Tudingan Intoleransi Islam? Salah Alamat!

Oleh : Vivin Indriani

Media sosial diramaikan dengan unggahan pidato dari salah seorang warga negara Indonesia yang telah lama tinggal di Amerika dalam aksi menentang kekerasan terhadap George Floyd, Kamis (4/6), di Pioneer Square, Washington, AS. Di awal pidato, dia sempat mengawali dengan kalimat, “Saya lahir di Indonesia, jadi saya tahu apa itu prasangka dan diskriminasi. Saya kira saya bisa lari jauh dari Indonesia dan datang ke sini untuk menghirup kebebasan. Tapi saya melihat beberapa hari lalu, hati saya meleleh.” Sontak kalimat ini mendapat kecaman dari banyak pihak di Indonesia.

Kecaman datang salah satunya dari Imam Shamsi Ali, imam masjid besar di Kota New York asal Indonesia. Dalam unggahannya di twitter, Shamsi Ali menyayangkan pidato yang seolah menyerukan perdamaian namun malah menggunakan kalimat-kalimat yang mencitraburukkan Indonesia. Imam Shamsi Ali juga menuliskan dalam tulisan beliau yang ditayangkan di salah satu media di Indonesia, bahwa sebaliknya, justru surga toleransi umat beragama itu hanya di Indonesia. Negara mana yang membolehkan bahkan menetapkan hari libur bagi hari raya semua agama jika bukan di Indonesia. Di Indonesia, minoritas boleh menduduki jabatan-jabatan publik bahkan menguasai 80-90% perekonomian negeri ini. Mayoritas masyarakat Indonesia tidak keberatan akan hal tersebut.

Kementerian Luar Negeri Indonesia mengatakan perwakilan mereka di Amerika Serikat akan mencari tahu peristiwa pidato yang memicu kecaman tersebut. Juru bicara Kemlu RI Teuku Faizasyah juga berharap bahwa yang bersangkutan bisa segera memberikan klarifikasi atas perkataannya. Faizasah menyampaikan hendaknya yang bersangkutan mencontoh kasus sebelumnya ketika ada warga negara AS bertato peta Indonesia yang ikut demo dan terlibat kerusuhan di Philadelphia. Pria bertato yang dimaksud adalah Rayne Backues atau Dika, pria naturalisasi yang terlibat kerusuhan dan berujung meminta maaf bersama dengan orang tuanya sekaligus untuk memberikan klarifikasi.

Tuduhan Intoleransi, Tuduhan Keji

Telah lama kaum muslimin, bahkan negeri-negeri muslim mendapatkan stigma dan tuduhan keji sebagai pengusung intoleransi. Muslim digambarkan sebagai pihak yang tidak bisa menghargai perbedaan agama, ras dan keyakinan. Kita tahu sesungguhnya siapa yang paling berkepentingan dengan isu dan tuduhan tak berdasar tersebut. Tentu saja mereka yang tak suka dan membenci ajaran agama ini.

Ada beberapa hal yang menjadi latar belakang atau alasan dari pihak-pihak yang selama ini getol menuduh Islam sebagai agama dan kaum yang intoleran. Diantara alasan-alasan tersebut yang pertama bisa jadi karena ketidaktahuan akan fakta sesungguhnya. Kedua, karena pada hakekatnya telah ada kebencian dalam diri mereka kepada Islam. Dan yang ketiga adalah sebab politis, yang memang menginginkan Islam lemah dan jatuh. Sebab ini jauh lebih terorganisir dan biasanya dilakukan secara rapi dan terencana. Fokus utamanya telah jelas, yakni membidik Islam.

Sebab yang pertama, karena ketidak tahuan. Hal ini biasanya terjadi pada orang-orang yang tidak terlalu luas pergaulannya. Mereka hanya berkumpul dengan golongan yang jelas-jelas secara eksplisit cenderung memojokkan Islam. Secara tidak langsung mereka ini sangat mudah sekali mendapatkan informasi yang keliru tentang Islam. Alhasil, dengan mudah keluar tuduhan dusta tentang intoleransi Islam.

Golongan yang kedua adalah golongan yang telah nyata ada kebencian dalam dirinya terhadap Islam dan ajarannya. Al Quran telah menggambarkan dengan jelas siapa saja golongan pembenci Islam ini. Allah SWT berfirman :

وَلَن تَرۡضَىٰ عَنكَ ٱلۡيَہُودُ وَلَا ٱلنَّصَـٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَہُمۡ‌ۗ قُلۡ إِنَّ هُدَى ٱللَّهِ هُوَ ٱلۡهُدَىٰ‌ۗ وَلَٮِٕنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم بَعۡدَ ٱلَّذِى جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ‌ۙ مَا لَكَ مِنَ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّ۬ وَلَا نَصِيرٍ

Artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 120).

Dan kita bisa melihat, mereka yang terus menerus menyerukan intoleransi Islam, bahkan dalam komentar-komentar yang ramai menyikapi dan memberi dukungan pada peristiwa pidato kontroversial ini adalah orang-orang yang sama. Mereka terus mengatakan bahwa mereka mendapatkan diskriminasi, kesulitan membangun rumah ibadah, keberatan penerapan pemakaian kerudung bagi siswa muslim di satu sekolah, dan sebagainya. Padahal pada saat yang sama, mereka mendapatkan kebebasan mendapatkan hari libur nasional dalam sebagian besar perayaan agama mereka. Kesulitan membangun rumah ibadah juga sebenarnya akan nampak jika ditelusuri kasusnya, karena di tempat itu mayoritas penduduknya adalah muslim. Sedangkan non muslim hanya beberapa orang. Lalu siapa yang akan beribadah di sana. Itupun hanya beberapa kasus saja. Sebab di sisi lain, pertambahan jumlah rumah ibadah mereka di negeri ini jumlahnya jauh lebih pesat dibanding pembangunan masjid atau mushola.

Kita bandingkan dengan kondisi di luar negeri. Umat islam yang minoritas justru kesulitan membangun rumah ibadah, kesulitan mendapatkan libur di hari raya keagamaan, dan mendapat lebih banyak stereotip negatif dibanding minoritas di Indonesia. Nakun fakta ini coba untuk ditutupi sedemikian rupa. Inilah kiranya fakta sesungguhnya, bahwa memang benar firman Allah SWT dalam Al Baqarah 120 tersebut. Nyata sekali ada kebencian dalam hati mereka terhadap Islam. Bahkan kebencian itu telah bersemayam dalam hati mereka, meski mereka mencoba menutupinya.

Kelompok yang ketiga, memiliki peran yang lebih besar dalam upaya memberikan stigma buruk terhadap ajaran Islam. Pergerakan mereka lebih terorganisir rapi, sebab tuduhan intoleransi terhadap Islam memang dimaksudkan agar umat Islam mulai meninggalkan agamanya. Pihak ketiga ini lebih bersifat ideologis, bahkan negara dan kekuatan super power berperan penting di dalamnya. Kekuatan ideologis ini tidak menghendaki ada kekuatan lain di luar mereka yang mencipta persaingan.

Sesungguhnya Islam adalah salah satu dari tiga ideologi besar di dunia. Kapitalisme, komunisme-sosialisme dan Islam. Ketiganya memiliki peradaban dan digerakkan(pernah digerakkan) oleh kekuatan negara hinga mampu mewujud menjadi satu kekuatan global. Islam, pernah berjaya sepanjang 1300an tahun menguasai dua pertiga wilayah dunia. Dengan negara kekhilafahan Islam, mengantarkannya menjadi negara adidaya di masanya. Komunis-sosialis, pernah mewujud beberapa puluh tahun saja. Dengan Uni Soviet sebagai negara pengusungnya dan ideologi sosial-komunis yang menjadi jantung peradabannya.

Kapitalisme, hampir seratus tahun menguasai dunia. Amerika sebagai negara pengusungnya, menjalankan metode untuk menyebarkan ideologinya dengan penjajahan sumber daya alam milik negara-negara di dunia dengan alasan investasi. Seluruh hegemoni yang dilancarkan negara-negara kapitalis terhadap berbagai negara termasuk negeri muslim sesungguhnya adalah upaya untuk mempertahankan eksistensinya. Di sisi lain, sifat ideologi adalah tidak menghendaki ada ideologi lain yang lebih kuat atau akan menjelma menjadi kekuatan baru yang menggusur hegemoninya.

Maka wajar jika kapitalis-kapitalis global ini akan mengerahkan segala daya upaya agar Islam sebagai sebuah ideologi, tidak lagi bisa meraih kebangkitan. Mereka membentuk berbagai ‘framming’ yang buruk di media tentang Islam dan kaum muslimin. Serta menampilkan wajah ajaran Islam sebagai ajaran yang keras, tidak toleran terhadap agama lain atau golongan minoritas. Secara tidak langsung kita bisa menyaksikan salah satunya adalah memframming Islam sebagai agama intoleran. Atau agama yang tidak bisa menghargai perbedaan, dan sebagainya.

Peradaban Islam Contoh Nyata Toleransi Islam

T.W. Arnold, dalam bukunya, The Preaching of Islam, menulis, “Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan kepada mereka. Perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengakui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen.”

Arnold kemudian menjelaskan, “Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Ottoman, selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani, telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa. Kaum Protestan Silecia pun sangat menghormati pemerintah Turki dan bersedia membayar kemerdekaan mereka dengan tunduk pada hukum Islam. Kaum Cossack yang merupakan penganut kepercayaan kuno dan selalu ditindas oleh Gereja Rusia kini telah menghirup suasana toleransi dengan kaum Kristen di bawah pemerintahan Sultan.”

Dari sini sudah nampak jelas bahwa Islam merupakan agama paling toleran. Bahwa hanya dengan penerapan syariat Islam, sesungguhnya mereka bisa melihat toleransi beragama yang cukup besar bisa dijumpai di dalam masa kekhilafahan Islam. Berbagai agama, ras dan suku bisa hidup berdampingan di masa peradaban Islam. Bahkan negara memberikan santunan tidak peduli apa agama, suku atau ras sekalipun kepada seluruh warganya. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *