Tidak Cukup Ganyang Komunisme, Ganyang Kapitalisme Juga!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Listiawati, S. TH. I, M. Pd. I

RUU HIP (Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila) mendapat banyak penolakan dari berbagai kalangan umat Islam diantaranya adalah Majelis Ulama Indonesia (MUI), GP Anshor, Muhammadiyah dan FPI (Front Pembela Islam). RUU ini diusung oleh PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan). Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengaku RUU HIP diusulkan oleh fraksi partainya di DPR.

Hal itu dikatakan oleh Hasto dalam webinar dalam rangka peringatan bulan Bung Karno 2020, “Maka dengan adanya rancangan undang-undang yang kami usulkan, PDI Perjuangan tentu saja membuka dialog”. (CNN, 29-06-2020)

Hal yang paling dominan dalam draft RUU HIP adalah adanya klausul Trisila dan Ekasila. Trisila yang dimaksud adalah sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan ketuhanan yang berkebudayaan. Sedangkan Ekasila yang dimaksud adalah gotong royong. (Kompas.com, 16-06-2020).

RUU HIP ini dianggap akan mengubah Pancasila dan menghidupkan kembali komunisme juga PKI (Partai Komunisme Indonesia). Forum Komunikasi Purnawirawan TNI-Polri menilai pengangkatan RUU HIP sangat tendensius, seakan ada upaya menghidupkan kembali PKI dari pengangkatan RUU tersebut. (Repuplika.co.id, 12-06-2020).

Sebagaimana juga dinyatakan oleh MUI, “Kami pantas mencurigai konseptor RUU HIP ini adalah oknum-oknum yang ingin membangkitkan kembali paham dan Partai Komunisme Indonesia. Oleh karena itu patut diusut oleh pihak yang berwajib”. (Waspada online, 15-06-2020).
Menanggapi RUU HIP inilah umat Islam berbondong-bondong melakukan penolakan juga melakukan berbagai aksi penolakan. Yang terbaru adalah diadakannya aksi yang bertajuk “Apel Siaga Ganyang Komunis” se-Jabodetabek pada hari minggu 5 Juli 2020. Aksi ini diadakan oleh Persaudaraan Alumni 212 dan Aliansi Nasional Anti Komunis.

Dalam apel ini para peserta berikrar untuk siap jihad qital memerangi komunis dan pihak yang ingin mengubah Pancasila menjadi Trisila dan Ekasila. (Tempo.co, 05-06-2020).

Sungguh luar biasa semangat umat Islam dalam mencegah dan menghadang paham komunis bahkan berikrar untuk siap jihad qital. Semangat ini adalah bukti kecintaan umat Islam kepada agamanya yaitu Islam. Namun sebenarnya tidak cukup untuk mengganyang komunisme, tetapi juga perlu mengganyang paham kapitalisme yang masih bercokol di negeri-negeri umat Islam.

Komunisme adalah ideologi yang mengingkari adanya Tuhan. Ideologi ini menganggap asal dari segala sesuatu adalah materi. Penganut komunisme menganggap agama adalah candu yang meracuni masyarakat. Mereka menolak campur tangan agama juga menolak aturan agama, termasuk aturan-aturan agama Islam. Mereka membuat aturan kehidupan berdasarkan aturan yang dibuat manusia yaitu berdasarkan dialektika materialisme. Tidaklah heran jika ideologi komunisme menolak aturan Islam juga memusuhi Islam dan orang-orang Islam.

Sejarah nasional Indonesia mencatat tentang kekejaman komunis dan permusuhan partai komunis kepada orang-orang Islam. PKI (Partai Komunis Indonesia) banyak melakukan penghinaan pada agama Islam.

Diantaranya di Surabaya, pada tahun 1962 Pemuda Rakyat (sayap pemuda PKI) di dukung oleh Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) menyerbu masjid Keramat. Tempat suci itu diinjak-injak sambil menari dan menyanyi lagu Genjer-genjer, mereka bermaksud mengubah masjid menjadi markas Gerwani. Pada Januari 1965 mereka membuat pementasan ludruk lekra di Prambon dengan lakon Gusti Allah Dadi Manten (Allah menjadi Pengantin).

Pertunjukan ludruk semacam ini juga dilakukan di berbagai daerah lain, dengan judul-judul yang menghina Allah misalnya Gusti Allah Mantu (Allah menikahkan anaknya), Gusti Allah Bingung (Allah Bingung), dan lain-lain. Selain itu mereka juga membunuh ulama NU ( Nahdlatul Ulama). Anggaota PKI menikam seorang kiai kondang di Madura yaitu KH. Djufri Marzuqi pada Juli 1965. Puncaknya pada tanggal 30 September 1965 PKI melakukan penculikan dan pembunuhan para Jenderal, diantaranya Jenderal A. Yani, Mayor Jenderal Suprapto, Mayjen S. Parman, Mayjen M. T Harjono, Brigadir Jenderal Sutojo, Brigadir Jenderal Panjaitan, Letnan Pier Tendean, dan Jenderal AH Nasution. ( Benturan Nu-PKI 1948-1965. Tim PBNU, Jakarta 2013).

