Virus Korona dan Langkah Tepat Kaum Muslim dalam Menyikapinya

 

Saat ini dunia sedang menghadapi pandemi sebuah virus berbahaya yang pertama kali ditemukan di kota Wuhan, Cina, pada akhir tahun 2019 lalu, yaitu COVID-19 atau yang lebih dikenal dengan sebutan virus korona. Dikutip dari CNN, virus korona sebenarnya bukanlah sebuah virus baru, akan tetapi virus ini biasanya hanya menjangkiti hewan-hewan saja, seperti tikus, kucing, anjing, sapi, babi, ayam, kalkun, dan kelelawar, serta hanya menular antar sesama hewan dan tidak menular pada manusia. Bahkan, sebagian virus diketahui hanya bertahan pada inang aslinya saja, dalam kata lain virus tersebut tidak menyebar.

Dilansir dari situs SCMP, virus yang telah merenggut sebanyak lebih dari 100 ribu jiwa dengan total pasien positif sebanyak lebih dari 2,5 juta orang di seluruh dunia ini mungkin telah melewati spesies hewan lain terlebih dahulu sebelum akhirnya mampu menginfeksi manusia.

Para ilmuwan percaya bahwa virus akan bermutasi dan bergabung dengan virus lain terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam tubuh manusia, menempel pada sel, lalu kemudian menyebar. Akan tetapi, telah banyak spekulasi yang beredar terkait dengan kemunculan virus ini. Salah satunya adalah teori bahwa virus ini merupakan hasil rekayasa biologis sebuah laboratorium di Wuhan, Cina, kota di mana virus ini pertama kali ditemukan. Sekelompok ahli epidemiologi terkemuka di dunia dengan segera membantah hal tersebut. Sementara itu, dilansir dari The Washington Post, para pejabat intelijen Amerika Serikat juga menyatakan bahwa tidak ada bukti kuat virus tersebut adalah senjata biologis yang diciptakan di laboratorium.

Kendati demikian, pandemi yang kini tengah melanda di hampir seluruh negara di dunia ini mengingatkan kita pada wabah penyakit yang pernah terjadi di zaman Nabi. Pada zaman Rasulullah, pernah terjadi wabah penyakit kusta dan lepra yang menular dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian. Dalam menghadapi situasi tersebut, Nabi mengajarkan para sahabat untuk tidak memasuki wilayah yang tengah terjangkit. Begitu juga sebaliknya, ketika sedang berada dalam wilayah yang terjangkit sebaiknya tidak keluar dari wilayah tersebut. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abdurahman bin Auf: “Apabila kamu mendengar wabah berjangkit di suatu negeri, maka janganlah kamu datangi negeri itu. Dan apabila wabah itu berjangkit di negeri tempat kamu berada, janganlah keluar dari negeri itu karena hendak melarikan diri darinya.” (HR. Muslim).

Selain itu, wabah lain yang juga pernah terjadi di zaman Rasulullah yakni ketika Nabi sedang melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah. Saat itu, diceritakan bahwa Madinah sedang dalam keadaan yang buruk di mana air di sana keruh dan dilanda wabah penyakit. Untuk menghadapi situasi tersebut, Nabi meminta agar umatnya bersabar dan memohon pertolongan dari Allah. Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa ia pernah bertanya pada Rasulullah mengenai wabah penyakit dan Rasul pun bersabda bagi mereka yang mampu bersabar dalam menghadapi wabah penyakit yang merupakan ketetapan dari Allah maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang mati syahid. Hadis tersebut diperkuat riwayat al-Nadhr dari Daud (HR. Bukhari).

Dari kedua kisah yang telah diceritakan tadi, kita dapat melihat bagaimana Rasulullah bertindak saat negeri yang disinggahinya sedang dilanda wabah penyakit. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa wabah penyakit yang menyebar di suatu wilayah merupakan bentuk azab bagi orang-orang yang tidak beriman. Akan tetapi, ini merupakan rahmat bagi orang-orang yang beriman karena mereka yang mampu bersabar dan pasrah terhadap ketentuan Allah dijanjikan pahala setara dengan orang yang mati syahid. Oleh karena itu, untuk menghadapi situasi yang tidak pernah diharapkan terjadi seperti wabah virus saat ini, sebagai umat Rasulullah hendaknya kita meneladani apa yang telah disampaikan oleh Rasul agar senantiasa bersabar, terus berikhtiar, dan terus memohon perlindungan kepada Allah sambil mengikuti arahan dari pemerintah, seperti menjaga jarak dengan orang lain dan selalu menjaga kebersihan, demi mencegah penyebaran infeksi virus korona yang kini jumlah pasien positifnya terus bertambah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *