Utang dan Kepailitan Ciri Khas Ekonomi Kapitalis

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Penulis Tinggal di NTT)

Amerika Serikat terkenal sebagai negara adidaya pejuang demokrasi terbesar di samping sebagai negara kapitalis nomer satu. Namun siapa yang menyangka negara ini sekarang memiliki utang luar negeri yang sangat besar. Jumlah utangnya hingga Juli 2019 sebesar US $ 70 Trilyun. Fantastic!

Dan siapa yang menyangka pula bahwa ada perusahaan Amerika yang gugur karena nasabahnya tak sanggup membayar utang KPR, kredit perumahan. Krisis Subprime Mortgage di bidang KPR menyebabkan Bank Lehman Brothers, 158 tahun berjaya, harus terseok-seok dan akhirnya pailit pada 2008. Sahamnya anjlok 96% akhirnya hanya bernilai 26 sen per unit. Inilah penyebab krisis ekonomi global.

Amerika Serikat pun menyelamatkan beberapa perusahaan yang terkait kerugian KPR dengan menyuntik dana likuidasi atau bail out sebesar US $ 700 MILLIAR. Ini berlawanan dengan mahzab ekonomi AS yang terkenal liberal. Harusnya pemerintah tidak campur tangan dalam urusan bisnis pasar bebas. Sejatinya bila merugikan negara dibiarkan saja. Namun sangat jelas aksi penyelamatan para kapitalis di AS terpampang nyata.

Di Indonesia (yang menurut Surya Paloh terpapar ideologi Kapitalisme) banyak kasus terjadi karena utang. Dana likuiditas BLBI sebesar Rp.2.000 Trilyun digelontorkan oleh negara untuk menyelamatkan banyak Bank. Namun sayang sebagian besar dana ini dikorupsi, menguap entah kemana. KPK pun hingga detik ini tak mampu membongkar kasus korupsi mega skandal ini.

Kemudian berlanjut pada korupsi Bank Century yang memakan uang rakyat sebesar Rp. 6,7 Trilyun Rupiah. Para pengamat mengatakan uang korupsi Bank Century jika dijahit maka bisa membangun jalan dari bumi ke bulan.

Banyak pihak menyangka kasus korupsi akan berhenti. Namun anggapan ini salah setelah kasus terakhir jiwasraya sebuah perusahaan asuransi membawa kabur uang Rp.13,4 Trilyun, hampir 2 kali lipat korupsi Bank Century.

Sistem Jaminan kesehatan berbentuk BPJS (yang sistemnya lebih mirip asuransi) dikabarkan mengalami sedang defisit Rp. 32 Trilyun. Hampir rugi lima kali lipat korupsi bank Century.

Mengapa harus terjadi berulang-ulang kali setiap hutang yang gagal bayar harus dibayar pemerintah? Perusahaan atau bank swasta harus diselamatkan. Dana penyelamatan yang dikucurkan sangat besar selalu dalam skala trilyunan.

Inilah sistem kerja ekonomi kapitalisme. Tidak memandang halal dan haram. lebih berorientasi pada untung dan rugi.

Sehingga banyak cara dihalalkan. Semisal memberikan pinjaman kepada nasabah menggunakan sistem bunga atau riba. Menyuburkan sistem asuransi yang diyakini rendah resiko bisnis bagi perusahaan.

Tanpa memperhatikan lagi apakah nasabah sanggup membayar atau tidak? Apakah perusahaan mampu memberikan pelayanan ekstra terbaik atau tidak? Apakah semuanya sudah dijamin halal atau tidak menurut sistem syariah Islam.

Celakanya ekonomi dan bisnis ribawi ini dilindungi oleh rezim dan berskala nasional bahkan internasional. Akibatnya ketika terjadi gagal bayar akan menyebabkan rentetan ledakan yang berskala internasional. Bukan saja menghantam dalam negeri tapi terus melebar ke negara-negara lainnya. Menciptakan sebuah jaringan kepailitan internasional.

Sistem ekonomi Islam tentu berbeda dengan sistem ekonomi Kapitalis yang mencekik rakyat kecil. Sistem Islam tidak bertumpu pada hutang yang sifatnya ribawi. Islam tidak mengenal memberikan pinjaman pakai bunga atau riba. Berapa pun yang dikembalikan harus sebesar yang dipinjam. Bahkan disunnahkan pengutang meringankan peminjam dengan merendahkan jumlah kembalian utang atau bahkan membebaskannya sama sekali.

Negara yang memakai sistem Islam tak akan meminjamkan uangnya kepada negara lain dalam rangka menjajah. Bahkan banyak kasus dulu Khilafah memberikan bantuan secara cuma-cuma kepada negara lain.

Islam juga mengharamkan asuransi. Karena akadnya banyak yang batil, tak jelas dan merugikan nasabah. Bagi Islam jaminan kesehatan dan pendidikan adalah gratis bagi semua warga negara. Tidak lagi menggunakan sistem asuransi yang terkenal bermasalah.

Lalu bagaimana Islam mampu membangun dan menjaga ekonomi negaranya. Tentu saja dengan cara yang halal yaitu memajukan perdagangan dan memaksimalkan Sumber Daya Alam. Tidak diserahkan kepada pihak asing mau pun swasta.

Ketika sistem ribawi yang menyedot banyak harta dalam negeri dihapus dan usaha-usaha sektor riil dimaksimalkan InsyaAllah negara tersebut akan bebas dari Utang. Baik Utang perusahaan maupun Utang Luar Negeri. Karena pembesar utang yakni Sistem Riba telah dihapus. Rakyat pun tentram. Alhamdulillah. []

Tangerang, 30 Desember 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *