UKT Tidak Miring, Bukti Gagalnya Pendidikan Sekuler

Oleh: Rumaisha 1453 (Aktivis BMI Kota Kupang)

Mahasiswa adalah “Agen Of Change”. Semua perubahan diawali dengan pergerakan dari pemuda. Pemuda yang akan menorehkan tinta emas peradaban suatu negeri. Berawal dari menempuh pendidikan dibangku kuliah ini, yang membuat pemuda memiliki bekal untuk maju dan bergerak. Bergerak dengan idealisme sebagai mahasiswa Islam bukan mahasiswa sekuler.

Berbicara tentang mahasiswa, saat ini mereka tengah dilanda kegelisahan dan berujung pada kemarahan. Ditengah melandanya wabah covid-19, membuat perekonomian sebagian mahasiswa pun menjadi terpuruk. Ditambah lagi UKT yang tidak pernah miring hingga saat ini. Mahasiswa diberbagai kampus sudah mulai turun kejalan untuk menyuarakan aspirasinya seperti yang terjadi Mahasiswa UIN Banten (www.bantennews.co.id, 22/06/20). Dan juga sejumlah mahasiswayang tergabung dalam aliansi Gerakan Mahaiswa Jakarta Bersatu melakukan aksi unjuk rasa di Kemendikbud. (www.detik.com, 22/06/20).

Turunnya mahasiswa kejalan menunjukan ada kesalahan dalam tata kelolah pendidikan di negeri ini. Pandahal sebelumnya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan kebijakan untuk meringankan beban mahasiswa dimasa pandemi. Dianataranya melalui empat skema pembayaran UKT yaitu Penundaan pembayaran, pencicilan pembayaran, menurunkan level UKT, dan pengajuan beasiswa. (www.kompas.com, 05/06/20). Serta kebijakan lanjutan berupa anggaran 1 Triliun untuk dana bantuan UKT yang dikeluarkan oleh Kemendikbud. (www.kompas.com, 21/06/20).

Melihat daripada kebijakan yang pemerintah dalam hal ini Kemendikbud keluarkan untuk memberikan keringanan kepada mahasiswa terutama mengenai UKT, sudah menunjukan kepedulian pemerintah kepada generasi pemegang tonggak peradaban. Lantas, mengapa masih banyak mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa atau turun kejalan? Kira-kira apa sebenarnya membuat mahasiswa tidak puas dengan kebijakan pemerintah saat ini? Sepertinya kebijakan pemerintah kali ini tidak berefek, karena masih banyak mahasiswa yang turun kejalan.

Memang, mahasiswa juga terpaksa melakukan aksi ini ditengah wabah covid-19 yang belum usai. Akan tetapi demi kepentingan bersama, mereka rela turun kejalan untuk menyalurkan suara dari mahasiswa yang lain. Dengan masih memikirkan dan mengikuti protokoler kesehatan. Keresahan mahasiswa tidak dapat dibendung lagi, mau tunggu sampai keadaan aman, sepertinya hanya ilusi belaka. Untuk saat ini pemerintah sudah melaksanakan kebijakan New Normal ala mereka. Jadi mahasiswa turun kejalan tidak terlalu dipermasalahkan.

Mahasiswa bukan hanya mengeluh tentang pembayaran UKT yang tidak miring saat kuliah daring. Akan tetapi dibalik semua itu, mahasiswa tidak puas dan tidak cukup mendapatkan ilmu dan pemahaman saat kuliah daring. Banyak dosen yang hanya memberikan tugas saja, tidak dengan kuliah tatap muka secara online. Itulah yang menambah kegelisahan dari mahasiswa, karena hanya mengeluarkan uang untuk membeli kuota internet semata.

Mahasiswa terpaksa harus mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk membeli kuota. Sedangkan kita ketahui bersama, bahwasannya keadaan ekonomi keluarga mahasiswa juga tercekik. Banyak mahasiswa yang terpaksa pulang kampung dengan berbagai resiko. Dan mahasiswa yang memilih untuk tidak pulang, ia harus menanggung hidup untuk tetap membayar kos dan juga meminta uang dari orang tua untuk biaya hidupnya. Inilah sistem pendidikan sekuler yang berusaha diterapkan di Negeri ini. Dengan hanya berprioritas pada materi semata, tanpa melihat lagi keadaan dan kemaslahatan umat.

Sistem pendidikan sekuler hari ini membuat umat semakin jauh untuk mencetak generasi khoiru ummah. Generasi yang bukan hanya handal pada ilmu dunia semata, akan tetapi ilmu agama sebagai landasan untuk membentuk generasi khoiru ummah ini. Dan di saat yang sama, generasi mereka tampil sebagai prototipe generasi terbaik sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran: 110)

Mendambakan pendidikan berkualitas, berfasilitas unggul, sekaligus berbiaya ramah bahkan gratis, disistem sekuler saat ini bak mimpi di siang bolong. Betapa tidak, kalau Anda ingin memberikan pendidikan anak di kampus yang mentereng, fasilitas serba lengkap, itu hanya bisa didapatkan dengan merogoh pundi-pundi anda yang puluhan bahkan ratusan juta. Contoh realnya adalah UKT yang tetap diberlakukan walaupun dalam masa pandemi.

Oleh karenanya, umat semestinya waspada bahwa agenda sekularisasi pendidikan hakikatnya adalah untuk memuluskan penjajahan. Berbeda dengan sistem pendidikan Islam yaitu pendidikan yang tanpa memungut biaya sepeser pun dari umat alias gratis. Dengan sarana dan prasarana yang dapat menunjang keberhasilan dalam mencetak generasi khoiru ummah. Pendidikan gratis ini bukan hanya diperoleh saat pandemi saja, tetapi berlaku dalam kehidupan normal pada umumnya.

WalLahu a’lam bi ash-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *