Tidak Cukup Hanya Dengan Vaksinasi Gratis

Oleh : Rani Sumiati

 

Kondisi negeri kita hingga saat ini kian kritis, peningkatan kasus baru yang terinfeksi perharinya mengalami kenaikan secara drastis, dibersamai dengan keterpurukan perekonomian yang semakin miris.  Padahal sudah cukup lama kondisi ini menghinggapi negeri ini, terhitung kurang lebih sudah 10 bulan dari semenjak presiden mengumumkan virus ini masuk ke Indonesia. Namun, masih saja lajunya belum bisa terkendalikan, karena keputusan penanganan pemerintah yang bisa dibilang plin-plan.

Berdasarkan laporan harian Satuan Tugas Penanganan Covid-19, hari Rabu (13/1/2021), Indonesia melaporkan 11.278 kasus baru infeksi Covid-19 yang terkonfirmasi positif. Jumlah ini kembali melampaui rekor tertinggi kasus baru harian Covid-19 di Indonesia yang sebelumnya pernah tercatat, yakni sebanyak 10.617 kasus pada 8 Januari 2021 (Kompas.com, Jakarta 13/1/2021).

Selain masyarakat biasa, para nakes yang berada di garda terdepan kondisinya semakin menipis jumlahnya, banyak yang berjatuhan gugur dimedan ini karena terinfeksi Covid-19 walaupun sudah memakai APD tetap saja peluang terkena itu sangatlah rentan, karena APD tidak sepenuhnya melindungi para tenaga medis dari ancaman virus corona. Hal ini dikarenakan tidak sedikit dari mereka yang kelelahan atau stress mengakibatkan daya tahan tubuh menurun.

Dalam menekan laju pandemi ini akhirnya Pemerintah resmi memulai program vaksinasi COVID-19 secara gratis pada Rabu, (13/01/2021) pagi. Presiden RI Joko Widodo menjadi pihak pertama yang memulai sekaligus memperoleh suntikan dosis vaksin COVID-19 perdana.

Solusikah Kebijakan Vaksinasi gratis dalam mengatasi pandemi ?

 

Ada pemahaman yang keliru jika masyarakat mengira dengan adanya vaksin semua akan selesai. Sebab vaksin bukan solusi ajaib, tapi hanyalah salah satu cara untuk membangun kekebalan individual dan perlindungan masyarakat (Tirto.id, 02/01/2021). Ternyata, untuk mendapatkan herd immunity (kekebalan tubuh) tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar, sementara penularan Covid-19 begitu cepat.

Kebijakan yang diambil pemerintah cenderung “setengah-setengah tanggung” untuk menyelesaikan pandemi ini, dimulai sejak awal pandemi yaitu melakukan edukasi mengenai social distancing, penerapan PSBB, New Normal dengan adaptasi kebiasaan baru dengan 3M ( memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Dan yang terbaru PPKM ( Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat)  dan hari ini vaksinasi. Sungguh kebijakan yang tidak mudah dimengerti seolah semua ini “coba-coba” padahal ini urusannya dengan nyawa rakyat Indonesia yang jumlahnya mencapai sekitar 270 juta.

Jangan merasa heran Ketika melihat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan penguasa seolah setengah hati serta plin-plan dan seakan coba-coba, ini karena sistem kapitalisme-sekulerisme menjadi landasan mereka dalam berpijak menentukan kebijakan. Sistem buatan manusia yang lemah dan terbatas yang pada akhirnya mustahil takkan pernah mencapai tuntas.

Solusi Kebijakan di masa Khilafah

Kebijakan khalifah mengatasi pandemi sudah terbukti berhasil, pernah terjadi dimasa kekhalifahan, menangani dengan cara menutup wilayah-wilayah yang terkena wabah, memisahkan yang sehat dengan yang sakit sehingga aktifitas terkendali dan pandemi segera tertangani.

Pada zaman  Khalifah Umar bin Khathab diceritakan saat terjadi wabah Tha’un di Syam pada 18 H. Khalifah Umar memerintahkan untuk me-lockdown daerah yang terkena wabah dan langsung membuat posko-posko bantuan agar kebutuhan pokok rakyat yang terkena wabah terpenuhi.

Kebijakan – kebijakan yang diambil khalifah dalam menyikapi panademi tidak setengah hati, karena mengikuti apa yang telah dilkukan Rasulullah dan berlandaskan dalil syariat dengan pemberlakuan lockdown, memisahkan yang sehat dan yang sakit, memberikan test gratis karena untuk pelayanan kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan rakyat merupakan hak masyarakat dan negara wajib memfasilitasi secara gratis, memberikan pendidikan terbaik bagi para calon dokter dan menjamin kesejahteraan para tenaga kesehatan. Semuanya merupakan rangkaian langkah yang menyelesaikan masalah karena hal tersebut bersumber dari sang pencipta yang tak terbatas secara totalitas sampai tuntas, yaitu sang pengatur seluruh alam, Ialah Allah subhanahu wata’ala.

Wallahua’lam bisshowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *