The Next Generation of Al-Fatih

Oleh: Azizah Huurun’iin  (Siswi SMAIT Al-Amri)
Salah seorang sahabat Nabi, Abu Qubail, pernah bercerita:”Ketika kami sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-‘ash, dia ditanya, “Kota manakah yang akan ditaklukkan terlebih dahulu?” Abdullah kemudian meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab, lalu berkata: Ketika sedang menulis disekitar Rasulullah SAW. Beliau ditanya:”Diantara dua kota ini manakah yg akan ditaklukkan terlebih dahulu:Konstantinopel atau Roma?” Beliau menjawab:

مدينة هرقل تفتح اولا يعنى قسطنطية

“Kotanya Heraklius yang ditaklukkan lebih dulu yakni Konstantinopel.”(HR. Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakimi).

Sejarah mencatat, setiap Rasul mengucap satu janji tentang kejayaan Islam. Para sahabat akan mencoba untuk mewujudkannya. Dada mereka bergairah oleh semangat jihad dan janji Rasul menjadi pemicu utama bara semangat para sahabat. Kota Mesir (Qibthi), Yaman, dan kota-kota lain berhasil ditaklukkan dengan keyakinan mereka akan janji Rasulullah, karena mereka tahu .., apa yang terucap dari lisan Nabi adalah suatu hal yang pasti dan benar.

Begitu pula saat Rasul telah mengucap janji, kabar gembira mengenai kota Konstantinopel. Walau rintangan untuk menaklukkan kota itu tidaklah mudah. Kota Konstantinopel adalah kota yang terkenal dengan pertahanan kuat.

Terdapat benteng alam berupa tiga lautan yang mengelilinginya, yaitu: Selat Historis, Laut Maskara dan Tanduk Emas. Ketiganya juga dikelilingi oleh rantai besar sehingga sangat sulit bagi kapal musuh untuk mmenerobos.

Daratan Konstantinopel juga dijaga oleh benteng kokoh, terbentang dari Laut Maskara sampai Tanduk Emas. Di dalam kota juga terdapat pagar-pagar pengintai dengan penjagaan ketat dari tentara Byzantium.

Meski begitu, semangat untuk mewujudkan janji Rasul tak pernah surut.

Sejak zaman khalifah Khalifah bin Abi Sufyan (688-669 M), dengan pasukan yang dipimpin oleh Yazid bin Alawiyah belum bisa menembus pertahanan kota itu. Perjuangan berlanjut hingga masa Khilafah Abbasiyyah. Khalifah al-Mahdi, ia mengirim sejumlah ekspedisi ke wilayah-wilayah Imperium Nyanyikan sejak 163 H/779 M. Al-Mahdi mengirim putranya, Harun Ar-Rasyid untuk mengepung kota Konstantinopel. Pada tahun 166 H/782 M, Harun Ar-Rasyid kembali memimpin pasukan yang berjumlah sembilan puluh lima ribu personil. Sayangnya, usaha kali ini juga gagal.

Dan setelah berakhirnya masa Khilafah Abbasiyyah,usaha ini diteruskan di masa Khilafah Utsmaniyah, yakni oleh Sultan Bayazid I (795-803 H/1393-1401 M) dan Sultan Murad II (1422 M). Namun masih tag. Tapi tetap tidak menyurutkan semangat keyakinan tentang tampilnya kota Konstantinopel. Mereka terus menempa para generasi muda.

Setelah 8 abad lamanya, kaum muslim berjuang dan menanti terwujudnya janji mulia itu. Dan akhirnya, terwujud ditangan seorang pemuda sholeh. Dia lah, Sultan Mehmed II yakni, Muhammad Al-Fatih. Beliau yang sejak kecil ditempa dengan hadits mengenai janji Rasulullah, dan dilatih untuk menjadi Sang Penakluk.

Pada tanggal 26 Rabiul Awal hingga 19 Jumadil Ula 857 H (6 April-28 Mei 1453 M), Sultan Mehmed II atau dikenal dgn gelar Muhammad Al-Fatih melakukan pengepungan, dan mengerahkan semua strategi. Diantaranya, memindahkan 70 kapal melewati bukit, karena tidak bisa melewati rantai yang bisa menahan kapal untuk lewat. Pada tanggal 20 Jumadil Ula 857 (29 Mei 1453 M), salah satu janji Rasul terwujud, takluknya kota Konstantinopel.

Namun.., masih ada satu lagi janji Rasul yang harus kita wujudkan. Dalam hadits, saat Rasul mengatakan kota Konstantinopel terlebih dahulu, masih ada satu kota lagi. Yaitu Roma, simbol agama Nasrani. Konstantinopel telah takluk ditangan Al-Fatih. Bagaimana dengan Roma?

Rasul memang tidak mengatakan secara langsung kapan dan siapa yang akan menaklukkan Roma. Tapi kalau kita menelisik sejarah penaklukkan Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih menyiapkan pasukan 250.000 personil untuk menaklukkan kota heraklius tersebut. Dan pastinya untuk menaklukan kota Roma juga diperlukan kekuatan sebesar itu atau bahkan melebihi.

Sebelum itu, kita memerlukan sesuatu yang lebih penting terlebih dahulu, yaitu persatuan umat dan Khilafah. Bagaimana cara kita menyiapkan pasukan jika tiada persatuan. Dan jika dahulu Konstantinopel takluk di tangan Daulah Islam, begitu juga Roma nantinya.

Kita perlu persatuan umat, dan Khilafah untuk bisa mewujudkan lagi janji Rasulullah. Tugas kita, sebagai generasi penerus al-Fatih, ditangan kita terdapat kunci kota Roma, adalah memperjuangkan persatuan umat dan tegaknya Daulah Islam, Khilafah. Bukan hanya diam, mematung, dan menyaksikan perkembangan zaman yang kian jauh dari Islam. Bangkit, berjuanglah agar muncul kekuatan dan kelak takluklah Roma di tangan kaum muslim, dan seluruh dunia kembali dinaungi pancaran Islam.

Berjuanglah, karena janji Rasulullah adalah hal yang harus kita perjuangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *