Ustadz Sukhanan: Saya Menyaksikan Ulama-ulama Akherat, Mereka Layaknya Bulan di Tengah Gelapnya Malam

Multaqa Ulama Aswaja di Madura yang dilaksanakan Ahad, 17 November 2019, di Kediaman KH. M. Toha Cholili, Bangkalan, Madura, dihadiri sejumlah ulama dari Sidoarjo. Pasca mengikuti multaqa tersebut, Ustad Sukanan, S.Pd, Pengasuh Majelis Taklim Rahmatan Lil Alamin, Sidoarjo menceritakan pengalaman spiritualnya mengikuti Multaqa Ulama Aswaja ini.

Bersama rombongan para kyai dari Sidoarjo mendapatkan tempat duduk barisan ketiga dari depan, sehingga paling dekat dengan panggung dan mimbar. Alfaqir menengok ke belakang, tempat utama sudah terisi penuh, sehingga para tamu menempati teras rumah kediaman shahibul bait dan masjid. Para tamu, ulama, kyai, ajengan, gus, dan asatidz yang hadir lebih dari tujuh ratusan orang.

Alhamdulillah, alfaqir mendapatkan tempat terbaik yaitu di depan para ulama yang datang dari berbagai kota, mulai dari bagian barat sampai bagian timur Indonesia. Puluhan tamu kehormatan duduk di panggung, tidak mungkin saya menfotonya satu persatu sebagai dokumentasi. Namun masih bisa mengambil gambar semua tamu kehormatan dalam satu foto saja dari kamera HP.

Alfaqir memotretnya dengan mata lahir dan mata batin. Merekamnya dalam pikiran dan perasaan. Satu persatu wajah-wajah al-mukarrom para ulama.

Tidak mungkin saya menghafalkan nama beliau satu persatu, tetapi memandangi satu persatu wajah-wajah beliau. Alfaqir mendapati wajah-wajah bersinaran cahaya. Cahaya kebahagiaan, cahaya kebaikan, cahaya masa depan.

Wajah-wajah yang tak tergores segaris pun kekhawatiran, setitik sedihan. Tidak ada rasa takut, dan tidak pula rasa kebencian. Yang ada rasa peduli dan penuh cinta.

Tidak cukup sekali alfaqir menatap wajah para pewaris nabi semuanya, yang menampakkan cahaya kebaikan dan kebahagiaan. terutama wajah shahibul bait, KH. Toha Cholili yang menampakkan cahaya welas asih, kasih sayang.

Memandangi wajah-wajah ulama akhirat, bagai cahaya rembulan menerangi gelapnya malam. Ulama yang menuntun umat menapaki perjalanan dakwah menuju keridhaan Allah SWT dengan terwujudnya kehidupan Islam dalam naungan khilafah.

Alfaqir pun tidak mampu memandang beliau para ulama akhirat, saat beliau satu persatu memberikan nasehat singkat, terutama nasehat KH. Toha Cholili yang menceritakan pengalaman batin beliau, seperti merasakan kehadiran Syaikhona Kholil dengan senyuman kecutnya.

KH. Toha Cholili memberikan tafsir senyuman itu bukan karena tidak suka dengan beliau dan para ulama, tetapi sebagai pesan teguran, ”Kemana saja kamu Cholili selama ini? Kenapa tidak dari dulu kamu sambut seruan ini, kenapa kamu terlambat untuk bergabung dalam perjuangan khilafah? Kamu berkecimpung dengan kotoran-kotoran dunia, kotoran-kotoran politilk”.

Mendengar pesan teguran itu, para jamaah meneteskan air mata, rasa haru menyentuh perasaan hati yang paling dalam. Subhanallah, Allahu Akbar. Alfaqir juga tak kuasa memandang lagi wajah beliau, yang sedang berdiri di atas mimbar. Hanya suara beliau yang terdengar dengan jelas dan sedikit bergetar. Alfaqir tertunduk, menutup muka dengan sorban yang telah basah dengan air mata haru. Subhanallah Allahu Akbar.

Dalam keharuan itu, kepala dan hati tertunduk hikmad, pesan itu bagi alfaqir berbunyi indah di dalam hati nurani.

“Bersabarlah, istiqomah, dan ikhlas, jangan pernah berfikir untuk berhenti karena pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT itu pasti datang. Dan sebentar lagi. Kapan? Insya Allah tidak lama lagi, Khilafah ‘ala minhajinnubuwwah akan tegak kembali”.

Pesan teguran itu merupakan pesan masa depan. Bahwa masa depan dunia ada di tangan umat Islam dan dunia dinaungi Islam rahmatan lil ‘alamin. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *