Waspada, Toleransi Ala Barat Menabrak Syariat

Oleh: Dede Yulianti (Member Revowriter Bogor)

Kontroversi senantiasa terjadi di hari raya umat Kristiani di negeri ini. Ironis bagi umat Islam, penduduk mayoritas Islam terbesar di dunia ini, selalu menjadi bulan-bulanan. Tuduhan intoleran langsung disematkan manakala ada penolakan memberi ucapan selamat Natal dan melibatkan diri dalam perayaannya. Seperti menggunakan simbol-simbol khas Natal.

Menteri Agama Fachrul Razi menyatakan, mengucapkan selamat Natal kepada penganut Nasrani tidak bakal melunturkan akidah seseorang Muslim. Ia pun menjelaskan siapa pun boleh berpendapat jika tidak boleh mengucapkan selamat Natal. Namun ia meminta pendapat itu tidak dipaksakan kepada orang lain. Satu suara, Pengurus Nahdhatul Ulama meyakini bahwa ucapan selamat tersebut sebagai ungkapan empati dan dalam rangka merekatkan hubungan kebangsaan. Elemen umat yang mengusung ide pluralisme nyaring buka suara, seperti Setara Institut.

Tak hanya lewat ucapan dan pemakaian simbol-simbol agama, para santri turut meramaikan perayaan Natal tahun ini di Semarang. Dilansir dari situs berita Antaranews, tabuhan rebana para santri dari Pondok Pesantren Roudlotul Solihin mengiringi prosesi misa Natal di Gereja Katolik Mater Dei, Kelurahan Lamper Kidul, Kota Semarang. Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Solihin KH Abdul Qodir mengatakan bahwa para santrinya ikut memeriahkan perayaan Natal tahun ini untuk meneguhkan kembali semangat kebersamaan dan keberagaman, selaras dengan visi pesantren untuk mencetak santri inklusif yang mau menerima perbedaan.

Sungguh bentuk toleransi yang menabrak batas syariat. Benarlah apa yang dikabarkan Rasulullah Saw. “Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang biawak (yang sempit sekalipun), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim)

Pluralisme Racuni Aqidah Umat Islam

Pandangan yang sangat sempit dengan menjadikan kesedian umat Islam mengucapkan selamat natal sebagai penilaian bertoleransi. Hal sebaliknya justru dialamatkan pada umat Islam manakala mereka beribadah puasa. “Hormati yang tidak berpuasa.” Begitu ungkapan saat tempat-tempat makan ditutup pada siang hari. Mengapa tidak berlaku bagi kaum muslimin, bukan yang merayakan Natal yang menghormati orang-orang yang tidak merayakannya? Inkonsistensi yang sangat merugikan umat Islam.

Umat Islam terus digempur dengan berbagai tudingan, agar sikap beragama mereka mengikuti arahan sekularisme. Bagi umat Islam yang rela mengikuti ajaran sekularisme, pluralisme dan liberalisme disematkanlah sanjung dan puji. Islam moderat gelarnya. Berbeda dengan umat Islam yang berpegang teguh pada syariat, memurnikan aqidahnya, serta bersungguh-sungguh dalam merealisasikan Islam kaffah. Stigma negatif dilekatkan padanya, fanatik, fundamental, juga radikal. Keberadaannya dituduh sebagai ancaman bagi keberagaman. Benarkah demikian?

Toleransi bukanlah sinkretisme. Mencampuradukkan ajaran agama, dengan keterlibatan dalam perayaaan hari besar agama lain. Sinkretisme jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Sebagaimana firman Allah SWT, “Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Jangan pula kalian menyembunyikan kebenaran itu, sedangkan kalian mengetahui.”
(TQS al-Baqarah: 42).

Sinkretisme tak lain merupakan bagian dari pluralisme yang digencarkan kepada umat Islam. Paham yang menganggap setiap agama benar. Nyata-nyata bertentangan dengan firman Allah SWT dalam surat Ali Imran, bahwa agama yang diridhai di sisi-Nya hanyalah agama Islam.

Inilah racun yang menggerogoti tauhid seorang muslim. Sistem kehidupan saat ini bukan hanya gagal memperkokoh aqidah umat Islam, bahkan secara sistematis merusak pondasi keimanan. Tujuannya tak lain, menjauhkan Islam dari umatnya. Agar imperialisme Barat terus menguasai. Sehingga kepentingannya tetap terjaga.

Islam Mempraktikkan Toleransi Hakiki

Islam telah mengajarkan toleransi hakiki, dengan memperlakukan manusia secara adil. Bermuamalah dengan baik kepada siapa saja. Tentu saja batasnya jelas, dalam perkara di luar aqidah dan ibadah.

Rasulullah Saw teladan utama, begitu mulia akhlak beliau dalam memperlakukan manusia. Menyuapi kakek tua buta Yahudi yang terus saja mencaci maki beliau, setiap hari. Menjenguk orang kafir yang selalu mengganggu beliau. Begipula saat beliau menjadi kepala negara, setiap warganya mendapatkan hak yang sama. Padahal penduduk Madinah saat itu ada yang Muslim, Nasrani dan Yahudi. Mereka dibiarkan beribadah dengan aman. Kerukunan terwujud nyata.

Kepemimpinan Rasulullah Saw dilanjutkan para Khalifah. Sikap toleransi pun terpelihara sepanjang Khilafah Islam menaungi dunia. Sepenggal kisah Khalifah Umar bin Khattab saat membebaskan Jerusalem. Dibawah kepemimpinan Umar non-Muslim dilindungi dan diatur hak serta kewajiban mereka.

Umar Amirul Mukminin memberi jaminan perlindungan bagi nyawa, keturunan, kekayaan, gereja dan salib, dan juga bagi orang-orang yang sakit dan sehat dari semua penganut agama. Gereja mereka tidak akan diduduki, dirusak atau dirampas. Mereka diwajibkan membayar jizyah. Sebagai ganti perlindungan terhadap diri, anak cucu, harta kekayaan, dan pengikutnya.

Sophorinus, pemimpin kaum non muslim juga menyatakan jaminannya. “Kami tidak akan mendirikan monastery, gereja, atau tempat pertapaan baru di kota dan pinggiran kota kami; Kami juga akan menerima musafir Muslim ke rumah kami dan memberi mereka makan dan tempat tinggal untuk tiga malam. Kami tidak akan menggunakan ucapan selamat yang digunakan Muslim; kami tidak akan menjual minuman keras; kami tidak akan memasang salib di jalan-jalan atau di pasar-pasar milik umat Islam.” (Al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk; juga History of al-Tabari: The Caliphate of Umar b. al-Khattab)

Walhasil, cukuplah menjalankan Islam secara kaffah agar kehidupan antarumat beragama rukun dan harmoni. Bukan dengan sikap toleransi ala Barat yang menabrak syariat. []

-Photo hanya Ilustrasi-

2 thoughts on “Waspada, Toleransi Ala Barat Menabrak Syariat

  • 26 Desember 2019 pada 10:01
    Permalink

    Semoga semua kalangan umat muslim sadar akan batas toleransi, terutama para pemimpin

    Balas
  • 1 Januari 2020 pada 21:28
    Permalink

    Maaf hanya untuk kita renungkan : ???

    SELAMAT TAHUN BARU

    Terompet adalah hasil peradaban tua, yang secara teologis disandangkan kepada malaikat Israfiel sebelum di klaim Yahudi—Termasuk mercon, kembang api, gamis atau cadar bahkan pedang hingga pistol juga hasil peradaban setiap era —sayang bila ditiadakan. Perayaan tahun baru bakal sepi tanpa terompet dan mercon, sebagaimana hari raya Ied sepi tanpa takbir keliling, bedhug dan kendhuri. Gamis dikaitkan radikal, terompet dikaitkan Yahudi adalah pikiran ambigu.

    *^^^*
    Jam tangan Rolex temuan Yahudi tengik Hans Wilsdorf pada tahun 1905 di pusat Kresten London itu juga hasil peradaban, halal dipakai bagi yang mampu beli dan haram bagi yang tak berkemampuan. Thomas Alva Edhison yang dijuluki ’si penyihir menlo park’ ini menemukan lampu yang menemani para salihin ’nderes’ kitab suci al-Qur’an—

    Tahun masehi adalah hasil peradaban, dihitung sejak kelahiran nabi Isa al Masih meski tak henti dipertengkarkan , tahun Hijriah juga sebagai penanda dan awal hitung tahun dimulai ketika Nabi saw hijrah ke Yatstrib—yang pertama menggunakan matahari dan yang kedua menggunakan rembulan sebagai hitungan—

    Matahari dan Rembulan adalah rahmat Tuhan bagi semesta alam. Pada gerhana matahari kita diperintah shalat kusuf, pada gerhana bulan kita juga diperintah shalat khusuf, keduanya hanyalah sebagai tanda kebesaran Allah bukan karena peristiwa lahir atau matinya seseorang.

    *^^^*
    Dasi dan jas adalah hasil peradaban Kresten Eropa, memakainya tidak lantas menjadi Kresten—makan bakso dan pangsit atau nasi goreng tidak lantas menjadi Konghucu sebagaimana makan nasi biryani tidak lantas menjadi Arab—mengajar dengan papan tulis, bangku dan kapur tulis tidak lantas menjadi paroki—

    Larry Page dan Sergey Brin saat masih mahasiswa Ph.D. Keduanya membangun perusahaan geogle yang mengubah dunia—hampir semua manusia tidak mengenal ras, agama, suku atau budaya apapun dibawah cengkeramnya, para ulama dari yang paling liberal maupun yang paling fundamentalis memakai jasa dua orang Kresten ortodoks ini tanpa tanya. Geogle selalu menemani hingga saat beliau-beliau shalat—

    Bagi saya peradaban adalah niscaya—baju melorot bisa membimbing ke neraka bila disertai sikap sombong—bahkan perilaku syirik bisa dilakukan ditempat paling suci : Bait Allah di Mekkah—‘Kamu hanya batu … ‘ kata Umar Ibnul Khattab saat hendak mencium Hajar aswad—aku tidak akan menciummu jika Nabi saw tidak melakukannya —lanjut khalifah Umar untuk menjaga hati dan umatnya agar tidak melakukan perbuatan syirik.

    *^^^*
    Manarah (menara) adalah hasil peradaban Majusi, tempat orang Majusi penyembah api menaruh api untuk disembah setiap pagi dan petang—tapi elok saat dibangun di samping masjid dan efektif untuk menaruh pengeras suara adzan sebagai penanda masuk waktu shalat—begitu pula dengan kubah yang kemudian menjadi ciri bangunan masjid adalah arsitektur di istana Romawi Kuno penganut pagan—

    Bahkan Toa mesin pengeras suara bikinan Jerman awalnya adalah untuk melayani para pelayan Tuhan di Gereja Katedral agar Khutbahnya bisa di dengar seluruh jemaat. Sebelum kemudian ditaruh di masjid -masjid itu jauh lebih keras ketimbang suara terompet yang dibuat kang Sedjo setahun sekali itu —-tak adil jika terompet hasil buah tangan kang Sedjo di-tasyabbuh-kan, sementara geogle simbol peradaban kafer Eropa modern dihalalkan karena kebutuhan—kenapa tebang pilih —jika di tasyabbuh kan kenapa tidak semua sekalian —?

    Selamat tahun baru 2020 Masehi —mari bersyukur, bertakbir, beristigfar dan memperbanyak berbuat bajik —Aamiin

    @nurbaniyusuf
    Komunitas Padhang Makhsyar

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *