Tumbuh Subur, Sekulerisme Jadikan Agama Sebagai Sumber Masalah

Oleh : Rahmawati (Mahasiswi)

Beberapa hari terakhir ini jagat media sosial (medsos) sempat dihebohkan dengan pernyataan kontroversial yang dilontarkan oleh Yudian Wahyudi selaku Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancalisa alias BPIP. Saat diwawancarai dalam acara wawancara ekslusif oleh media CNN Indonesia tepatnya pada Rabu, 12 Februari 2020.

Yudian Wahyudi yang sekaligus merangkap sebagai Ketua Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu, mengatakan dalam simpulannya bahwa musuh terbesar Pancasila adalah agama bukan kesukuan. Kemudian pernyataan yang menjadi kontroversial ini langsung diklarifikasi oleh Yudian tepat sehari setelah pernyataan diucapkannya yaitu pada Kamis, 13 Februari 2020.
Lihat:(https://www.voaislam.com/read/politikindonesia/2020/02/14/69799/merasapernyataannya-dikutip-tidak-utuh-yudian-berikan-penelasan-agama-musuh-pancasila/ )

Dalam klarifikasinya ia mengungkapkan yang dimaksud agama sebagai musuh terbesar Pancasila bukanlah agama secara keseluruhan, melainkan mereka yang mempertentangkan agama dengan Pancasila. Karena menurut Yudian baik dari segi sumber dan tujuan Pancasila adalah religious atau agamis. Lebih lanjut, Yudian menjelasakan yang ia kritik adalah orang yang menggunakan agama atas nama mayoritas tapi sebenarnya mereka itu minoritas.

Disamping itu Kepala Staf Presiden Moeldoko memberikan pernyataan pembelaannya terhadap ketua BPIP tersebut, menurutnya Yudian adalah tokoh intelektual dan berilmu agama tinggi, sehingga bisa saja masyarakat yang salah dalam memaknai pernyataan Yudian tersebut.

Di tengah panasnya berita terkait agama musuh besar Pancasila, Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam satu pergeleran acara yaitu saat membuka Rakernas II dan Halaqah Khatib Indonesia di Istana Wapres Jakarta, pada Jum’at 14 Februari 2020 mengatakan bahwa khatib harus bersertifikat dan memiliki komitmen kebangsaan sebab posisinya sebagai penceramah tentu akan berpengaruh pada cara berpikir, bersikap, dan bertindak umat Islam.

Tak hanya itu, menurutnya khatib juga harus memiliki komitmen kebangsaan di tengah merebaknya ajaran-ajaran radikal di kalangan umat Islam. Wapres Ma’ruf menekankan ceramah agama yang disampaikan para khatib di setiap ibadah shalat Jumat harus memuat nilai-nilai Pancasila dan prinsip NKRI.

“Pancasila telah disepakati sebagai ideologi bangsa dan dalam perspektif Islam, Pancasila merupakan kalimatun sawa yang berarti kesepakatan atau titik temu. Dengan adanya titik temu Pancasila itulah kemudian NKRI hadir” kata Wapres Ma’ruf.

Ia juga sempat menyinggung soal sistem Khilafah yang menurutnya akan otomatis tertolak di Indonesia, sebab Indonesia sudah memiliki ideologi yaitu Pancasila. Masih dalam satu tema yang sama, di kesempatan lain Ma’ruf Amin mengungkapkan agar para khatib tidak membangun narasi konflik dan tidak intoleran sehingga dapat melahirkan paham radikalisme di kalangan masyarakat muslim khususnya.
Lihat:(https://mediaindonesia.com/read/detail/290144wapreskhatibharusdiseleksidanbersertifikat )

Buah Sekulerisme
Dari sejumlah fakta dan narasi yang telah kita jumpai di atas dapat kita simpulkan bahwa Islam adalah sasaran utama dari sejumlah pernyataan yang dikeluarkan rezim sekuler saat ini. Tidak hanya persoalan agama yang dijadikan musuh Pancasila, bahkan para penceramah masjid (khatib) pun ikut menjadi sorotan oleh rezim. Pemikiran dan pernyataan-pernyataan semacam ini hanya akan kita temui dalam negara kapitalisme-sekuler. Yang menjadikan keuntungan sebagai tolak ukur dalam berperilaku serta memisahkan antara persoalan kehidupan dengan agama.

Ideologi sekuler tanpa sadar telah terbenam dalam jiwa-jiwa kaum muslimin, bahkan terhadap para pejabat negara yang dianggap memiliki keluasan ilmu agama. Sebab Ideologi sekuler ini telah lama ditopang oleh Sistem Demokrasi buatan orang-orang kafir barat. Sehingga wajar, pernyataan-pernyataan yang tidak mendidik serta terkesan sembarangan dan tidak memiliki asas yang jelas tersebut keluar dari lisan-lisan mereka yang notobene adalah tokoh publik .
Sejatinya sistem Demokrasi dengan ideologi kapitalis-sekulernya akan terus berupaya memberikan framing atau gambaran buruk terhadap Islam. Sehingga masyarakat muslim yang meyakini Islam sebagai solusi hakiki dari seluruh permasalahan negeri semakin jauh bahkan takut dengan ideologinya yaitu ideologi Islam.

Islam Agama Sempurna dan Paripurna
Islam sebagai din (agama) sekaligus ideologi yang sempurna telah memiliki jawaban dari setiap permasalahan di negeri ini. Sebagai muslim yang meyakini akan kesempurnaan Islam, sudah selayaknya menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai rujukan dalam segala permasalahan yang ia hadapi.

Baik itu berkaitan dengan urusan dirinya, keluarganya, lingkungannya bahkan persoalan negara sekalipun ia akan mengembalikan segalanya pada apa yang telah diterangkan oleh hukum syara’ . Serta menolak segala bentuk pemahaman kapitalisme-sekuler yang diadopsi oleh orang-orang kafir barat, sebab Islam sama sekali tidak dapat berkompromi dengan kebatilan. Terkait kesempurnaan Islam telah Allah jelaskan dalam QS. Al- Maidah: 3
Allah Azza wa Jalla berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]
Dalam ayat lain Allah swt. menerangkan :
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
”Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS Al Maidah ayat 50)

Sahabat pembaca yang budiman, sudah begitu banyak kerusakan dan kebobrokan yang nampak dan kita hadapi saat ini. Telah banyak kita temui orang-orang, para tokoh masyarakat yang dengan sengaja melecehkan ayat-ayat Allah, menertawakan bahkan menentang hukum-hukum Allah. Cukuplah ayat di atas menjadi pengingat bagi kita yang mengaku beriman terhadap Allah dan Rasul-Nya agar kita segera kembali kepada hukum serta aturan-Nya.

Dan sudah semestinya kita meninggalkan sistem demokrasi buatan manusia tersebut dan menggantinya dengan sistem yang telah Rasulullah saw. contohkan berikut dilanjutkan oleh para sahabat dan generasi setelahnya yaitu Khilafah ‘ala manhaj nubuwwah. Karena hanya dengan Khilafah lah permasalahan negeri ini akan terentaskan .
Wallahu’alam bi shawwab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *