Visi Mulia Abu Darda Setelah Muslim

Oleh: Sri Rahayu

_Sungguh ada tiga tamu yang datang tak membuat janji : rezeki, takdir dan kematian._

Alhamdulillah nikmat tiada tara hingga detik ini kita masih diberi waktu. Untuk menunaikan aktifitas membutuhkan waktu. Kita bisa membaca, menulis, berbisnis, menuntut ilmu, dakwah dan lain-lain bermodal waktu. Tidakkah kita bayangkan seandainya waktu kita berhenti dititik ini? Ya sekarang, detik ini. Tentu kita tak bisa beramal shalih lagi. Tak dapat meraih keutamaan menuntut ilmu, berdakwah dan menyebar kebaikan. Ya Allah jadikanlah bagi kami rezeki yang halal, takdir yang indah dan wafatkan kami dalam keridhaan-Mu.

Sungguh takdir yang indah telah ada pada diri seorang sahabat Abu Darda yang bernama aslinya Uwaimir bin Malik al-Khazraji. Bahkan tak hanya takdir yang baik, tetapi juga limpahan rezeki dan wafat dalam keridhaanNya.

Sebelum menyatakan dua khalimat syahadat, Abu Darda bersahabat dengan Abdullah bin Rawahah. Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dan membangun daulah Islam di Madinah, dua orang sahabat itu menempuh jalan berbeda.

Abdullah Bin Rawahah bersegera masuk Islam bahkan ikut dalam peperangan bersama kaum muslimin. Pada Perang Badar hingga dalam kancah peperangan yang sangat mencekam di Mu’tah. Peperangan yang sejak keberangkatan pasukan, Rasulullah Saw telah berpesan. “Jika Zaid bin Haritsah gugur, maka Ja’far bin Abi Thalib menggantikan posisinya. Jika Ja’far gugur, maka Abdullah bin Ruwahah mengambil posisinya memimpin pasukan. Keutamaan besar hingga berakhir syahid telah diraih seorang Abdullah bin Rawahah, teman dekat Abu Darda.

Jalan berbeda ditempuh Abu Darda yang masih tersibukkan dalam gelimangan harta perniagaan. Abu Darda tetap terbungkus dalam kesyirikan yang dalam. Bahkan di rumahnya dia punya tempat istimewa. Tempat khusus untuk sesembahanya. Setiap hari dia perlakukan berhalanya dengan istimewa. Dia beri pakaian mahal dan minyak wangi yang memancarkan aroma khas berkelas.

Ketika masih hidupnya, diam-diam Abdullah bin Rawahah menghancurkan berhala Abu Darda. Sungguh Abu darda marah luar biasa. Rupanya Abdullah bin Rawahah sangat menginginkan teman akrabnya ini meninggalkan agama nenek moyang dan beralih ke cahaya Islam.

Abu Darda memahami maksud temannya. Abdullah bin Rawahah menginginkan dirinya menyadari, berhala yang dia puja itu tak dapat berbuat apa-apa. Bahkan hanya untuk membela dirinya. Demikianlah kesadaran Abu Darda terbuka lebar. Abdullah Bin Rawahahpun mengantarkan Abu Darda menghadap Rasulullah Saw dan masuk Islam.

Dari titik inilah Abu Darda berubah 100%. Abu Darda saudagar bergelimang harta mulai melepaskan asesoris yang menghiasi kehidupannya. Pada waktu itu ia adalah seorang saudagar kaya yang sukses. Dan sebelum masuk Islam, ia menghabiskan sebagian besar umurnya dalam dunia perniagaan,

Ia sangat menyesal menjadi orang yang terlambat masuk Islam. Tetapi ia sangat bersyukur, Allah telah memberikan kebaikan dan keberkahan padanya. Masih ada waktu untuk menebus keterlambatannya yang sangat jauh. Abu Darda menjalani hidup baru sebagai muslim yang taat. Visi hidup Abu Darda berubah total. Beliau sangat fokus menimba ilmu. Bahkan ketika orang-orang bertanya tentang hartanya yang berlimpah, beliau menjawab, “kita punya kampung di sana. Setiap punya harta langsung dikirimkan ke kampung sana. Karena menuju kampung akhirat jalannya berliku dan menanjak maka untuk memudahkan berjalan ke sana kami menguranginya.

Beliau sangat mengutamakan ilmu dari ahli ibadah. Ahli ibadah sudah pasti memperoleh keutamaan yang sangat besar. Karena seluruh hidupnya untuk beribadah kepadaNya. Tentu memperoleh pahala berlimpah.

Beliau mengatakan keutamaan ibadah tak dapat dibandingkan dengan keutamaan ilmu. Karena dari ilmulah seorang hamba menjadi pewaris nabi. Ilmu adalah penerang kehidupan. Bahkan malaikat meletakkan sayap kepada para penuntut ilmu. Seorang berilmu akan dimintakan istigfar semua yang ada di langit dan bumi sampai ikan-ikan di lautan. Keutamaan alim (orang berilmu) dibandingkan abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan purnama bersama bintang-bintang yang ada. Ketika bulan purnama terang cahayanya maka keberadaan bintang nyaris tak terlihat. Redup dan baru terlihat ketika kita coba curahkan untuk melihatnya. Demikianlah keutamaan orang berilmu. Dan Abu Darda menebus keterlambatannya dengan fokus menerima warisan Rasulullah. Beliau sangat mengutamakan ilmu. Karena Rasulullah Saw tidak mewarisi dinar dan dirham, tetapi mewarisi ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil warisan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, berarti telah mengambil bagian yang banyak.

Demikianlah penyesalan Abu Darda atas keterlambatannya masuk Islam terbayar dengan ketaatan kepadaNya. Semoga bisa menjadi pengingat kita agar selalu bersegera dalam kebaikan. Aamiin.Wallahu a’lam bishawab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *