Waspada! Orang Tanpa Gejala Covid-19 Kian Merajalela

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Shinta Putri- (Aktivis Muslimah)

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan 66 persen dari kasus positif Covid-19 baru di Ibu Kota merupakan Orang Tanpa Gejala atau OTG. Para OTG itu ditemukan berdasarkan pelacakan kasus secara aktif atau active case finding yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan, baik rumah sakit, klinik, maupun puskesmas. (Tempo.co)

Sejumlah wilayah di Indonesia juga mengalami hal yang sama, bertambahnya kasus Covid-19 kebanyakan tanpa mengalami gejala terkena virus. Kasus Covid-19 di Jakarta peringkat nomor dua setelah Jawa Timur. Semenjak kebijakan new normal dijalankan oleh pemerintah angka kasus Covid-19 terus merangkak naik.

Update terbaru dari Kompas.com, terkonfirmasi positif Covid-19 78.572, di rawat 37.226, meninggal 3.710, sembuh 37.636. Peningkatan kasus Covid-19 sekarang ini di dominasi oleh orang tanpa gejala (OTG) atau dalam dunia medis di sebut asimtomatik yang artinya suatu penyakit yang sudah positif diderita oleh seseorang, tetapi tidak memberikan gejala klinis apapun terhadap orang tersebut.

Orang tanpa gejala Covid-19 tentunya sangat mengkhawatirkan kita semua, sehingga tidak bisa membedakan mana yang orang dengan positif Covid -19 dan yang tidak. World Health Organization (WHO) kembali memperbarui ringkasan ilmiah transmisi SARS-COV-2 yang diterbitkan sejak 29 maret 2020, isinya terkait Covid-19 bisa menular melalui udara dan pola pencegahannya, sebelumnya riset dari 239 ilmuwan dari beragam negara mendapati virus corona bisa menular melalui udara, hal ini berdasarkan riset mereka yang bertajuk It is time to address Airborne transmission of Covid-19.

Temuan-temuan baru terhadap penularan Covid-19 seharusnya menjadikan pemerintah melakukan tindakan yang nyata untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Dan hasil riset tersebut membuat pemerintah semakin waspada bahaya Covid-+9 bisa mengintai siapa saja. Apalagi kebijakan new normal nyatanya membuat masyarakat bebas keluar kemana aja, tanpa mengindahkan protokol kesehatan padahal virus ini masih sangat berbahaya. Masyarakat yang sudah terlanjur menganggap virus ini telah usai dengan adanya kebijakan new normal, meskipun pemerintah sudah memberi edukasi dan himbauan untuk tertib menerapkan protokol kesehatan tetap tidak di hiraukan oleh masyarakat.

Pada awal penanganan virus yang salah akhirnya menjadi semakin kompleks, pemerintah sangat lamban dan terkesan meremehkan pendemi ini yang seharusnya bisa terselesaikan lebih awal. Dan akhirnya sampai berbulan-bulan tidak menemukan solusi yang tuntas. Justru malah kasus Covid-19 semakin meningkat dan membahayakan nyawa seluruh masyarakat Indonesia.

Pemberlakuan lockdown yang dirasa gagal oleh pemerintah karena mekanisme yang tidak tepat dan membuat seluruh sektor terhenti, ekonomi terancam kolaps, badai pengangguran dan ancaman resesi kian didepan mata. Belum lagi penambahan jumlah kasus dalam sehari bertambah sekitar 1.500 kasus Covid-19.

Semua rekomendasi dari pemerintah untuk tetap melakukan protokol kesehatan dengan jaga jarak, cuci tangan dan pakai masker gagal menghentikan laju bertambahnya kasus. Karna hal itu di kembalikan lagi kepada kesadaran dan kehati-hatian individu masing-masing sehingga himbauan tersebut diabaikan oleh masyarakat. Sehingga wajar klaster baru terus bermunculan. Benarkah pemerintah saat ini lebih mementingkan ekonomi daripada nyawa rakyat nya?

Pusat kebijakan suatu negara di tentukan oleh pemerintah, jika kebijakan yang diambil dengan tepat tentunya seluruh rakyat di negeri itu akan mengikuti dengan baik dan patuh mengikuti dengan serentak tanpa alasan ini itu. Sedangkan kebijakan yang dilakukan pemerintah antara pusat dengan daerah berbeda-beda sesuai dengan kondisi wilayah tersebut, sebagai contoh penerapan PSBB yang berlainan disetiap daerah. Inilah bukti negara yang hanya sebagai regulator bukan sebagai operator, tetapi jika kebijakan itu dilakukan setengah hati maka yang terjadi akan menimbulkan masalah yang baru.

Sistem yang dipakai oleh pemerintah saat ini adalah sistem kapitalisme liberalis yang mana kebijakan yang diambil berpihak pada kepentingan penguasa dan pengusaha alhasil yang terjadi seperti ini, semakin parah dan belum ditemukan solusi yang tuntas mengatasi pandemi virus Covid-19.

Bagai langit dan bumi jika pemerintah saat ini menggunakan sistem Islam dalam mengurus pemerintahan dalam bingkai khilafah, dimana pemimpin itu sebagai raa’in (pelindung) dan junnah (penjaga). Negara mempunyai peran yang penting dalam melindungi dan menjaga rakyat serta menjadi garda terdepan untuk mengurusi segala problematika rakyatnya baik di dalam negeri maupun luar negeri. Apalagi yang mengancam nyawa kaum muslimin seperti wabah.

Tentunya dasar dalam mengatur urusan pemerintah adalah dengan hukum syariat Islam sesuai dengan Al-Qur’an dan hadist. Dalam khilafah untuk memutus mata rantai pandemi melakukan lockdown atau penguncian wilayah yang terkena wabah. Seperti diriwayatkan dalam hadits berikut ini:

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Tentunya bukan hanya asal lockdown, negara berkewajiban memberi bantuan dan subsidi kebutuhan pokok. Lockdown pun dilakukan secara total sehingga waktu lockdown tidak terjadi dengan jangka waktu yang lama. Kepada orang yang sakit negara segera mengambil tindakan pengobatan dan pelayanan yang gratis sampai benar-benar dinyatakan sembuh.

Memfasilitasi para ilmuwan dan ahli kesehatan untuk mengadakan riset baik alat-alat laboratorium yang canggih serta dana yang di butuhkan untuk segera menghasilkan vaksin ataupun obat penangkalnya. Dana negara dari mana tentunya dari pengelolaan Baitul Maal pendapatan negara yang benar, pemasukan negara dari pengelolaan sumber daya alam yang mandiri, dari fa’i, jizyah dan kharaj semua di kelola negara untuk kemaslahatan rakyat seluruhnya.

Sistem yang berasal dari Sang Maha kuasa tentunya untuk kebaikan seluruh makhluk penghuni dunia ,karena Allah Swt. tahu apa yang dibutuhkan oleh hamba-hamba-Nya. Untuk saat ini kita hanya berharap pertolongan dari Allah Swt, kondisi yang tidak ada kepastiannya serta nyawa terancam, kemungkinan terkena Covid-19 semakin terbuka lebar hanya tawakal kepada Allah saja yang bisa kita lakukan. Saatnya khilafah mengganti sistem kapitalisme yang batil ini.

Wallahu a’lam bishshowab

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.