The Real Santri, Menjadi Santri Penerus Kyai, Pewaris Nabi

Oleh: Muhammad Arifin (Pengasuh Ponpes Al Andalusia Batu)

Untuk menjadi ‘The Real Santri’ pada zaman sekuler (fashluddin ‘anil hayati), yakni pemisahan agama, khususnya pemisahan agama Islam dari kehidupan seperti zaman sekarang, perlu ikhtiar yang super.

Bermimpi, berharap dan mewujudkan santri serta ilmuwan sekaliber Sahabat Nabi yang cerdas dan beradab seperti Ali bin Abi Tholib, Ibnu Abbas atau Ulama-ulama Salaf, ilmuan-ilmuan Islam dan tokoh Islam seperti Muhammad Al Fatih, Imam Malik, Imam Syafi’i, Ibnu Kholdun, Ibnu Sina, Al Khowarizmi, tidak terlepas dari peran 3 hal.

Pertama, Orang tua, keluarga terdekat yang sangat Islami. Secara dhohir dan bathin selalu riyadhoh dan tirakat, bukan hubbud dun’ya. Kedua, Lingkungan tempat belajar, masyarakat yang Islami. Masyarakat yang terikat dengan hukum syara’, Halal Haram menjadi setandar kehidupan, amar ma’ruf nahi mungkar menjadi kesadaran kewajiban.Ketiga, negara Islam yang mewajibkan belajar tsaqofah Islam serta menfasilitasi kemudahan.

The Real Santri, harus memiliki kepribadian Islam ( Syahshiyah Islamiyah) yakni pola pikir dan prilakunya harus sesuai syari’at Islam, bukan malah bertentangan, bukan malah menjadi ahli dan agen maksiat, misalnya pacaran, na’udhubillahi min dhaalika.

The Real Santri, minimal mengerti dan mengamalkan arti santri secara bahasa dan ciri ciri santri. Menurut penulis, merujuk dari beberapa literasi dan menyimpulkan dari beberapa guru penulis. Kata ‘santri’, terdiri dari huruf abjad س ن ت ر ي, masing-masing hurufnya mempunyai kandungan arti tersendiru, penulis akan mencoba merinci.

Pertama, huruf س, mempunyai sambungan kata  ساترون عن العيوب, yakni orang-orang yang menutupi aib orang lain. Menutupi aib orang tuanya, menutupi aib guru-gurunya, menutupi aib teman-temannya, baik teman di pesantren maupun teman di rumah.
Hal ini dilakukan santri sebagai wujud mengamalkan sabda Nabi, من ستر عيب المؤمن ستره الله عيوبه, yang artinya, barang siapa menutupi satu aib orang mukmin, maka Allah akan menutupi beberapa aibnya.

Kedua, huruf ن, mempunyai sambungan kata, نائبون عن العلماء, yakni santri sebagai pengganti, penerus ulama, yang akan melanjutkan perjuangan dakwah para ulama, kyai, mubaligh. Karena ulama adalah pewaris para nabi, العلماء ورثة اﻻنبياء

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *