Narkoba Menggurita

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Narkoba Menggurita 

Rokani

 (Aliansi Penulis Rindu Islam)

Beberapa waktu lalu, Polda Maluku telah menghadapi 98 kasus Narkoba dari Januari hingga Mei 2024 (ambon.anataranews.com 29/05’2024). Jumlah ini tentu saja akan lebih banyak kasus jika di hitung dari seluruh Indonesia. Bahkan Polsek Arso Timur menangkap empat orang atas Kepemilikan Ganja kering sebanyak 52 bungkus plastik bening berukuran Besar, yang mana dua orang diantaranya merupakan Warga Negara PNG (tribunnews.papua.polri.go.id 5/06/2024). Di tempat lain, petugas Opsnal Satuan Narkoba Polres Sragen juga menangkap remaja yang menjadi pengedar obat-obatan. Berbagai jenis obat berbahaya yang disita dari rumah tersangka tersebut diantaranya bat jenis alprazolam sebanyak 7 papan atau 70 butir, obat jenis atarax sebanyak 7 papan atau 70 butir, obat jenis merlopam sebanyak 2 papan atau 20 butir, sebuah kantong plastik warna hitam, obat jenis hexymer sebanyak 4 papan atau 40 butir, sebuah hp merk realme 2 pro warna silver serta celana jeans merk “ forex” warna hitam yang dipakai pelaku, dengan total sebanyak 200 butir obat berbahaya (humas.polri.go.id 5/6/2024).

Sungguh miris, semakin lama kasus narkoba tiada bukan berkurang bahkan menjerat dan menggurita tanpa melihat usia, remaja atau orang tua, artis atau pejabat, bahkan semua kalangan. Lebih herannya lagi anak-anak sekolah juga positif narkoba, karena sekarang narkoba beredar dalam bentuk kemasan seperti makanan, permen dan minuman sehingga lebih mudah diakses dan mengelabui aparat penegak hukum. Kenakalan anak remaja saat ini yang duduk dibangku sekolah sama sekali tidak mencerminkan bahwa mereka adalah anak yang terdidik karena mereka masih pelajar tapi tindakan mereka sangat memilukan. Seperti yang terjadi di Bogor, Polres Bogor menangkap enam pelaku tawuran, dan diantaranya positif narkoba setelah melakukan tes urin (Kompas.com 11/5/2024).

Dan baru ini diberitakan bahwa, Mabes Polri mengamankan WNA asal Ukraina dan komplotannya yang diduga sebagai pengantar dan bahkan pemilik mesin produksi narkoba di Bandung, Bali. Sudah dua tahun memproduksi pil ekstasi dan sabu-sabu, di sebuah vila berlantai dua. Di bagian atas vila dijadikan kebun ganja hidroponik. ( Radar Bali, 8/5/2024). Bahkan karena kasus ini, Bareskrim harus melakukan pemusnahan pada laboratorium pembuatan narkoba tersebut (antara.com 12 Juni 2024)

Gurita narkoba sungguh semakin menjadi-jadi. Bahkan, tingginya permintaan terhadap barang yang haram itu menjadikan Indonesia sebagai pasar besar narkoba. Lebih parahnya di wilayah Nusantara juga tempat produksi narkoba. Penangkapan sindikat narkoba tidak pernah sepi di media massa. Sayangnya yang tertangkap hanyalah bandar narkoba yang kecil, sedangkan bandar yang besar masih sulit untuk memberantasnya.

Kenapa narkoba kian lama makin marak? Mari kita cermati bersama. Narkoba adalah Narkotika, zat atau obat dari tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan, yang dibedakan dalam golongan-golongannya, ada beberapa macam jenis narkoba yaitu berupa cairan, serbuk atau berbentuk seperti obat (pil). Narkoba banyak diminati karena siapa yang memakainya akan merasakan apa yang dijelaskan seperti yang di atas.

Problematika kehidupan yang dihadapi sehari-hari, memicu rasa putus asa pada sebagian orang. Mereka yang tidak bisa menyelesaikan persoalan hidup dan mengalami stres ada yang melampiaskannya pada barang-barang terlarang tersebut. Sebagai contoh ketika seorang pemuda yang kedua orang tuanya sering cekcok atau bahkan broken home, menjadikan anak tanpa perhatian dan kasih sayang. Mereka merasa menjadi anak-anak yang kurang perhatian bahkan tidak diinginkan oleh keluarganya. Anak-anak seperti inilah yang mudah sekali terjerumus pada kenikmatan sesaat dari narkoba.

Mereka tidak sadar bahwa dengan mengkonsumsinya akan muncul rasa kecanduan yaitu ingin mengkonsumsinya lagi. Namun, barang tersebut tidaklah murah, bahkan bisa jadi dinaikan harganya oleh para bandar. Inilah yang bisa memicu masalah baru seperti tindak kriminal dari para pengguna narkoba untuk mendapatkan uang membeli barang haram tersebut. Mereka tidak segan untuk mencuri, merampok bahkan sampai mengancam nyawa orang lain.

Inilah potret buruk yang terjadi pada saat ini. Sistem kapitalisme yang diterapkan saat ini tidak mampu mencetak generasi muda yang berprestasi yang juga berakidah kuat yang memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Generasi saat ini telah jauh dari penerapan syariat Islam. Hanya manfaat dan materi yang menjadi tolok ukur perbuatan mereka.

Sebenarnya Ada lima faktor yang menjadi penyebab mengguritanya narkoba. Pertama, sistem demokrasi sekuler. Sistem ini menjadikan manusia jauh dari aturan Allah. Mereka bebas bertindak semaunya sendiri tanpa batasan halal haram. Mereka hanya menuruti nafsu yang tidak ada habisnya. Mereka tidak memahami bahwa melanggar aturan Allah hanya akan mendatangkan banyak kemudharatannya.

Yang kedua, sistem pendidikan yang saat ini tidak berdasarkan aqidah Islam, sehingga anak-anak mudah untuk di pengaruhi. Kurikulum saat ini hanya berfokus pada hasil akademik, tapi kurang dalam pendidikan agama keimanan kepada Allah. Padahal sangat berbahaya pada kepribadian generasi. Pintar tanpa iman bisa menyalahgunakan kepintarannya seperti kasus pembuatan narkoba hidroponik sebelumnya. karena hanya orang yang pintar yang bisa membuatnya. Bahkan saat ini narkoba dikemas dengan menyerupai makanan dan minuman, untuk menarik korban dan mengelabui aparat. hanya rang yang cerdas dan kreatif yang bisa melakukannya. Sayangnya mereka menggunakam kepandaianya untuk tindak kejahatan.

Yang ketiga, sistem ekonomi kapitalisme yang menyengsarakan saat ini telah memiskinkan masyarakat dengan kebijakan yang hanya berpihak pada pemilik modal. Harga barang dan semua kebutuhan meningkat terus, menjadikan sulitnya masyarakat memenuhi kebutuhannya. Disisi lain, dorongan konsumtif dari media yang berseliweran mendorong mereka ingin mendapatkan keinginan mereka secara cepat dan mudah. Akhirnya mereka tergiur untuk terlibat penjualan narkoba dengan keuntungan yang besar tanpa harus melihat halal dan haramnya

Yang keempat yakni sanki hukum yang tidak menjerakan si pelaku. Ungkapan hukum bisa dibeli dan kasus suap menyuap menjadikan narkoba sulit untuk diberantas. Maka wajar jika hukum menjadi tumpul ke atas dan tajam kebawah.

Kelima, yaitu sistem pemerintahan demokrasi sekuler hanya menghimpun oligarki yang tidak memperdulikan bagaimana nasibnya anak cucu bangsa. Mereka hanya sibuk memikirkan untuk memperkaya diri sendiri dan menjaga kekuasaannya. Maka siapa yang bisa memberikan keuntungan banyak, menjaga kekuasaanya, maka akan dilindungi dan dijaga. Tidak peduli apakah dia bandar judi atau bandar narkoba atau yang lainnya, yang terpenting adalah bisa mendapatkan keuntungan yang besar tanpa harus melihat halal dan haramnya.

Mengguritanya jerat narkoba ini didukung oleh sistem demokrasi sekuler. Maka permasalahan ini tidak bisa diselesaikan dengan hanya satu sisi saja, akan tetapi harus sampai ke akar-akarnya, yaitu dari sistem kehidupan, pendidikan, ekonominya, hingga hukum dan politik pemerintah yang sekuler ini haruslah dicabut dan digantikan dengan sistem yang sesuai dengan syariat Islam.

Sebagai agama yang sempurna yaitu Syamil dan kamil Islam memiliki mekanisme aturan yang mengatur kehidupan sehari-hari, termasuk membasmi bisnis haram apa saja itu judi, narkoba, dan kemaksiatan yang lainnya. Ini menjadi tugas negara untuk melindungi umat dari beragam marabahaya.

Sistem kehidupan yang beraqidah Islam akan menjadikan umat bertakwa. Standar muamalah halal haram, menjadi patokannya. Sistem ekonomi Islam akan menjadikan sumber daya alam dikelola oleh negara dan hasilnya akan dikembalikan kepada umat. Maka kebutuhan hidup sehari-hari tidak semahal saat ini, karena kesehatan, pendidikan di tanggung oleh negara. Kebutuhan hidup sehari-hari akan mudah didapatkan dengan harga yang murah. Masyarakat tidak akan stres memikirkan kebutuhan hidup karena semuanya dijamin negara sehingga harga dan ketersediaannya terjangkau oleh rakyat. Maka mereka tidak akan membutuhkan narkoba sebagai pelarian stres mereka.

Dalam sistem sini, kesejahteraan masyarakat menjadi tangung jawab negara. Perlindungan negara terhadap akal juga akan memastikan tidak berlangsungnya kartel narkoba dalam sistem Islam. Adanya aturan terhadap makanan atau minuman yang merusak akan serta sanksi yang tegas akan memberikan jera kepada pelaku. Dalam Islam, hukuman bagi pengedar dan bandar narkoba masuk hukum takzir, yaitu hukum yang akan ditetapkan oleh Khalifah, maka tidak akan ada banyak kriminal, orang yang akan melakukan kejahatan akan berfikir seribu kali sebelum melakukan.

Wallahu’alam bish-shawwab

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *