Kapitalisme Akar Seluruh Masalah, Termasuk Permasalahan Pendidikan

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh : Sriyanti (Ibu Rumah Tangga)

Gemah ripah loh jinawi adalah julukan yang tersemat bagi negeri tercinta ini. Namun siapa sangka, tidak sedikit dari rakyatnya yang mengalami putus sekolah bahkan sama sekali tidak mengenyam pendidikan karena terkendala biaya. Padahal pendidikan merupakan salah satu dari kebutuhan dasar masyarakat, dimana pemenuhannya wajib ditanggung oleh negara.

Dalam rangka pemerataan pendidikan, pemerintahan Desa Cibiru Wetan Kecamatan Cileunyi. Membuka kesempatan khususnya bagi warga Cibiru Wetan yang putus sekolah, untuk meneruskan ke jenjang pendidikan SMA. Dengan mengikuti program SMA terbuka. Program ini dilakukan bekerja sama dengan pihak Dinas Pendidikan Jawa Barat melalui SMAN 1 Cileunyi.

Kades Cibiru Wetan Hadian Supriatna, menjelaskan program tersebut diperuntukan bagi warga yang mungkin putus sekolah, baik akibat biaya atau karena yang lainnya. Sementara sekretaris BPD Cibiru Wetan Hamid berharap, SMA terbuka ini dapat dimanfaatkan bagi warga yang ingin melanjutkan dan mendapatkan ijazah SMA setara dengan negeri. (Jurnal.id 08/2020)

Menilik fakta di atas, sungguh kita dapati bahwasanya tidak semua rakyat negeri ini bisa mengenyam pendidikan. Apa yang dilakukan pemerintah Desa Cibiru wetan ini merupakan salah satu upaya untuk membantu warga yang putus sekolah dan ingin melanjutkan pendidikan. Namun saat ini tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Program tersebut adalah langkah positif yang patut diapresiasi. Mengingat masih banyak masyarakat yang belum bisa menempuh pendidikan sampai selesai atau lulus. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya, sulitnya kondisi ekonomi keluarga serta mahalnya biaya pendidikan.

Semua kesulitan yang menimpa negeri ini. Termasuk apa yang terjadi dalam dunia pendidikan di atas, jika saja pemerintah beserta masyarakat negeri ini mau menyadarinya semua itu merupakan buah dari diterapkannya paradigma batil yaitu kapitalisme.

Sistem kapitalis yang dianut bangsa ini, telah mengakar pada setiap aspek kehidupan. Termasuk pada sistem ekonomi dam sistem pendidikan. Kedua aspek yang berlandaskan kapitalis tersebut sangat erat berkaitan. Sehingga ditengarai menjadi penyebab munculnya berbagai permasalahan, termasuk masalah putus sekolah saat ini.

Sistem ekonomi kapitalis adalah sistem perekonomian, dimana kebebasan diberikan secara penuh kepada siapa saja yang memiliki modal untuk melaksanakan kegiatan ekonomi. Dalam sistem ini peran pemerintah kurang maksimal bahkan tidak ada, di dalam mengatur perekonomian masyarakat terlebih pada biaya kehidupan. Maka wajar kondisi ekonomi masyarakan menjadi demikian sulit, terlebih pada kalangan menengah ke bawah. Karena kesejahteraan hanya didapat bagi mereka yang memiliki modal saja.

Biaya pendidikan yang semakin mahal, akan menjadi masalah bagi masyarakat yang kurang mampu. Sehingga mereka tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya. Padahal menurut UUD 1945, pasal 31 ayat 2 menyatakan bahwa, setiap warga negara, wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Namun tetap saja pemerintah tidak bisa berbuat demikian.

Tak hanya itu, kurikulum dalam sistem ini pun mengalami kekaburan. Pendidikan di sini tidak bisa membentuk kepribadian sebagaimana mestinya. Tak jarang kita disuguhkan berita-berita memilukan, yang mewarnai suramnya dunia pendidikan. Di sistem ini pendidikan hanya dijadikan penopang mesin kapitalisme. Dengan arahan untuk menyediakan tenaga kerja yang memiliki pengetahuan dan keahlian. Namun minim dari pemahaman nilai agama dan moral. Semua itu disebabkan karena kapitalisme, dibangun atas landasan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.

Sementara sistem Islam yang berlandaskan akidah yang sahih, mempunyai pandangan bahwa negara merupakan pengurus dan pelindung bagi rakyat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

“Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyatnya, ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Berpijak pada hadis di atas, maka negara harus hadir secara utuh dalam mengurusi segala kebutuhan rakyat, termasuk dalam hal pendidikan.

Dalam sistem Islam pula pendidikan dipandang sebagai kebutuhan dasar masyarakat. Keberadaannya pun sangat diprioritaskan, karena pendidikan akan mencetak generasi pengisi peradaban. Daulah akan menyediakan berbagai sarana dan prasarana penujang pendidikan yang terbaik, secara kualitas dan kuantitas. Seperti membangun sekolah, laboratorium, perpustakaan dan lain-lain. Semua fasilitas tersebut diakses masyarakat secara gratis. Karenanya tidak akan ada generasi yang putus sekolah, apalagi sampai tidak mengenyam pendidikan. Kurikulum yang digunakan pun berbasis akidah. Sehingga akan menghasilkan generasi berkepribadian Islam yang kokoh dalam keimanan dan ketakwaan serta terdepan dalam sains dan teknologi. Maka tak heran di masa kejayaannya, sistem pendidikan ini mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar yang hasil karyanya menjadi rujukan sepanjang masa. Tidak hanya itu guru dan para ilmuwan pun, mendapatkan kesejahteraan yang luar biasa dari daulah. Pembiayaan itu semua diambil dari Baitul Maal yang merupakan kas negara. Pos pemasukan Baitul Maal, salah satunya berasal dari hasil pengelolaan sumber daya alam yang dimiliki negara.

Itulah gambaran sistem pendidikan dalam Islam yang pernah terlaksana, selama kurang lebih 13 abad lamanya. Sistem ini tegak dalam bingkai khilafah yang menerapkan Islam secara menyeluruh. Maka kembali pada sistem Islam adalah satu-satunya solusi, untuk menyelesaikan seluruh permasalah termasuk dalam dunia pendidikan. Hingga akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Waallahu a’lam bi ash-sawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *