Toleransi Dalam Islam Tidak Pernah Keliru

Oleh: Desi Wulan Sari (Member Revowriter Bogor)

Siapa bilang Islam tidak mengajarkan toleransi? Justru Islam menjunjung tinggi toleransi. Namun toleransi apa dulu yang dimaksud. Toleransi yang dimaksud adalah bila kita memiliki tetangga atau teman Nashrani, maka biarkan ia merayakan hari besar mereka tanpa perlu kita mengusiknya. Namun tinggalkan segala kegiatan agamanya, karena menurut syariat islam, segala praktek ibadah mereka adalah menyimpang dari ajaran Islam alias bentuk kekufuran.

Dalam Islam segala syariat yang telah Allah turunkan bagi umat manusia tidak ada yang sia-sia. Bahkan tidak ada yang pernah keliru dalam mengatur segala urusan manusia. Maka jika Allah telah tetapkan bahwa bahwa ritual Ibadah dan perayaan setiap agama tidak boleh dicampuri satu sama lain atas nama toleransi maka sesungguhnya orang-orang tersebut yang melakukannya telah mengabaikan hukum Allah SWT.

Allah Ta’ala telah berfirman,

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Bagimu agamamu, bagiku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6).

Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan mengenai ‘lakum diinukum wa liya diin’, “Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 14: 425).

Prinsip atas disebutkan pula dalam ayat lain,

قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ

“Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing.” (QS. Al Isra’: 84)

أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

“Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41)

لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ

“Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu.” (QS. Al Qashshash: 55)

Sehingga jelas bahwa Islam telah menurunkan segala aturannya dengan detil dan tepat. Dan sebagai muslim yang ta’at, cukuplah petunjuk Alquran melalui Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjadi sebaik-baik petunjuk.

Jika bukan karena kerusakan sistem liberal yang diusung negeri saat ini, sudah pasti masyarakat tidak akan berada dalam kobdisi bingung seperti sekaramg. Tidak akan ada pro dan kontra dalam pengucapan salam berbeda agama. Karena sangat jelas hujjah yang disampaikan kepada seluruh umat.

Sejatinya meninggalkan sistem kufur adalah suatu kewajiban sehingga akan datang sistem yang mampu mengatur seluruh alam senesta ini tanpa ada satupun toleransi kebablasan di dalamnya, dialah sistem Islam. Wallahu a’lam bishawab. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *