Upgrade Iman merajut Asa Perubahan

Oleh: Yeni Rifanita, S.Pd (Ibu dan Aktivis Muslimah Lubuklinggau)

Tak terasa kita telah berada dipenghujung bulan Ramadhan tahun 1441H, meski Ramadhan tahun ini tak kita lalui seperti tahun-tahun sebelumnya, namun sejatinya Ramadhan tetaplah menjadi bulan yang istimewa. Bukan merupakan rahasia Ramadhan mustinya menjadi bulan keberkahan dan kemenangan.

Dan luar biasanya tahun ini di tengah pandemi yang menyerang dunia, sejatinya telah membuka mata kita akan kekuasaan Allah SWT. Begitu maha besar nya Allah telah menciptakan mahluk kecil Corona untuk menyadarkan kita bahwa kita adalah mahluk yang lemah.

Tak hanya itu, nyatanya pandemi ini telah berhasil melumpuhkan negara-negara kapitalis baik timur maupun barat.

Negara Kapitalis di Timur yakni China harus mengakui kelemahannya karena virus ini berhasil menginjak angka 82.929 kasus per 14 mei 2020, dengan total angka kematian 4.633 jiwa. (Wikipedia sumber)

Adapun Negara Kapitalis Barat yakni Amerika serikat harus tunduk dengan serangan Corona dengan total angka terkonfirmasi positif yakni 1,44jt jiwa per 14 mei 2020, angka kematian yang tinggi sebesar 86.248 jiwa (Wikipedia sumber)

Dilansir dari sumber yang sama, Indonesia juga kewalahan menghadapi Corona saat ini. Total kasus terkonfirmasi yaitu 16.006 kasus positif, dengan angka kematian sebesar 1.043 jiwa per 14 mei 2020

Dapat dilihat bahwa negara dengan sistem kapitalisme ini tak mampu menghadapi mahluk kecil yang diutus Allah. Setiap kebijakan yang dibuat seolah main-main hanya sesaat diterapkan, dan gampang berubah-ubah. Indonesia Mulanya menerapkan kebijakan darurat sipil, lalu berubah menjadi PSBB dan saat ini kita diminta berdamai dengan Corona, pintu-pintu penerbangan kembali dibuka, PSBB dilonggarkan wajar jika wabah ini tak kunjung usai.

Sebagai seorang muslim, apalagi di bulan suci Ramadhan kita senantiasa diminta untuk meningkatkan Keimanan kita pada Allah SWT. Iman ini merupakan perkara dasar yang wajib dimiliki oleh setiap muslim, keimanan Haqiqi bukan hanya terpatri dalam hati, namun juga dilisankan, dan diamalkan melalui perbuatan.

Allah SWT berfirman:

وَمَا أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَىٰ إِلَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ لَهُمْ جَزَاءُ الضِّعْفِ بِمَا عَمِلُوا
Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; *tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh,* mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. [Saba’/34:37]

Sebab itulah amal shaleh sebagai pembuktian keimanan harus benar-benar direalisasikan. Misalnya saja, jika seseorang mengaku beriman kepada Allah tentunya ia akan menjalankan apa-apa saja yang diperintahkan Allah seperti sholat, puasa, zakat, dakwah dan lain-lain. Begitupun ketika seseorang mengaku beriman pada Nabi dan Rasul-Nya, tentulah akan ia buktikan dengan mengamalkan ajaran Islam sesuai contoh dari sang Rasul, misalnya sholat sebagaimana Rasulullah sholat, puasa pun demikian sebagaimana Rasulullah contohkan, berdakwah sesuai manhaj kenabian dan seterusnya. Artinya semua amal kehidupan mengikuti (ittiba’) pada Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.

Selain itu, dengan situasi yang carut marut seperti saat ini, akibat penerapan sistem Kapitalis demokrasi mustahil bagi seorang muslim untuk menjalankan aturan Islam secara Kaffah, serta ittiba’ pada Rasulullah shalallahu alaihi secara totalitas. Hal demikian dikarenakan syariat Islam berkaitan dengan hubungan terhadap manusia yang didalamnya mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa diterapkan akibat sistem Kapitalisme demokrasi saat ini. Padahal sejatinya menerapkan syariat Islam Kaffah bukan hanya wajib di ranah individual saja, namun juga dalam bingkai aturan negara seperti yang contohkan Rasulullah.

Allah SWT berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 11)

Ayat diatas adalah ayat yang membicarakan tentang perubahan. Bahwa kita sebagai manusia diminta untuk berikhtiar mengubah kehidupan. Sebagaimana yang tercantum dalam Sirah Nabawiyah bagaimana Rasulullah berupaya untuk mengubah kondisi tatanan kehidupan jahiliyah menjadi tatanan kehidupan Islam.

Dalam sebuah Kitab berjudul An Nidzomul Islam karya Syaikh Taqiyuddin an nabhani, dalam bab 2 Qadla dan Qadar dipaparkan bahwa manusia itu hidup dalam 2 area. Pertama area yang menguasai manusia termasuk apa-apa yang menimpanya. Dan yang kedua adalah area yang dikuasai oleh manusia. Contoh area pertama adalah kematian, bala’, rejeki dll dalam area ini manusia hanya diminta untuk ikhlas dan ridho terhadap ketetapan Allah SWT. Adapun contoh area kedua yakni seperti jika ingin sehat maka ikhtiar dengan mengkonsumsi makanan sehat, jika ingin pintar maka belajar, termasuk didalamnya adalah jika ingin berada dalam kondisi hidup yang lebih baik, maka harus ada upaya untuk melakukan perubahan (taghyir).

Syaikh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rastah dalam soal jawab bersama beliau menjelaskan bahwa yang berkaitan dengan aktivitas perubahan (taghyir) dan upaya-upaya mewujudkannya berada dalam wilayah yang dikuasai manusia. Meskipun hasil atau realisasi dari taghyir merupakan area diluar kekuasaan manusia (area yang menguasai manusia). Bisa jadi Allah merealisasikan perubahan tersebut hari ini, lusa atau besok. Bisa jadi perubahan itu terjadi disini atau ditempat lain.

Untuk itu bagi siapa saja yang menginginkan taghyir (perubahan) yang dia idam-idamkan, maka ia wajib berjuang dengan serius dan sungguh-sungguh, jujur, serta ikhlas. Karena Allah tidaklah merealisasikan perubahan bagi orang-orang yang pemalas dan tidak bersungguh-sungguh dalam berjuang.

Tengoklah kembali kisah Rasulullah, bagaimana beliau berupaya untuk melakukan perubahan di Makkah, berdakwah, dan berjuang dengan serius hingga berdarah-darah. Namun Allah menunjukkan bahwa ternyata pertolongan untuk merealisasikan Islam itu justru terletak di Madinah Al Munawwarah. Apakah Rasulullah kalah atau salah?, Jawaban nya tentu saja tidak. Inilah gambaran taghyir tersebut area yang dikuasai Nabi untuk berjuang dengan sungguh-sungguh telah beliau jalankan, adapun realisasi dari area yang menguasai Nabi yakni pertolongan Allah untuk menetapkan dimana tempat yang akan menjadi Daulah Islam adalah mutlak hak prerogatif Allah SWT.

Terakhir dalam tulisan ini saya ingin menyampaikan kepada umat Islam terutama yang ada di Indonesia bahwa kondisi kehidupan kita saat ini telah nyata membutuhkan perubahan. Kita membutuhkan tatanan kehidupan yang dicontohkan Baginda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, dan kita harus berupaya dengan maksimal merajut dan konsisten untuk mewujudkan asa perubahan tersebut. Tentunya taghyir ini tidaklah mudah dan hanya orang-orang istimewa saja yang mampu melakukannya. Saya yakin anda, saya dan kita yang berpredikat sebagai seorang muslim adalah orang-orang istimewa tersebut.

Jadi, mari kita tingkatkan keimanan kita, dan kita raih serta wujudkan perubahan dunia dalam tatanan kehidupan baru yang didalamnya dapat diterapkan syariat Islam Kaffah serta mendapatkan ridho Allah SWT.

Allahu’alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *