Terima Kasih Ibu

Oleh: Eviyanti (Pendidik Generasi dan Member AMK)

Aku seorang pelajar SMP, namaku Devi. Aku berusia 12 tahun, anak tunggal dari keluarga Sutomo, ya…ayahku bernama Sutomo dan ibuku bernama Tuti. Aku bersyukur sekali mempunyai orang tua yang sangat menyayangiku. Mereka selalu memperhatikan segala kebutuhanku. Aku gemar menggambar, membaca dan selalu menulis buku diary. Aktifitas inilah yang menemaniku dua tahun belakangan ini.

“Kreeeekk…”, suara pintu kamarku terbuka.

“Sudah bangun nak?”, tanya ibu kepadaku.

“Ini ibu sudah siapkan makanan kesukaanmu, sayur sop ditambah kerupuk udang dengan taburan bawang goreng”, kata ibu sambil menyimpan nampan yang berisi makanan tadi di atas meja samping tempat tidurku.
“Iya, makasih ya bu”, jawabku dengan pelan.

“Sini ibu bersihkan badanmu, ibu lap ya nak!”, sembari membangunkanku dari posisi bebaring. Kemudian dengan telaten ibu membersihkan dan mengelap seluruh badanku.

Setelah selesai membersihkan badanku, ibu kemudian menyuapiku dengan perlahan. Kedua matanya menatapku dengan tatapan yang sendu dan penuh kasih sayang.

“Ibu sudah tidak usah disuapi, toh Devi bisa makan sendiri”, kataku pada ibu.

“Tidak usah nak, biar ibu menyuapimu! Tidak apa-apa”, jawab ibu. Kemudia air mata ibu menetes jatuh ke pipi.

“Kenapa ibu menangis?, sudahlah Bu jangan difikirkan, jangan terlalu menjadi beban!, mungkin ini sudah menjadi qada dari Allah yang harus aku terima dengan ikhlas”, ucapku sambil menenangkan ibuku yang menangis terisak.

“Maafkan ibu nak! Kalau saja waktu itu kamu tidak mengejar orang jahat itu dan menyelamatkan ibu, mungkin keadaan kamu tidak akan begini”, ucap ibu sambil mengelus kepala dan rambutku yang tertutup kerudung merah jambu kesukaanku.

“Sudah tidak apa-apa bu, jangan diingat-ingat kejadian itu. Devi yang seharusnya berterima kasih, ibu telah merawat Devi dengan penuh kesabaran dan telaten”, jawabku sambil memeluk ibu.

Ya memang keadaanku sekarang sudah berbeda, tidak seperti dulu. Seorang anak remaja yang selalu ceria dan aktif. Seorang remaja yang aktif dengan berbagai kegiatan di sekolah dan di lingkungan rumah termasuk aktif dalam kegiatan remaja masjid.

Dua tahun yang lalu tepatnya bulan Oktober aku mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kedua kakiku lumpuh, tidak bisa berjalan. Sewaktu menyelamatkan ibu dari penjambret. Dengan spontan aku berlari mengejar penjambret itu, tiba-tiba ada sebuah mobil pick up yang menabrakku dari belakang, yang mengakibatkan kedua kakiku menjadi lumpuh dan tidak bisa berjalan.

Dua tahun terakhir ini pun aku menghabiskan sebagian besar waktuku di dalam kamar, hanya untuk membaca buku, menggambar atau menulis buku diary.

Mungkin pada awalnya, aku tidak bisa menerima keadaanku menjadi seperti ini. Karena aku masih ingin meraih mimpi-mimpiku pada waktu itu. Pasca dokter memberitahukan kalau kakiku lumpuh, aku seperti mau mati, duniaku seakan runtuh dan membayangkan masa depanku yang suram, karena tidak bisa melakukan banyak hal, layaknya teman-teman seusiaku yang normal.
Tapi dengan berjalannya waktu, aku bisa menerima keadaanku dengan ikhlas. Aku tahu ini yang terbaik yang Allah berikan kepadaku. Ini merupakan ketetapan dari Allah dan aku yakin pasti ada hikmah dibalik kejadian ini.
Semenjak aku mengalami kecelakaan , aku mencari kegiatan di rumah dengan membaca dan menulis. Ya aku menulis membuat beberapa cerita pendek yang aku kirimkan ke media online ataupun media tertulis seperti koran.

Alhamdulillah beberapa cerpenku dimuat di media. Ada yang diikutkan lomba ternyata menang. Setelah lama aku menulis dan lumayan banyak tulisan cerpenku, aku kumpulkan menjadi sebuah buku yang kuberi judul “Seberkas Cahaya”, yang kupersembahkan untuk ibuku yang selama ini telah sabar dan ikhlas merawat dan menyayangiku. Terima kasih ibu…

“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu”. (Qs. Lukman (31) : 14)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *