Tentang Astrazeneca

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: Mauli Azzura

 

Vaksin covid-19 merupakan bentuk pencegahan yang berfungsi mendorong pembentukan kekebalan tubuh spesifik pada penyakit covid-19 agar terhindar dari tertular atau kemungkinan sakit berat. Vaksinasi atau Imunisasi bertujuan untuk membuat sistem kekebalan tubuh seseorang supaya mampu mengenali dan dengan cepat melawan bakteri atau virus penyebab terinfesksi. Tujuan yang ingin dicapai dengan pemberian vaksin covid-19 adalah menurunnya angka kesakitan dan angka kematian akibat virus ini.

 

Sedang vaksin yang menjadi perbincangan dalam kurun waktu dekat ini adalah tentang vaksin AstraZeneca.

Vaksin AstraZeneca adalah vaksin university of oxford  yang ditujukan untuk melindungi dari covid-19.

Nama riset : AZD1222 (ChAdOx1)

Jenis vaksin : Vektor virus yang tidak mereplikasi.

Metode pemberian obat : Injeksi intramuskular.

 

Pemerintah pun memberitakan tentang keamanan dan kehalalan tentang vaksin AstraZeneca yakni Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa meski vaksin AsrtaZeneca mengandung unsur ilegal karena menggunakan ‘pig trypsin’ dalam proses pembuatanya. Meski demikian, MUI tetap membolehkan vaksin tersebut digunakan karena bersifat darurat. Pasalnya pig trypsin yang merupakan enzim babi hanya digunakan sebagai katalisator penyebaran virus Corona, sebab unsur fasesnya tidak bercampur, sehingga ulama NU sepakat bahwa vaksin AstraZeneca itu sakral dan dinyatakan halal dan thoyiban. (Tempo.Co 23/03/21)

 

Gelombang pertama vaksin AstraZeneca tiba di Bio Farma, Bandung, Jawa Barat pada Senin, 8 Maret 2021 sebanyak 1.1 juta dosis vaksin. Namun yang menjadi persoalan adalah mentri kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengaku baru mengetahui bahwa vaksin covid-19 AstraZeneca akan kadaluarsa pada Mei 2021. (https://nasional.kompas.com/read/2021/03/15/19352881/menkes-baru-tahu-vaksin-astrazeneca-kedaluwarsa-akhir-mei-2021)

 

Patut kita pertanyakan, bahwa kebijakan pemerintah dengan mendatangkan vaksin AstraZeneca yang sudah diluruskan tentang keamanan dan kehalalannya oleh ulama NU, ternyata belum diketahui efek dari vaksin AstraZeneca tersebut lantaran pihak Menkes masih menunggu hasil penelitian dari organisasi kesehatan dunia (WHO) terkait efek samping dari vaksin AstraZeneca. Itulah yang dilontarkan oleh Kemenkes Budi Gunadi Sadikin.

 

Pemerintah gencar menuntut rakyat untuk mentaati protokol kesehatan 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Padahal pemerintah sendiri terlihat lalai, lambat, dan terkesan lucu dalam menindaklanjuti virus tersebut.

 

Berbeda dengan kepemimpinan Islam yang akan mampu mendayagunakan semua yang dimiliki oleh negara termasuk dalam menangani pandemi, dengan mendahulukan keselamatan warga negara dan menyediakan vaksin berkualitas dengan menerapkan hukum, ajaran dan peraturan Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist.

 

” Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”. (QS. At-Thalaq 3)

 

Wallahu a’lam Bishowab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.