The Power of Pretending

Ketika masih nyantri sekitar usia SMP dulu, saya tergolong anak yang belum bisa apa-apa. Bisa dibilang masing bego banget. Tapi keinginan untuk belajar tetap selalu ada.

Menjadi kebiasaan saya adalah ngumpulin uang saku. Sebisa mungkin ngirit jajan dan memilih memenuhi celengan saya. Untuk apa uang tabungan itu?

Saat sudah terkumpul banyak, saya menitipkan uang tersebut kepada salah satu ustadz (Allahummagfirlahu) yang sedang pulang cuti ke Jombang.

“Tadz ini semua uang tabungan saya, minta tolong, titip belikan kitab-kitab untuk saya belajar, terserah Ustadz apa saja kitabnya…” tutur saya pada beliau yang disambut dengan anggukannya.

Selang berapa lama, Ustadz tersebut datang kembali ke pondok dan membawakan saya sekitar 20 judul kitab kuning tanpa jenggot alias kitab bertulis huruf Arab gundul tak berkharokat.

“Nih, anak sok banget ya, seperti sudah mahir saja baca Arab gundul, pakai beli banyak kitab kuning. Mau dipakai bantal?…” ejek salah satu senior dengan wajah sinis.

Tak sedikitpun saya memperdulikan ejekan-ejekan itu. Terlebih Pak Ustadz justru memberikan motivasi : “Kalau saat ini kalian belum bisa, insya Allah nanti pasti bisa….”

Bertahun-tahun terlewati, dan terlihat para senior yang dulu mem- bully saya masih saja tak hobi membaca. Alhamdulillah berkat upaya dan dorongan Pak Ustadz saya telah mampu membaca kitab kuning walaupun kitab yang tergolong sangat tipis banget atau STB. Sekelas kitab Mabadi’ atau Sulam Safinah.

Satu pelajaran yang selalu saya ingat dari Pak Ustadz yang beliau sampaikan sebagai motivasi agar saya terus belajar yaitu “Power of Pretending” gampangnya Kekuatan dari Berpura-pura

Jika ingin menjadi ulama’, maka kita harus “berpura-pura” menjadi seperti mereka. Dalam artian mempelajari bagaimana mereka bersikap, apa saja kebiasaannya, aktifitas harian, hingga cara pandang mereka terhadap segala sesuatu. Hal ini untuk membentuk pola fikir dan mental kita untuk dapat mencontoh mereka.

Contoh ringan, jika ingin bisa khutbah dengan bagus dan menarik, coba saksikan khutbah ala Ustadz Abdul Somad atau Ustadz Adi Hidayat di YouTube. Catat poin-poin yang mereka sampaikan dan kemudian praktekkan dengan berafirmasi seolah-olah menjadi mereka. Insya Allah akan mirip. Meski tidak 100% (hehehe).

Pengalaman pribadi saya,  sebelum khutbah, biasanya saya akan duduk di depan meja menghadap segelas kopi sambil membayangkan sedang berada di atas podium. Saya di sana untuk berkhutbah, melafadzkan satu persatu naskah yang akan sudah saya persiapkan agar terpatri di pikiran. Alhamdulillah cara ini ampuh. Ketika saya benar-benar berada di atas podium, hanya sekitar 15% materi yang terlewatkan atau keluar dari poin yang saya siapkan. Terkadang adakalanya 100% tidak ada yang meleset, bahkan beberapa kali mencapai 115% karena muncul inspirasi tiba-tiba.

Oleh karena itu, sering-seringlah menghadapi kopi panas di meja. Eehh maksud saya sering-seringlah berlatih dan terus meniru orang-orang hebat agar kita juga ketularan hebat.

Salam ngopi bareng

Oleh GusNur

Aktivis Dakwah dan Coffepreneur

Yayasan Inqilabi Islamiyah

Info: 0822-4533-7778

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *