Waspada Arus Kencang Moderasi!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh Khaulah (Aktivis BMI Kota Kupang)

 

Persoalan radikalisme dan terorisme di negeri ini menempati posisi teratas yang wajib diberangus. Seolah menjadi masalah utama yang melahirkan masalah-masalah lainnya. Seolah menjadi satu-satunya masalah yang patut difokuskan. Ya, radikalisme dan terorisme dipandang oleh beberapa pihak sebagai masalah serius dan berbahaya karena menyeret anak-anak.

Hal ini diperkuat dengan kejadian-kejadian, seperti bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya pada 2018 silam. Apalagi melibatkan empat orang anak yang notebenenya masih sekolah. Bahkan, yang menyedihkan dua diantaranya masih berada pada tingkatan Sekolah Dasar.

Oleh sebab itu, patut mencari solusi agar anak-anak tak terseret dalam arus radikalisme dan terorisme. Salah satu solusinya tersaji dalam penelitian yang dilakukan oleh Benny Afwadzi yang berjudul “Membangun Moderasi Beragama dengan Parenting Wasathiyah dan Perpustakaan Qur’ani di Taman Pendidikan Al-Qur’an”, ialah memberikan pengajaran tentang moderasi Islam (www.research.net).

Ya, parenting moderasi beragama dianggap sebagai solusi dari masalah radikalisme dan terorisme. Hal ini karena akan membentuk masyarakat yang berpandangan moderat. Tentu saja dimulai dari mendidik anak usia dini dengan cara berpikir moderat-islami.

Tak berhenti di situ, Badan Kesatuan Bangsa Kota Yogyakarta juga mengenalkan model parenting atau pola asuh kebangsaan. Dimana sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan partisipasi keluarga dalam menumbuhkan semangat dan jiwa nasionalisme anak sejak usia balita (antaranews.com, Selasa 02 November 2021).

Lahirnya berbagai model parenting seperti ini menegaskan bahwa arus moderasi beragama kian masif disuarakan. Anak usia dini pun menjadi sasaran empuk pola pengasuhan berbasis moderasi. Padahal anak-anak di usia seperti ini wajib mendapat nilai dasar tauhid yang bersih dari unsur yang mengotorinya. Anak-anak harusnya mendapat pengasuhan yang berlandaskan akidah Islam.

Dengan parenting berbasis kebangsaan dan wasathiyah, anak-anak justru diajarkan ide liberal. Anak-anak akan menjadi pribadi moderat, artinya yang mau menerima ide-ide Barat seperti pluralisme, feminisme, kesetaraan gender, demokrasi dan lainnya.

Sejatinya, moderasi beragama adalah mega proyek yang dilancarkan penjajah Barat, yang bertujuan memerangi Islam politik. Tujuannya jelas, untuk menyelaraskan agama Islam dengan nilai-nilai yang lahir dari peradaban Barat. Singkatnya, bisa dikatakan memaksa agar Islam tunduk pada Barat.

Karena pada hakikatnya, dengan moderasi beragama umat akan jauh dari Islam kafah. Umat akan mengalami krisis identitas, islamofobia, menganggap Islam bukan solusi dari persoalan yang ada. Bahkan parahnya, menganggap semua agama sama, enggan berjuang untuk diterapkannya Islam kafah yang berbuntut pada menghalangi persatuan dan kebangkitan umat.

Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus peradaban terkhusus sebagai rahim lahirnya generasi Islam berikutnya, kita harus lebih peka, wapada, gesit, dan berikhtiar lebih. Mesti memahami Islam bukan hanya sebagai agama ritual tetapi juga sebagai ideologi. Selain itu, mengungkap bahwa moderasi beragama adalah proyek Barat untuk melemahkan kaum muslim.

Lebih lanjut, berikhtiar menyadarkan umat tentang bahaya Islam moderat walau disusupi kata yang terkesan Islami. Karena sejatinya, di rahim kitalah lahir generasi yang menoreh gelap atau cerahnya peradaban dunia. Di tangan kitalah generasi muda Islam akan dibentuk sebagai generasi pejuang atau pengkhianat peradaban. Generasi yang memperjuangkan Islam atau generasi yang bekerjasama dengan Barat untuk melumpuhkan Islam.

Wallahu a’lam bishshawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.