Sama halnya dengan komunisme, kapitalisme juga merupakan ideologi berbahaya dan merusak. Paham kapitalisme berdiri atas dasar sekulerisme yaitu memisahkan agama dari kehidupan. Ideologi ini masih mengakui agama tetapi mereka menolak peran agama dalam kehidupan. Agama hanya di bolehkan dalam ruang pribadi masyarakat sedangkan dalam ruang publik peran agama ditolak dan dilarang. Penganut kapitalisme menjalankan pemerintahan dengan sistem demokrasi yaitu sistem yang menjadikan manusia berhak membuat aturan dalam kehidupan. Rakyat sebagai sumber kekuasaan. Rakyatlah yang membuat undang-undangnya sendiri.

Mereka menjunjung tinggi kebebasan dalam semua aspek kehidupan yaitu kebebasan berakidah, berpendapat, hak milik dan kebebasan pribadi. Dengan dasar kebebasan ini mereka menolak agama termasuk agama Islam. Mereka menolak hukum-hukum Islam untuk diterapkan dalam ranah publik. Mereka tidak membiarkan sedikitpun celah agama Islam berperan dalam kehidupan publik. Mereka bahkan tidak segan mengolok-olok hukum agama Islam.

Adapun bahaya dari kapitalisme diantaranya adalah paham ini mengajarkan nasionalisme yang memecah-belah negeri-negeri umat Islam sehingga menimbulkan penderitaan yang tidak bisa diselesaikan hingga saat ini. Negara Palestina misalnya terus saja dijajah oleh Israel, mereka direbut tanah airnya bahkan juga dibunuh. Tahun 2014 Israel menyerang warga Gaza menimbulkan banyak korban jiwa yaitu sebanyak 1880 orang tewas dan 10.000 orang luka-luka. (Id.m.Wikipedia.org). Hal yang sama juga terjadi pada Rohingya, mereka terusir dari tempat tinggalnya. Hingga tahun 2019 tercatat jumlah pengungsi Rohingya mencapai 79, 5 juta orang. (DW. Com. 18-06-2020).

Kapitalisme juga merusak kehidupan dengan berkembangnya gaya hidup liberal yaitu dengan merebaknya seks bebas hingga berkembangnya LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender). Di Indonesia, berdasarkan estimasi Kemenkes tahun 2012 terdapat 1.095.970 LSL (laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki), lebih dari 5 persennya mengidap HIV (66.180 orang). (Republika, 23-01-2020). Selain itu data per Juni 2019 jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 349.883 orang. (Info Publik. ID, 3-12-2020). Gaya hidup liberal juga merusak kehidupan kaum muslimin dari sisi yang lain misalnya tingginya perselingkuhan yang berakibat pada perceraian. Pergaulan bebas remaja juga menjadikan tingginya tingkat aborsi remaja. Dan yang paling miris yaitu di tahun 2019, media social Indonesia dihebohkan oleh 10 kasus Inces (hubungan sedarah) yang pelakunya diantaranya adik, kakak, ayah hingga kakek. (TribunManado, 29-07-2020).

Kapitalisme juga mengakibatkan sumber daya alam Indonesia disektor strategis yaitu sektor tambang Emas dan minyak lebih banyak dikuasai asing. Sehingga sulit bagi Indonesia untuk mewujudkan kemandirian ekonomi. Misalnya saja tambang Emas raksasa Indonesia di Papua di kuasai oleh PT. Freeport Indonesia, padahal cadangan tembaga dan emas Freeport masih tersedia 2 milliar ton yang bisa terus digali hingga tahun 2052. (Cnbcindonesia.Com, 08-10-2020). Indonesia justru menggantungkan ekonominya pada sektor pajak dan utang luar negeri. Hingga akhir Mei 2020 utang luar Negeri Indonesia mencapai Rp. 5.258,57 triliun. (Tirto.Id, 17 Juni 2020).

Untuk itu maka harusnya bukan hanya komunisme yang harus diganyang dan ditolak oleh umat Islam, tetapi juga kapitalisme. Hanya satu aturan yang harusmya diperjuangkan oleh umat Islam yaitu hukum Islam kaffah di bawah naungan Khilafah. Karena selain sebuah kewajiban, hanya Khilafah dan tegaknya hukum Allah yang bisa memberikan keadilan bagi seluruh umat manusia, termasuk di Indonesia. Hanya hukum Islam yang memanusiakan manusia dan mewujudkan negara yang sejahtera yang memberikan keadilan dan kemakmuran pada rakyatnya. Allah berfirman dalam surat al-A’raf ayat 96 yang artinya, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. Wallahu ’alam bisshowab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.