga tidak memerlukan TKI karena China kesulitan membiayai warganya.

China mewajibkan hanya boleh satu anak saja untuk setiap keluarga China untuk mengatasi ledakan penduduk. Kelebihan anak di denda dengan sangat mahal. Penambahan TKI hanya menambah beban negara China.

China lebih senang mengembangkan bisnis luar negeri nya. Banyak negara yang terjerat OBOR (One Belt One Road), jeratannya berupa utang infrastruktur. Dana infrastuktur, bahan bangunan dan Tenaga Kerja/Ahli harus didatangkan dari China. Ini menyebabkan banyak negara gagal bayar Utang dan melego asetnya ke China. Contohnya Zimbabwe yang kehilangan nilai mata uangnya karena tingginya inflasi dan dilegonya pelabuhan strategisnya kepada China.

Jadi anggapan bahwa China adalah negara adikuasa yang berguna bagi dunia adalah keliru. China berperan sebagai lintah darat dunia yang bergelimangan harta di atas kebangkrutan negara lain.

Belajar bahasa memang tidak dilarang dalam agama Islam tergantung dari tujuannya. Kalau sekedar untuk komunikasi hukumnya boleh-boleh saja. Bahkan bisa menjadi wajib bila untuk memajukan negara dan pengaruhnya ke dunia.

Dalam Islam, Bahasa Resmi Negara adalah Bahasa Arab, bahasa persatuan. Belajar bahasa asing digunakan untuk memuluskan jalan dakwah dan jihad negara Islam ke daerah-daerah penaklukan.

Para Sahabat Rasulullah SAW yang diutus ke China mempelajari empat bahasa Asing untuk mendapatkan teknologi militer China dalam rangka menegakkan jihad. Kepergian Sahabat ke sana bukan untuk menambah utang luar negeri negara.

Pada masa Khilafah Utsmani, Sultan Muhammad Al Fatih menguasai 7 bahasa Asing. Bahasa-bahasa dari negara yang paling penting untuk ditaklukkan pada masanya.

Begitu lah cara Islam menempatkan bahasa asing agar tidak menggeser bahasa resmi negara. Bahkan pada masa keemasannya, Bahasa Arab, sebagai bahasa resmi negara telah menjadi bahasa internasional yang menjadi bahasa yang paling dimininati baik dalam negeri mau pun di luar negeri Khilafah. []

Bumi Allah, 8 Januari 2020

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

One thought on “Belajar Bahasa Mandarin, Urgenkah?

  • twenty oktavia

    bahasa Mandarin sangat populer karena ada banyak pengguna bahasa Cina di seluruh dunia. Bahasa ini memiliki tingkat kesulitan yang berbeda dari Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Oleh karena itu, bahasa Mandarin tetap sebagai bahasa yang penting bagi dunia bisnis dan akademik. yuk simak penjelasan lengkapnya di link berikut ya : http://news.unair.ac.id/en/2019/01/24/important-learn-chinese/

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *