Tragedi Srebrenica, Luka Umat Masih Menganga

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Nur Syamsiah Tahir (Praktisi Pendidikan, Pegiat Literasi, dan Member AMK)

Dilansir oleh detik.com pada hari Jum’at, 10 Juli 2020, pembantaian yang terjadi di Srebrenica tahun 1995 silam menjadi sejarah kelam yang melingkupi Eropa. Ribuan warga Muslim Bosnia menjadi korban dari peristiwa itu.

Dua puluh lima tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 11 Juli 1995, unit-unit pasukan Serbia Bosnia merebut kota Srebrenica di Bosnia-Herzegovina. Dalam waktu kurang dari dua minggu, pasukan mereka secara sistematis membunuh lebih dari 8.000 Bosniaks (umat Muslim Bosnia) – pembunuhan massal terburuk di tanah Eropa sejak akhir Perang Dunia Kedua. Bahkan Ratko Mladic, komandan unit Serbia Bosnia, mengatakan kepada warga sipil yang ketakutan untuk tidak takut ketika pasukannya memulai pembantaian. Pembantaian itu tidak berhenti selama 10 hari.

Namun demikian, pasukan penjaga perdamaian PBB yang memegang senjata ringan ada di wilayah yang dinyatakan sebagai “daerah aman” PBB, tidak melakukan apa-apa ketika kekerasan berkobar di sekitar mereka. Di sisi lain mantan Sekretaris Jenderal Kofi Annan kemudian menyatakan: “Tragedi Srebrenica akan selamanya menghantui sejarah PBB.”(BBC News, 11 Juli 2020)

Efek dari pembantaian itu masih bergema sampai hari ini. Luka umat masih menganga meski tragedi itu telah terjadi pada 25 tahun yang lalu. Faktanya kuburan massal baru dan tubuh korban masih terus ditemukan.

Di tempat lain saling lempar tanggung jawab terjadi. Sebuah laporan tahun 2002 menyalahkan pemerintah Belanda dan pejabat militer terkait kegagalan mereka mencegah pembunuhan. Lalu seluruh bagian pemerintah mengundurkan diri setelah laporan itu keluar. Pada tahun 2019, mahkamah agung negara itu menguatkan putusan bahwa Belanda ikut bertanggung jawab atas 350 kematian di Srebrenica. Dan pada tahun 2017, pengadilan PBB di Den Haag menghukum Mladic atas genosida dan kekejaman lainnya. Ia bersembunyi setelah berakhirnya perang pada tahun 1995 dan tidak ditemukan sampai 2011. Saat itu, ia diketahui berada di rumah sepupunya di Serbia utara. Pihak Serbia sendiri sudah meminta maaf atas kejahatan tersebut tetapi masih menolak untuk menerima bahwa itu adalah genosida.

Tragedi terhadap Sebrenica dan perang Bosnia ini adalah sebagian tragedi dan fakta kezaliman yang dialami oleh kaum muslimin. Karena fakta yang seperti itu juga menimpa kaum muslimin di belahan bumi lainnya, seperti kezaliman yang dialami oleh Muslim Moro di Philipina, permusuhan dan pembunuhan yang dialami Muslim Kashmir di India, kekejian pembantaian dan pengusiran yang dialami oleh Muslim Rohingya di Myanmar, ragam penyiksaan yang dialami Muslim Uyghur di China dan masih banyak lagi kenyataan pahit yang dialami oleh umat Islam lainnya.

Realita ini tentu saja menjadi pelajaran penting bagi generasi umat ini bahwa kaum muslimin selama hampir satu abad tidak memiliki imam atau khalifah. Tanpa khalifah dalam negara yang berbentuk khilafah, maka negeri-negeri muslim akan terus menjadi medan pertarungan kepentingan negara besar yang tak segan untuk mengorbankan ribuan nyawa muslim. Tragedi itu juga menjadi bukti tidak adanya perlakuan adil PBB terhadap negara yang berpenduduk muslim, bahkan PBB menjadi alat melegitimasi kebengisan segelintir penjahat untuk memuaskan nafsu kedengkiannya terhadap Islam dan kaum muslimin.

Oleh karena itu, kini saatnyalah kaum muslimin untuk memiliki seorang khalifah. Di mana Khalifah adalah pemimpin tunggal kaum Muslim di seluruh dunia yang memiliki tanggung jawab amat besar dalam mengurusi urusan umat. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. :
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).

Makna raa‘in (penggembala/pemimpin) adalah “penjaga” dan “yang diberi amanah” atas bawahannya. Rasulullah Saw memerintahkan mereka untuk memberi nasehat kepada setiap orang yang dipimpinnya dan memberi peringatan untuk tidak berkhianat. Imam Suyuthi mengatakan lafaz raa‘in (pemimpin) adalah setiap orang yang mengurusi kepemimpinannya. Lebih lanjut ia mengatakan, “Setiap kamu adalah pemimpin” Artinya, penjaga yang terpercaya dengan kebaikan tugas dan apa saja yang di bawah pengawasannya (serambinews.com, 07/07/2017).

Selain itu, Rasulullah Saw. juga bersabda :
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
”Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Imam al-Mala al-Qari secara gamblang menyatakan: ”Makna kalimat (إنما الإمام) yakni al-Khalifah atau Amirnya”
Kedudukan al-Imam, dan apa yang diungkap dalam hadits yang agung ini pun tidak terbatas dalam peperangan semata, seperti penegasan beliau:
”Frase (وَيُتَّقَى بِهِ) sebagai penjelasan dari kedudukan al-Imam sebagai junnah (perisai) yakni menjadi pemimpin dalam peperangan yang terdepan dari kaumnya untuk mengalahkan musuh dengan keberadaannya dan berperang dengan kekuatannya seperti keberadaan tameng bagi orang yang dilindunginya, dan yang lebih tepat bahwa hadits ini mengandung konotasi dalam seluruh keadaan; karena seorang al-Imam menjadi pelindung bagi kaum muslimin dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya secara berkelanjutan.”( ‘Ali bin Sulthan Muhammad Abu al-Hasan Nuruddin al-Mala’ al-Qari, Mirqât al-Mafâtiih Syarh Misykât al-Mashâbiih, juz VI, hlm. 2391).

Maka solusi tuntas atas semua tragedi itu tidak lain adalah dengan kembali menegakkan sistem Ilahi. Sistem khilafah yang telah terwujud selama 1300 tahun dan menguasai ¾ wilayah dunia adalah perwujudan nyata berlakunya sistem Ilahi. Tegaknya khilafah dengan khalifah sebagai pemimpinnya benar-benar terwujud sebagai raa’iin dan junnah/pelindung bagi umat, bahkan bukan hanya kaum muslim yang dilindungi tapi juga kaum kafir yang mau menjadi warga negara khilafah juga dilindungi, mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara khilafah. Maka memperjuangkan tegaknya khilafah ala minhaji nubuwwah adalah jalan menjemput pertolongan Allah Swt. Inilah solusi jitu untuk bisa terbebas dari berbagai tragedi yang menimpa kaum muslimin selama ini, sehingga umat Islam takkan pernah mengalami luka yang menganga lagi.

Wallahu a’lam bishawab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.