Tayangan Unfaedah : Masa Depan Pemuda Tidak Indah

Oleh: Ninda Mardiyanti YH. (Aktivis Mahasiswi Banjar)

Dunia remaja memang selalu menjadi polemik di masyarakat karena melihat tingkah lakunya. Tentang percintaan yang selalu menjadi sorotan publik. Ditengah permasalahan wabah yang belum juga usai, perekonomian negara, perpolitikan di negeri ini pun permasalahan belum dibereskan. Saat ini ditambah hadirnya persoalan baru menimpa generasi milenial. Tayangan film di salah satu stasiun televisi nasional yang dirilis pada hari Senin, 29 Juni 2020 pukul 18.25 memicu kontroversi di masyarakat karena film tersebut diangkat dan di adaptasi dari novel karya Mira W yang menurutnya terlalu vulgar lantaran ada kisah kehamilan diluar pernikahan pada seorang gadis belia. Hal ini Koordinator bidang Pengawasan Isi Siaran KPI Mimah Susanti mengatakan bahwa perlu adanya kehati-hatian. Oleh karenanya ada pengklarivikasian oleh Deputi Direktur Program stasiun televisi “meskipun adaptasi dari novel, namun tetap ada perbedaan jalan cerita” dilansir dari Tagar.id

Dari setiap persolan memang terdapat faktor penyebabnya, yang menjadi faktor penyebab dari fakta di atas adalah tidak lain karena penerapan sistem sekulerisme yang masih kuat diemban oleh negara. Peran agama hanya berlaku pada saat ibadah mahdoh saja, sementara dalam tatanan kehidupan termasuk dalam mengangkat sebuah tayangan menggunakan aturan lain yang dibuat oleh manusia yang lemah dan terbatas. Maka tak heran jika masih banyak tayangan-tayangan yang tidak bermutu, karena liberalisme atau paham kebebasan yang juga menjadi alasan. Kekhawatiran masyarakat sekarang sudah tersadarkan, khawatir kalau anak semata wayannya ikut terbuai dalam kemaksiatan karena tontonannya yang menjadi tuntunan mereka. Jika mereka tidak diarahkan maka bersiaplah mereka akan digoda syetan dan jatuh pada jurang perzinahan.

Sebenarnya bukan hanya tentang kehamilan yang menjadi perdebatan,bagi seorang muslim memandang bahwa karena pergaulan anak muda saat ini memang jauh dari syariat islam. Salah satu yang jadi pemicunya adalah melihat sebuah tayangan. Tayangan romance yang menjadi selera anak muda sampai akhirnya terbawa suasana karena adegan tiap adegannya mengundang buaian dalam asmara.

Maka disinilah pentingnya peran negara untuk terlibat dalam memilih sebuah tayangan. Tayangan berfaedah yang layak dikonsumsi banyak khalayak. Tidak lepas juga menayangkan bermuatan pendidikan supaya anak-anak yang menonton tidak khawatir dan tidak menjerumuskan pada jalan kemaksiatan.

Tetapi karena kapitalisme yang juga menjadi penyebabnya akhirnya tayangan tersebut menjadi jualan demi merenggut keuntungan. Kegagalan negara karena tidak mengurusi anak muda sangatlah terihat, tengoklah demi mendapatkan uang mereka rela mengorbankan masa depan anak muda. Jika negara terus-terusan mendiamkan artinya negara telah lepas tanggung jawab dan berhasil membuat masa depan anak muda menjadi suram. Padahal anak muda adalah aset bangsa yang sangat berharga.

Mengurusi anak muda memang bukan hanya tanggung jawab orang tua negara pun seharusnya ikut terlibat dan bertanggung jawab meriayah anak muda karena banyak orang yang mengatakan bahwa ditangan anak muda akan terjadi perubahan. Jika orang tua membiarkan, negara abai dan anak mudanya lalai bagaimana mungkin perubahan itu akan terwujud dengan gemilang?

Maka solusi supaya anak muda melalukan aksi revolusi perubahan dan tidak terbawa arus tayangan yaitu dengan menanamkan akidah yang kuat sejak dini. Orang tua yang menjadi faktor utama dalam memberikan pendidikan yang baik untuk anaknya dan juga mengarahkan aktivitasnya supaya sesuai syariat islam. Kemudian lingkungan juga ikut berperan dalam beramar ma’ruf nahyi mungkar supaya generasi muda tidak salah dalam bertingkah. Dan negara mampu menyajikan tayangan bermutu yang bisa membuat anak muda bangkit. Salah satu contohnya menayangkan bagaimana hebatnya Muhammad Al-Fatih dalam menaklukan kota Konstantinopel dengan strategi perangnya di usia yang sangat muda. Salahuddin Al-Ayubi pemuda yang berhasil membebaskan Al-Quds. Khalid bin Wallid pemuda yang dijuluki si pedangnya Allah karena telah berhasil menjadi panglima perang dan selalu menang.

Oleh karenanya dengan tayangan tersebut membuat anak muda mendapatkan role model dalam perjuangannya. Anak muda tidak lagi galau atau bucin karena asmara tetapi semangat berjuang demi membela agama. Memang tidak akan bisa jika masih menggunakan sistem buatan manusia, semua bisa terwujud jika sistem islam menjadi ideologi negara.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *