Tubuhku (bukan) Milikku

Oleh : Arimbi

Setelah sempat menghebohkan jagat dunia maya, unggahan foto aktris Tara Basro yang menampilkan selulit di paha dan lipatan perutnya menghilang. Lewat foto tersebut, ia mengampanyekan body positivity, mengajak orang untuk mencintai tubuhnya dan percaya dengan diri sendiri.

Hal tersebut diaminkan oleh Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Mariana Amiruddin yang mengatakan apa yang dilakukan Tara Basro sebagai “membangkitkan kepercayaan diri perempuan”.

“Tidak ada tujuan untuk membangkitkan hasrat seksual, tapi tujuannya lebih ke bagaimana perempuan percaya diri terhadap tubuhnya sendiri,” ujar Mariana kepada BBC News Indonesia, Kamis (05/03).
Namun Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) berpendapat lain, mereka menilai foto tersebut berpotensi melanggar pasal kesusilaan dalam undang-undang informasi dan transaksi elektronik (UU ITE) yaitu pasal 27 ayat 1 yang berbunyi “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”

Satu foto saja bisa menimbulkan persepsi yang berbeda bagi yang melihatnya bergantung dari sudut pandang atau standar yang digunakan.
Itulah yang terjadi jika manusia menggunakan tolok ukur yang berbeda dalam menyikapi dan menyelesaikan suatu permasalahan. Tentu tidak akan mampu terselesaikan dengan benar.
Ibarat ingin mengukur suhu, yang satu menggunakan timbangan, yang satu menggunakan penggaris. Bagaimana mungkin bisa diketahui suhunya dengan tepat jika alat ukur yang digunakan saja sudah keliru. Oleh karena itu, yang pertama harus disepakati adalah menggunakan tolok ukur atau standar yang sama dan tentunya benar.

Siapa lagi yang tahu tentang apa yang terbaik bagi manusia selain Penciptanya. Bagaimana Sang Pencipta menetapkan standar tentang perempuan terutama tubuhnya. Tentu sangat jauh berbeda dengan standar yang berlaku saat ini.

Standar yang dipaksakan dari iklan televisi yang menjadi stimulus kuat, menampilkan model bertubuh langsing dan berkulit putih, ditayangkan di jam-jam prime time secara terus-menerus yang kemudian dapat membentuk pola pikir baru wanita Indonesia mengenai citra wanita yang ideal sesuai gambaran tersebut.

Ditambah dengan adanya media sosial yang semakin membuat seseorang kerap membandingkan tubuhnya dengan orang lain. Sehingga banyak orang terutama perempuan sering kali merasa tak puas dengan bentuk tubuhnya. Bahkan menurut sebuah penelitian, ada sekitar 60% perempuan usia dewasa yang mengaku tidak menyukai bentuk tubuhnya (negative body image).

Semua orang memiliki anggapannya masing-masing tentang tubuh yang ideal. Ada yang beranggapan memiliki tubuh yang langsing lebih cantik, sementara sebagian lainnya merasa cantik dengan tubuh yang berisi. Itulah standar manusia saat ini yang tidak akan pernah bisa sama dalam mendefinisikan kecantikan.

Dalam standar Sang Pencipta yaitu aturan Islam, bentuk tubuh dan penampilan bukan tolok ukur utama, karena tidak menggambarkan diri kita.

Islam tidak menilai fisik manusia, karena penciptaan fisik merupakan wilayah yang tidak ada andil manusia didalamnya. Hal itu adalah wilayah yang dikuasai oleh Sang Khalik. Allah SWT lah yang menentukan bagaimana fisik kita diciptakan. Kita hanya terima jadi. Oleh karenanya kelak di hari perhitungan, kita tidak akan di tanya akan hal itu.

Tapi kita akan dihisab atau diminta pertanggungjawaban tentang bagaimana fisik yang telah dianugerahkan kepada manusia itu digunakan. Apakah dimanfaatkan sesuai dengan koridor aturan dari Allah SWT atau tidak. Apakah kita bersyukur atau justru kufur dengan merubah ciptaanNya di meja operasi.

Jadi, jika standar yang kita pakai adalah standar Islam, maka body shaming, negative body image dan yang sejenisnya tidak akan pernah ada. Karena penampilan bukan perhatian utama seorang muslimah. Karena seorang muslimah diperintahkan untuk menutup auratnya, bukan justru diumbar dan menjadi konsumsi publik.
Dan jelas sekali tolok ukur yang digunakan dalam Islam untuk menilai seseorang adalah dari ketakwaannya. Seperti yang disebutkan pada hadits-hadits berikut ini.

Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma meriwayatkan sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam: “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda bagi lelaki yang ingin menikah: “Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

Jelas, lugas dan tegas, itulah aturan Islam. Jika kita mau menggunakannya, maka segala problematika kehidupan yang terjadi bisa diselesaikan dengan benar. Yakin benar, karena berasal dari Pencipta alam semesta. Yakin baik, karena Allah SWT tahu yang terbaik untuk makhlukNya.
Wallahu’alam bishowab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *