Wahai Guru, Hindari Menjadi Toxic Teacher!

Oleh: Maulinda Rawitra Pradanti, S.Pd (Praktisi Pendidikan)

 

Guruku tersayang, guru tercinta.
Tanpamu apa jadinya aku.
Tak bisa baca tulis, mengerti banyak hal.
Guruku terima kasihku.

Lirik lagu di atas sering dinyanyikan saat hari guru atau saat perpisahan sekolah. Tak ayal jika kita mendengar sedikit liriknya, langsung saja kita bisa melanjutkan sampai lirik terakhir. Inilah salah satu bentuk ucapan terima kasih murid kepada gurunya karena sudah membimbingnya.

Pendidikan adalah hal yang penting dalam tumbuh kembang anak, begitu juga halnya dengan seorang guru. Guru yang baik adalah yang rela menguras pemikirannya, waktunya, serta hidupnya demi membimbing anak didik hingga mereka paham tentang arti kehidupannya dan mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di kehidupan ini.

Mengerahkan segala daya upaya demi mencerdaskan generasi juga merupakan amalan yang baik sebagaimana para nabi dan ulama-ulama. Apapun sebutan si pendidik, baik itu guru, muallim, mudarris, atau yang lain, mereka berhak untuk dimuliakan dan disegani.

Namun, kondisi ini berbeda jika si guru memiliki beberapa sifat atau sikap yang beracun. Istilah kerennya adalah toxic teacher. Posisi guru yang memiliki sikap yang beracun tentu tidak layak dijadikan panutan. Padahal guru adalah sosok yang setiap hari dilihat oleh anak didik selama mereka berada di sekolah.

Setidaknya, perilaku toxic teacher akan nampak pada beberapa hal, yaitu sikap emosional yang diluapkan kepada anak didik, suka bergosip, bergaul dengan teman kerja di luar kebiasaan umum, tidak memperhatikan adab, dan berharap imbalan.

Emosional sang guru yang berlebihan akan nampak seperti orang yang sedang kesetanan. Anak didik akan mudah melabeli sikap si guru dengan label guru galak, kasar, keras, atau yang lebih familiar adalah guru killer.
Mungkin sebagian guru akan senang jika disebut guru killer, karena menganggap bahwa anak didik akan lebih mendengarkan perkataan seorang guru killer. Namun yang terjadi justru pelajaran akan sulit diterima atau tidak diminati oleh anak didik. Bukankah Rasulullah adalah guru yang ramah dan baik, bahkan ketika menegur seorang Arab Badui yang kencing di tembok Masjid Nabawi.

Masalah yang terjadi pada sang guru, selayaknya tidaklah dibawa ke sekolah, apalagi ditampakkan kepada anak didik. Usahakan untuk selalu tersenyum di hadapan anak didik. Munculkan positive vibes agar anak selalu termotivasi melakukan kebaikan meski dalam hal kecil.

Begitu juga dengan perilaku guru yang suka bergosip. Meski dengan rekan sejawat, namun jika yang digosipkan adalah perkara-perkara keburukan apalagi secara terang-terangan dihadapan anak didik, maka ini akan meracuni pemikiran anak. Anak-anak akan menganggap bergosip dibolehkan sebagaimana yang dilakukan oleh gurunya. Bukan disegani, justru perilaku ini akan menurunkan martabat si guru.

Seorang guru juga wajib menjaga adab. Terlebih ketika bergaul dengan lawan jenis. Islam telah jelas mengatur interaksi antara pria dan wanita. Jika bukan mahrom, maka ada batasan yang harus dijalankan, salah satunya adalah berkomunikasi. Tidak dibolehkan antara pria dan wanita saling berkomunikasi pada perkara-perkaran yang tidak penting, apalagi dengan alibi biar lebih akrab sehingga bebas untuk bercanda ria.

Apabila komunikasi ini sampai kebablasan, misal sampai memanggil “say” atau “beib”, dan ini dilakukan di hadapan anak didik, bagaimana respon mereka. Bisa jadi, adab dalam berkomunikasi yang diajarkan di dalam Islam akan mereka tinggalkan. Kemudian menggantinya dengan sebutan-sebutan sayang seperti yang guru mereka lakukan. Naudzubillah min dzalik.

Last but not least, defisit rasa ikhlas. Keikhlasan adalah kunci keberhasilan dalam pendidikan. Jika semua usaha guru hanya dinilai berdasarkan materi semata, maka ketika guru mengalami kekecewaan atas harapannya, maka tidak menutup kemungkinan jika guru akan menuntut lebih kepada anak didik dan memaksa mereka untuk memenuhi keinginan si guru.

Guru di sekolah layaknya pemimpin bagi anak didik. Para guru telah diamanahi para peserta didik untuk diriayah dan dipenuhi kebutuhan pendidikannya. Bukan sekedar memberikan materi pelajaran dan menagih tugas-tugas anak didik saja, namun guru juga harus memperhatikan jiwa dan mental para peserta didik. Memberikan solusi ketika anak didik merasa kesulitan atas materi pelajarannya. Disinilah sisi keikhlasan sang guru itu diuji.

Para guru memang bukan pribadi yang sempurna, adakalanya mereka lupa dan melakukan sebagian sikap-sikap beracun tersebut. Oleh karena itu, para guru juga akan selalu menjadi pencari ilmu dalam kehidupannya. Memperbaiki setiap sikap setiap hari dan selalu berusaha mencari inovasi pembelajaran, sehingga guru akan tetap semangat dalam meriayah anak didik mereka.

Tetaplah ikhlas dan semangat dalam mendidik wahai para guru. Karena kedudukanmu sangatlah terpuji di hadapan Allah. Berharaplah pahala hanya kepada Allah semata.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya. Kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh”. (HR. Muslim)
Wallahu a’lam bish showab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *