Ulama Aswaja Tapal Kuda: Cinta Rasulullah SAW, Cinta Syariat Islam dan Rindu Penerapannya

Pasuruan– Bertempat di Masjid Al Hamidy Pasuruan, Selasa 5 November 2019, Alhamdulillah telah terlaksana acara MULTAQO’ ULAMA’ ASWAJA TAPAL KUDA yang dimulai pukul : 15.30

Hadir dalam acara ini :
1. KH. Abdulloh Amroni, (Pengasuh PP. Al Amri Probolinggo)
2. Kiyai Nur Huda (Pengasuh MT. Kajian Malam Ahad, Lumajang)
3. Gus Rohibni Bashri ( Pengasuh Madin Nurul Masud Rembang Pasuruan)
4. Gus Zain (Pengasuh MT. Nurul Fikri, Probolinggo)
5. KH. Sofyan ( Pengasuh MT. Assalam Kraton Pasuruan)
6. Ust Nur Hidayat (Tokoh masyarakat Pasuruan)
7. Kiyai Ahmad Sukirno (pengasuh MT. Baitus silmi Sukorejo Pasuruan)
8. Ust. Abdul Ghoni (Sukorejo Pasuruan)
9. Ust. Muslim Zainulloh ( Pengasuh MT. Baitul Muslimin)
10. Gus Huda Adlany ( Pasuruan)
dan masih banyak tokoh lainnya.

Shohibul fadhilah Al Mukarrom Gus Huda Adlany menyampaikan banyak terima kasih atas kehadiran para Alim Ulama, Kiyai, Ustadz, tokoh masyarakat serta para jama’ah yang hadir di kediaman beliau.

Dalam kesempatan yang mulia tersebut beliau menyampaikan bahwa sudah menjadi keharusan bagi kita ummat nabi Muhammad Saw. Untuk senantiasa meneladani beliau dalam segala aspek kehidupan, karena beliau adalah uswah hasanah bagi kita.

Shohibul Fadhilah Al Mukarrom KH. Abdullah Amroni, menyampaikan bahwa peringatan Maulid nabi, mengingatkan kita akan kelahiran baginda Rasulullah SAW, sosok yang sangat kita cintai. Tentu kecintaan kita pada rasulullah harus ada bukti, apa yang disenangi oleh Rasulullah tentu kita senangi, begitu juga apa yang di lakukan oleh Rasulullah tentu harus kita lakukan, apa yang di perjuangkan rasulullah, tentu harus kita perjuangkan.

Rasulullah selama hidupnya membawa syari’at Allah untuk diterapkan ke seluruh alam, maka kitapun harus berusaha menerapkan syari’ah Allah ke seluruh alam sebagai bukti kita cinta Rasulullah Saw. cinta Rasulullan harus dibarengi dengan cinta kepada syariat yang dibawanya.

Shohibul Fadhilah al mukarrom Kiyai Nur Huda menyampaikan, bahwa seorang penyair mengatakan

لو كان حبك صادقا لأطعته #
ان المحب لمن يحب مطيع

jikalau cintamu itu benar tentu engkau akan mentaatinya karena orang yang mencintai akan taat terhadap orang yang ia cintai.

Demikian pula kecintaan kita kepada nabi mengharuskan kita mentaati dan mencintai seluruh syariat islam yang dibawanya.

Shohibul fadhilah Al Mukarrom gus Zain menyampaikan betapa Rasulullah Saw. adalah sosok yang paling sayang kepada ummatnya, dimana di akhir hayatnya, sebelum dipanggil oleh Allah SWT, Rasulullah memanggil umatnya sebanyak 3 kali …. أمتي…أمتي….أمتي

Ini menunjukkan betapa cintanya Rasulullah kepada kita, sampai Rasulullah menangis khawatir umatnya kelak dimasukkan ke dalam neraka.

Maka sudah menjadi keharusan bagi kita untuk senantiasa mencintai Rasulullah SAW, sebagai bukti keimanan kita, dan kita berharap kelak bisa bersama Rasulullah di dalam surga. Apa yang harus kita lakukan supaya kita mendapatkan tiket untuk masuk surga. “Tanya beliau”. Tiketnya, tiada lain adalah melaksanakan syariat Allah SWT yang telah didakwakan, diperjuangkan serta diterapkan oleh Rasulullah dalam kehidupan individu maupun kehidupan berbangsa dan bernegara, karena syariat islam yang dibawa Rasulullah memang untuk mengatur kehidupan manusia di dunia.

Sehingga bagi kita yang mengaku mencintai Rasulullah maka tidak cukup hanya dengan ucapan atau dengan memperingati hari kelahirannya saja, akan tetapi kita harus disertai dengan MENCINTAI SYARIATNYA, yang diterapkan secara kaffah dalam bingkai khilafah.

Shohibul Fadhilah Al Mukarrom Ustadz Muslim Zainulloh menceritakan bahwa Para sahabat yang hidup di masa Rasulullah Saw mereka mengimplementasikan kecintaan kepada beliau dengan mengorbankan harta, waktu, raga, bahkan jiwanya seperti yang dilakukan oleh Abu Thalhah dalam perang Uhud dimana beliau menjadikan dirinya sebagai tameng agar tidak ada tombak, panah, atau pedang yang mengenai diri Rasulullah Saw, Abu Bakar As-Shidiq rela jempol kakinya digigit ular berbisa karena menutup salah

 

satu lubang yang ada di Gua Tsur kwartir ular tersebut mengigit Rasulullah Saw, dan masih banyak contoh pengorbanan dari para sahabat Ra.

Lalu apa yang harus kita korbankan saat ini untuk mengimplementasikan kecintaan kita kepada Rasulullah Saw? Tentunya sama dengan apa yang dilakukan oleh para sahabat Rasulullah Saw yaitu mengorbankan harta, waktu, raga bahkan jiwa untuk mendakwahkan Islam agar syariah Allah SWT dan Rasul-Nya bisa diterapkan secara kaffah dalam naungan khilafah Islamiyah.

Acara diakhiri tepat pukul 17.30 dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh KH. Sofyan. Acara kemudian dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah, dan makan bersama, acara berjalan dengan baik dan lancar serta penuh kekeluargaan. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *