Rabu, Juli 22, 2026
Opini

Lebaran di Tengah Himpitan Kapitalisme 

Lebaran di Tengah Himpitan Kapitalisme 

Oleh. Jumrah Ummu Asiah 

Ramadan telah usai, milyaran umat Islam dunia tengah merayakan hari raya Idul Fitri 1447 H. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, pahala di penghujung Ramadan tampaknya tak begitu menggiurkan jika dibandingkan dengan suguhan diskon dari toko-toko baju maupun pernak-pernik lebaran lainnya. Ramadan yang merupakan momentum ibadah paling spektakuler dibandingkan dengan bulan yang lain, sayangnya kebanyakan umat Islam tak menyadari keutamaan dibaliknya.

 

Ramadan yang seharusnya diisi dengan kebaikan tapi tidak dalam sistem kapitalisme. Kapitalisme bahkan menyeret keluarga muslim untuk keluar dari substansi Ramadhan itu sendiri. Sehingga yang terjadi, ramadhan terlewat begitu saja tanpa membekas sedikitpun di relung jiwa umat Islam. Seketika wajah ramadhan berubah. Saat Ramadan hanya dijadikan wadah mencari rupiah untuk tampil mewah saat lebaran.

 

Padahal tak dipungkiri, dalam himpitan ekonomi kapitalistik hari ini. Di mana kebutuhan hidup masyarakat sulit didapat, tak ada jaminan untuk bertahan esok. Keluarga kelas menengah ke bawah terseok-seok mencari nafkah. Sehingga banyak diantara mereka yang mengaku terpaksa berutang berbasis riba dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan saat lebaran.

 

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total utang pinjol nasional menjelang Ramadan dan Lebaran 2025 mencapai lebih dari Rp80 triliun atau naik lebih dari 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut tercatat hingga akhir Februari 2025, tepat sebelum Ramadan dimulai (Radarbandung.id, 20/02/2026).

 

Tingkat pengangguran yang tinggi, mahalnya biaya hidup dan gaya hidup yang dipamerkan publik pigur di layar kaca tampaknya cukup menjadi alasan yang sengaja dibuat oleh pihak yang berutang untuk tetap hidup dalam kepungan sistem kapitalisme hari ini.

 

Apalagi ditambah abainya negara dalam menjamin kebutuhan hidup mereka. Negara tak mampu melepaskan mereka dari jeratan pinjol yang terus membayangi keluarga-keluarga muslim sekarang. Kesejahteraan hidup masih jauh dari harapan. Karena yang ada bukan kesejahteraan melainkan kesenjangan.

 

Kapitalisme menobatkan yang kaya semakin kaya dan yang miskin tambah merana. Harta hanya berputar pada segelintir orang saja. Sehingga wajar, banyak yang terhimpit dan tercekik dalam sistem ini.

 

Berbeda dengan sistem Islam yang sangat memuliakan manusia. Sistem utang piutang berbasis riba haram hukumnya. Negara akan membabat habis praktek ribawi di tengah masyarakat dengan alasan apapun.

 

Negara akan memastikan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya dengan membuka lapangan pekerjaan, menjamin kebutuhan hidup dan merubah cara pandang tentang hidup bahwa bermewah-mewahan saat lebaran bukanlah kebiasaan yang baik bagi seorang muslim. Karena yang paling baik di hadapan Allah adalah bukan yang paling banyak hartanya, melainkan siapa yang paling bertaqwa.

 

Negara dalam sistem Islam, benar-benar menjadi ra’in atau pengurus bahkan pelayan bagi rakyatnya. Sehingga tidak ada yang dizolimi apalagi terjerumus dalam dosa riba yang membawa petaka di dunia dan di akhirat.

Wallahu a’lam bish-shawwab

Views: 9

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *