Uighur Dirundung Duka, Umat Islam Tanpa Penjaga

Oleh : Dini Azra (Member Revowritter, Malang)

Umat Islam di seluruh dunia tak henti-hentinya dirundung duka. Gaza masih membara, sewaktu-waktu bisa terjadi serangan udara. Nasib muslim Rohingya masih terlunta-lunta. Di Kashmir kaum muslimin kian tersingkir, apalagi setelah disahkannya RUU anti Islam oleh pemerintah India. Belum lagi di Suriah, deritanya kian bertambah parah. Akibat kekejaman rezim Syiah nusyairiyah. Yang dibantu Amerika dan Rusia meluluh-lantakkan wilayah mereka.

Kini berita etnis minoritas muslim Uighur kembali mencuat, setelah beritanya terkuak dan menjadi sorotan dunia tahun lalu.Terjadi simpang siur berita karena pemerintahan RRC membantah, dan berusaha menutupinya. Dengan kelihaian mereka memanipulasi fakta yang sebenarnya. Diantaranya dengan menggelontorkan dana pinjaman, investasi dan kerjasama dengan negara-negara Islam. Juga mengundang dan memfasilitasi kunjungan tokoh-tokoh Islam ke negara China. Untuk memperlihatkan jika kondisi muslim di sana baik-baik saja. Dan meyakinkan dunia bahwa tindakan diskriminasi dan genosida itu hoaks belaka.

Namun serapat-rapatnya orang menutupi bangkai, baunya pasti tercium juga. Tudingan dunia atas tindak kekerasan terhadap muslim Uighur makin terbukti. Setelah sebuah media AS New York Times melaporkan dokumen yang bocor soal kamp penahanan etnis di Xinjiang. Dalam dokumen itu disebutkan, Presiden China Xi Jinping memerintahkan para pejabatnya. Untuk bertindak tanpa belas kasihan terhadap separatisme dan ekstrimisme Uighur. Temuan ini membuat pemerintah China berang terhadap Amerika.

(CNBCIndonesia /18/12) Dua negara besar ini, memang sedang terlibat perang dagang, sekaligus perang ideologi. Sehingga saling membongkar aib dan kejahatan lawannya. Berebut pengaruh masyarakat dunia. Agar bisa menancapkan hegemoni mereka. Umat Islam sering menjadi korban, karena agama Islam juga merupakan ideologi yang menjadi penghalang eksistensi mereka.

Untuk masalah Uighur, Amerika dan Australia secara terbuka telah mengecam tindakan RRC di Xinjiang. Begitupula puluhan negara anggota PBB juga turut mengecam. Meminta China untuk terbuka tentang adanya kamp penahanan. Sayangnya diantara mereka belum ada satupun negara muslim didalamnya. Hingga saat ini dunia Islam memilih bungkam. Bahkan sebagian malah membela China. Seperti Pakistan yang mengatakan bahwa laporan-laporan soal Uighur itu sensasional.

Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia. Akhirnya angkat bicara, “Kami menolak dan ingin mencegah pelanggaran HAM. Tapi kami tidak ingin mencampuri urusan negara lain.” seperti yang disampaikan Yusuf Kala kepada para wartawan, 17 Desember lalu. Sikap yang nampak berbeda dengan cara menyikapi kejadian di Palestina atau Rohingya.

Tak hanya itu, beberapa tokoh muslim perwakilan dari Muhamadiyah, Nahdlatul Ulama, dan MUI sempat diundang untuk melakukan kunjungan ke China tahun 2018 lalu. Tujuannya agar bisa menunjukkan kondisi umat Islam disana. Salah satu dari mereka Robikin Emhas seorang tokoh NU yang kini menjadi staffsus wakil presiden, menyatakan dalam sebuah wawancara televisi. Tidak ada penyiksaan terhadap umat Islam seperti yang diberitakan. Pemerintah China hanya sedang menangani kelompok separatisme. Begitupun ketua umum PBNU Said Aqil Siradj mengatakan bahwa umat Islam di China bebas menjalankan agamanya, asal tidak berpolitik. Menurutnya etnis Uighur melakukan pemberontakan, sehingga pemerintah berlaku represif terhadap mereka. Kiblat.net (19/12/2019)

China memang pandai memainkan strategi untuk menutupi kejahatannya. Digambarkan kehidupan etnis Hui muslim di propinsi Gansu, Xi’an, Guangzhou dll. Untuk mengelabui dunia, dengan kondisi mereka yang baik-baik saja. Padahal yang saat ini menjadi konsern dunia, adalah etnis muslim Uighur yang ditahan di kamp-kamp penahanan. Untuk menjalani re edukasi/pendidikan ulang. Yang diduga terjadi pelanggaran HAM berat didalamnya.

Memang benar para tokoh yang diundang termasuk wartawan internasional juga diajak masuk, melihat sendiri proses pembelajaran disana. Yang seolah tidak terjadi apa-apa, para tahanan bahkan melakukan pertunjukan seni untuk menyambut kedatangan mereka. Dan semua itu tentu saja sudah dipersiapkan. Sudah banyak bukti dan kesaksian dari orang-orang Uighur yang pernah ditahan.

Diskriminasi terhadap etnis Uighur sudah terjadi sejak lama sekali.
Mengapa pemimpin negeri-negri muslim diam tak berani mengecam? Hal itu karena adanya pertimbangan politik, ekonomi dan kebijakan luar negeri. Seorang pakar kebijakan China Michael Clarke dari Universitas Nasional Australia mengatakan kepada ABC, bahwa kekuatan ekonomi China dan takut mendapat balasan menjadi faktor dalam politik Islam. Sayangnya semua itu bermuara pada perhitungan materi dan asas manfaat belaka. China sudah berinvestasi di negara-negara Timur tengah sebesar AU$ 144,8 miliar. Sedangkan untuk Malaysia dan Indonesia sejumlah AU$ 1,21,6 miliar. Tempo.co (24/12) Hal ini cukup efektif menghentikan negara-negara Islam untuk mengkritik Beijing secara terbuka.

Kita semestinya malu pada negara kecil dari Afrika Barat, Gambia. Yang menggugat genosida yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap muslim Rohingya. Dengan mengatasnamakan OKI, mampu menyeret Myanmar sampai di pengadilan internasional. Sedangkan Indonesia yang memiliki posisi sebagai pemimpin ASEAN dan Dewan Keamanan tidak berpengaruh pada sikap pembelaannya. Harusnya ini mampu menggugah dunia Islam, agar bersikap lebih baik dalam manifestasi ukhuwah Islamiyah. Namun tak juga terjadi karena semua lebih memikirkan kepentingan duniawi.

Islam dengan kondisi seperti ini sudah diprediksi oleh Nabi shalallahu alaihi wasalam jauh sebelumnya. Beliau pernah bersabda : “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud)

Sungguh gambaran itu telah terbukti hari ini. Begitu ringan bobot umat Islam laksana buih di lautan. Sehingga hilanglah rasa takut dihati orang-orang kafir itu. Mereka bisa seenaknya menginjak-injak kehormatan kaum muslimin. Menguasai hartanya, menumpahkan darahnya, karena mereka yakin tidak akan ada yang berani membela. Karena sebagian besar umat Islam telah terlena tipudaya dunia. Melupakan tempat kembali yang hakiki, serta lalai dari tujuan hidup yang sesungguhnya.

Semenjak Khilafah runtuh pada tahun 1924 Masehi di Turki. Umat Islam bagai anak ayam kehilangan induknya. Tanpa penjaga. Tak ada lagi perisai yang melindungi iman dan jiwa mereka. Yang mempersatukan mereka dengan ikatan hukum syariat yang mengikat. Maka penindasan terhadap umat Islam akan terus berulang. Sampai tegaknya kembali Khilafah al junnah. Mari kita persiapkan diri menyambutnya, dengan mempertebal iman dan ketakwaan. Serta terus berdakwah menyadarkan umat akan wajibnya menegakkan Khilafah.

Wallahu a’lam bishawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *