Tergantungnya Mimpi Jutaan Guru Indonesia

Oleh: Nur Aisyah, S.Pd.I

 

PPPK Menjadi Harapan Besar Guru

Seleksi PPPK setidaknya memberi angin segar bagi para guru. Terutama guru honorer yang berharap menjadi pegawai tetap dinegeri ini. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, terdapat 3.357.935 guru yang mengajar di 434.483 sekolah. Sementara jumlah siswa mencapai 52.539.935. dengan demikian, rasio rata-rata perbandingan guru dan siswa adalah 1:16. Rasio yang ideal dalam pemenuhan layanan belajar. Dan Saat ini baru 1.607.480 (47,8 persen) guru yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS), sedangkan 62,2 persen sisanya merupakan guru honorer.
Akan tetapi harapan akan mimpi itu pupus setelah tes PPPK tersebut telah dilaksanakan. Melihat kondisi dilapangan yang tidak sesuai dengan harapan. Tes yang mereka harap-harap bisa membawa mereka pada perubahan nyatanya hanya ilusi.

Banyak yang menilai bahwa tes PPPK itu tidak fair. Pasalnya tes tersebut hanya teoritis, bukan praktik mengajar seperti yang sudah mereka lakukan puluhan tahun. Dan tes PPPK tersebut juga menggunakan komputer, sedangkan banyak peserta tes dari kalangan guru senior yang sudah tua dan kurang paham dalam teknologi. sehingga banyak dari mereka yang tidak bisa lulus dalam passing grade.

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Lisannya digugu dan tingkah lakunya ditiru. Tugas dan amanah yang di emban sangatlah berat. Di tangannyalah generasi bangsa ini tumbuh dan berkembang. Setinggi-tinginya jabatan seseorang tidak akan lepas dari jasa seorang guru.

Sayangnya tugas yang emban tidak sebanding dengan upah yang didapatkan. Upah yang diterima oleh guru honorer masih sangat jauh dari kata layak. Mereka yang sudah mengabdi puluhan tahun pada negeri sama sekali tidak dihargai. Seleksi PPPK yang mereka anggap setidaknya, bisa memberi jaminan kehidupan guru honorer ketika bisa menjadi ASN, malah membuat nasib mereka kerkatung-katung tanpa kepastian.

Islam Mengatur Masalah Guru

Dalam sistem islam, pendidikan adalah kebutuhan wajib yang harus dipenuhi oleh negara. Negara harus menjamin segala fasilitas pendidikan. mulai dari infrastruktur, kurikulum, tenaga pengajar yang handal, sampai pelayanan pendidikan dengan akses yang mudah. Dan itu bisa didapatkan secara cuma-cuma atau gratis bagi setiap warganya.

Selain itu yang tidak kalah penting, dalam sistem islam kesejahteraan guru juga sangat diperhatikan. Pemerintah memberikan penghargaan tinggi termasuk memberi gaji yang fantastis pada seorang guru. Seperti yang perna dicontohkan oleh Khalifah Umar Bin Khathab ra. Beliau perna menggaji guru yang mengajar anak-anak kecil di madinah sebanyak 15 dinar (jika dikoversikan ke harga emas bisa serata dengan Rp. 51 juta/bulan. Dan gaji ini beliau ambilkan dan uang kas negara.

Dalam islam status guru begitu dihormati dan dimuliakan. Tidak ada perbedaan PNS maupun honorer. Dengan gaji yang begitu tinggi diharapkan guru bisa fokus dalam mendidik dan mempersiapkan generasi unggul tanpa memikirkan usaha sampingan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Begitulah islam memandang status guru. Dengan islam hidup guru bisa terjamin dan sejahterah. Dan pendidikan bisa di dapatkan secara gratis oleh semua warga negara.

Wallahua’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *