Kamis, Agustus 27, 2026
OpiniTsaqofah

Miris, Tabrakan Kereta Api Terulang Kembali

Miris, Tabrakan Kereta Api Terulang Kembali

Yuni Ummu Ilyas

Kontributor Suara Inqilabi

Indonesia diramaikan berita tabrakan kereta api, kecelakaan tersebut terjadi antara kereta commuter Bandung Raya dan KA Turangga pada Jumat pagi (5/1/2024). Kecelakaan terjadi di jalur single track yang berlokasi di Kampung Babakan Desa Cikuya Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung, tepatnya di km 181 + 5/4.

 

Akibat kecelakaan ini, 4 orang meninggal dunia termasuk masinis, asisten masinis, pramugara dan satuan keamanan KA. Adapun 28 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.

 

Kejadian tabrakan kereta api ini ramai dibicarakan, tidak hanya di dalam negeri, namun beberapa media asing pun turut memberitakannya. Salah satunya Agence France – Presse ( AFP) yang memuat artikel “4 Dead, 22 Injured in Indonesia Train Collision” yang melaporkan jumlah korban tewas dan luka-luka.

 

AFP juga memberikan kritik seringnya kejadian kecelakaan transportasi di Indonesia. Di dalam laporannya tertulis ” Negara kepulauan yang luas di mana Bus, kereta api dan bahkan pesawat sering kali sudah tua dan tidak dirawat dengan baik,” (https://www.cnbcindonesia.com/news)

 

Media asing lainnya BNN Breaking yang berbasis di Hongkong, melalui artikel” Train Collision in Bandung: A Tragic Wake-Up Call for Indonesia’s Aging Railway Infrastruktur”, merilis penyebab kecelakaan kereta api tersebut akibat infrastruktur yang sudah menua. BNN Breaking didalam kritiknya mengatakan” Jaringan kereta api di negeri ini, yang sistem dan peralatan ketinggalan jaman, khususnya di perlintasan kereta api, telah menjadi faktor penyebab seringnya terjadi kecelakaan. Ketika Indonesia terus bergulat dengan tragedi tersebut, kebutuhan akan infrastruktur perkeretaapian yang modern, aman, dan efisien menjadi prioritas utama .

 

Pemberitaan yang disampaikan media asing terkait kecelakaan kereta Turangga- Commuterline adalah kritikan yang sangat keras, karena begitu seringnya kejadian kecelakaan transportasi massal di Indonesia, baik kapal, pesawat, maupun kereta.

 

Infrastruktur Keretaapian Uzur

 

Di Indonesia sering kejadian kecelakaan kereta api. Selama periode tahun 2007-2023 menurut Data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sudah terdapat 103 peristiwa kecelakaan kereta api di Indonesia. Frekuensi peristiwanya berkisar antara 1-13 kecelakaan tiap tahun ( Katadata, 5-1-2024).

 

Seringnya kejadian kecelakaan kereta api harusnya pemerintah semakin mengevaluasi diri, apa yang terjadi dalan perkeretaapian Indonesia? Apakah disebabkan human eror ataukah ada system error?

 

Sebagaimana media asing telah membahasnya, sistem perkeretaapian di negeri ini sudah uzur. Infrastrukturnya di bangun mulai zaman penjajahan Belanda. Itu artinya memang sudah lawas sekali sehingga wajar kalau sering terjadi error.

 

Menurut data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) selama tahun 2018-2022 menunjukkan bahwa selama 5 tahun terakhir belum ada proyek pengadaan kereta rel listrik (KRL), kereta rel diesel(KKD), maupun kereta rel diesel elektrik (KRDE). Terakhir pengadaan pada tahun 2017 sebanyak 4 unit.

 

Jadi sungguh miris, di saat pemerintah banyak membangun proyek-proyek infrastruktur yang sebenarnya tidak terlalu urgen, dengan dana yang sangat tinggi,namun infrastruktur perkeretaapian masih saja uzur, padahal seharusnya ini sektor yang harusnya diperhatikan, demi keselamatan semua pihak, baik penumpang, petugas maupun masyarakat sekitar.

 

Kapitalisme Penyebab tidak Terjaminnya Keselamatan Transportasi Publik

 

Belajar dari kejadian kecelakaan tersebut, menunjukkan urgen bagi pemerintah melakukan pembangunan jalur ganda kereta api, dengan harapan ke depan tidak akan terjadi kecelakaan , sebagaimana yang disampaikan Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Dwi Irianti Hadiningdyah lewat pesan teks, Jum’at (5-1-2024).

 

Pemerintah dalam hal ini perlunya mengevaluasi terhadap pengelolaan transportasi darat, agar tidak lalai dalam menjamin keselamatan publik dalam bertransportasi. Khususnya perkeretaapian yang dijalankan di negara ini.

 

Beberapa faktor penyebab terjadinya kecelakaan kereta api tidak hanya masalah jalur tunggal atau kesalahan manusia, namun juga tata kelola transportasi yang berlandaskan sistem kapitalisme neoliberalisme. Sistem ini menjadikan perkeretaapian sebagai tempat komersial untuk mendatangkan keuntungan materi. Neoliberalisme menjadikan hajat hidup publik tidak lebih sebagai komoditas (barang dagangan). Dan negara hanya berperan sebagai regulator, dalam bidang ekonomi hanya pada aspek pengaturan, pengawasan dan penegakan hukum. Pengelolaan transportasi darat diserahkan pada korporasi seperti PT Kereta Api Indonesia (Persero), KAI Commuter, dan KAI Logistik. Jadi wajar tujuannya mendapatkan keuntungan dari bisnis perkeretaapian, bulan untuk melayani masyarakat. Sehingga keselamatan bukan menjadi prioritas utama, yang terpenting bagaimana bisa memperoleh keuntungan materi.

 

Sungguh, sistem kapitalisme neoliberalisme terbukti tidak mampu dalam pengelolaan transportasi darat. Jaminan keselamatan masyarakat tidak mungkin bisa terwujud, maka ini sangat berbahaya bagi politik transportasi dalam sistem kapitalis. Sudah waktunya negara beralih dari sistem kapitalisme neoliberalisme kepada pengelolaan yang menjamin keselamatan dalam bertransportasi yang hakiki.

 

Pentingnya Mitigasi

 

Yang paling bertanggung jawab dalam tragedi kecelakaan adalah pemerintah. Wajib bagi pemerintah melakukan mitigasi, yaitu upaya untuk mengurangi resiko kecelakaan. Sebagai upaya memberikan keselamatan transportasi bagi semua warga negara. Untuk mewujudkan mitigasi bencana tidak hanya menaikkan anggaran kemudian permasalahan selesai, namun Pemerintah harus memahami bahwa kewajiban pemimpin yaitu bertanggung jawab terhadap rakyatnya, menjamin penuh keselamatan tiap warga negaranya.

 

Kejadian kecelakaan tidak hanya dlihat jumlah korban, baik yang meninggal atau korban luka- luka, namun bagaimana penguasa bertanggung jawab atas keselamatan setiap nyawa rakyat . Dimana kelak di akhirat pemimpin akan dimintai pertanggungjawabawan atas pengurusan terhadap rakyatnya.

 

Namun sayang, disistem kapitalisme saat ini kebijakan yang dibuat penguasa bukan untuk keselamatan rakyat, melainkan dengan perhitungan materi ( untung rugi). Sebaliknya terhadap pemilih modal pemerintah all out dalam mengurusinya. Sehingga pembangunan infrastruktur dengan dana triliunan hanya menguntungkan segelintir pemilik modal. Akibatnya, kecelakaan transportasi kerap terjadi. Karena Infrastruktur uzur yang sebenarnya tidak layak untuk dipakai. Rakyatlah yang menjadi korban akibat erornya sistem demokrasi kapitalisme yang diterapkan di negeri ini.

 

Islam Menjamin Keselamatan Transportasi

 

Dalam sistem Islam pengelolaan transportasi publik berlandaskan syariat Islam yang bersumber dari Sang Maha Pencipta. Transportasi bagi masyarakat merupakan kebutuhan dasar publik. Tidak hanya sebagai urat nadi perekonomian namun sebagai kebutuhan dasar manusia yang sudah seharusnya bisa dinikmati oleh masyarakat secara keseluruhan.

 

Khilafah memiliki tanggungjawab untuk memenuhi hajat publik, khususnya masalah transportasi Khilafah akan menjamin ketersediaan transportasi publik yang memadai. Karena dalam sistem Islam khilafah sebagai pelayanan, penanggung jawab dan pelindung (raa’in dan junnah ). Infrastruktur akan di kelola sendiri oleh negara, teknologi informasi (IT) juga disediakan dan dikelola oleh negara.

 

Rosulullah SAW bersabda,”Pemerintah adalah raa’in dan penanggung jawab urusan rakyatnya,” (HR Bukhari)

 

Saatnya sistem kapitalisme saat ini ditinggalkan, beralih ke sistem Islam yang jelas pengelolaannya menjamin keselamatan masyarakat dalam bertransportasi darat secara hakiki,”

Wallahu ‘alam bish-shawwab.

Views: 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *