Tiktok Cerminan Remaja Masa Kini?

Oleh Anisa Balqis (Santriwati)

Platform video kreatif tik tok, dan Like sedang digemari selama pandemi global Covid-19. Hal ini terbukti dengan jumlah unduhannya yang terus naik saat masyarakat dunia harus karantina di rumah masing-masing.

“Tiktok menjadi aplikasi pertama, di belakang Facebook, WhatsApp, Instagram, dan Messenger yang berhasil melampaui 2 miliar unduhan sejak 1 Januari 2014,” kata pihak Sensor Tower kepada Tech Crunch. (liputan6.com 30/4/20)

Lebih lanjut, Dilansir dari Cnet, Tiktok berada di posisi kedua karena telah diunduh lebih dari 700 juta pengguna di dunia pada 2019. Sensor Tower menghitung data ini dari Google Play Store di Android dan App Store di iOS. (techno.okezone.com 17/01/20)

Lalu apa yang salah dengan aplikasi tik tok ini?

Sebenarnya tidak ada yang salah dari platform video kreatif yang satu ini. Asalkan kita pandai menggunakannya dengan benar. Seperti sebagai tempat untuk berbagi ilmu atau untuk menjadi media dakwah. Akan tetapi aplikasi ini disalah gunakan oleh banyak kalangan remaja saat ini. Aplikasi yang seharusnya bisa bermanfaat kini menjadi ladang maksiat.

Bagaimana tidak, mereka mengapload konten seperti mempertontokan lekuk tubuh, aktivitas pacaran (atau diistilahkan dengan keuWuan), dan berbagai macam konten yang tak pantas untuk dibagikan di khalayak ramai.

Sejatinya remaja saat ini adalah korban kemajuan teknologi di era goblalisasi, akibat kurangnya ilmu agama untuk menyaring mana yang sebaiknya di share dan mana yang tidak pantas di share.
Seharusnya dimasa karantina ini mereka bisa memperbanyak amal kebaikan. Akan tetapi, mereka membuang waktu mereka dengan berjoget ria didepan kamera dan mempertontonkan nya tanpa rasa malu.

Sebagai seorang remaja muslim sudah seharusnya aturan agama dijadikan standar perbuatan dalam memilih dan memilah hal-hal positif dan negatif dari media sosial. Apalagi di masa remaja, biasanya fase menunjukkan pengakuan jati diri sangat tinggi. Akibat tidak memiliki pemahaman agama inilah mereka salah memilih cara dalam mengapresiasikan diri. Para remaja dan pemuda Muslim sudah saatnya sadar bahwa di pundak mereka kelak akan diletakkan amanah memimpin umat dan membangun negeri. Masa muda bukanlah masa untuk menceburkan diri dalam suasana hedonisme, bersenang-senang tanpa batas halal dan haram, dan berjoget ria sambil berpikir bahwa umur masih panjang.

Lantas bagaimana?

Seorang remaja muslim sudah seharusnya mengetahui mana yang wajib, mana yang haram, dan mana pula yang berbentuk pilihan (mubah), yaitu yang bermanfaat dilakukan dan menghindari yang tidak bermanfaat.

Seharusnya ketika mencapai usia baligh remaja sudah harus memiliki prinsip dan sikap hidup yang kuat. Kita sudah tau apa yang seharusnya kita lakukan dan yang akan kita capai dimasa yang akan datang. Bahkan sudah seharusnya remaja mengetahui konsekuensi dari setiap perbuatan yang dilakukan, baik di dunia maupun di akhirat. Inilah yang menjadi benteng terkuat yang seharusnya dimiliki remaja ketika mereka dihadapkan kepada keadaan tertentu di era globalisasi terutama media social. Sehingga mereka akan memiliki pribadi yang jelas dan tidak terjebak kedalam perilaku menyimpang seperti remaja pegiat Tiktok saat ini.

Terkadang lingkungan pun mempunyai andil besar dalam menentukan jati diri seorang remaja. Dengan siapa dia berteman. Dan bagaimana ia memilih teman pun akan mempengaruhi perilakunya. Seyogianya, sebagai remaja yang bijak kita harus pandai memilih dengan siapa kita bergaul.

Tantangan yang dihadapi remaja saat ini memang berat. Disamping lingkungan dan teman yang kurang mendukung. Pemahaman agama yang kurang karena tidak didorong oleh orang tua. Ditambah lagi peran Negara yang tidak melindungi dan tidak menyaring media-media dan aplikasi yang mungkin bisa disalahgunakan oleh remaja.

Oleh karena itulah Baginda Nabi Muhammad Saw mengingatkan para remaja untuk menjaga masa muda mereka sebaik-baiknya. Dalam hadits yang diriwayatkan al-Baihaqi yang artinya “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu

Sejarah emas Islam mencatat banyak pemuda yang harum namanya karena memuliakan Islam. Sejak Generasi Sahabat hingga Sultan Muhammad al-Fatih yang menaklukkan Konstantinopel yang menjadi gerbang tersebarnya Islam ke Eropa. Kejayaan Islam banyak digerakkan oleh barisan kaum muda.

Karenanya, pemuda adalah harapan masa depan umat. Berkualitas pemuda hari ini, penuh ketaatan, cerahlah masa depan suatu kaum. Buruk kondisi kaum muda hari ini, suramlah nasib bangsa tersebut di kemudian hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *