Taubatan Nasuha Cara Ampuh Hadapi Pandemi Corona, Bukan Taubat Sambal!

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh : Siti Sopianti (aktivis dakwah muslimah Bekasi)

Sambala, sambala, bala sambalado
Terasa pedas, terasa panas
Sambala, sambala, bala sambalado
Mulut bergetar, lidah bergoyang

Semua orang tentu tak asing dengan salah satu makanan pelengkap jenis ini. Apalagi kalau dihidangkan dengan nasi putih, ikan asin, sayur asem, lalapan, ayam/ ikan bakar. Hemmm, sedapnya menggugah selera. Tak jarang seseorang pun di kala diet berani untuk tidak makan nasi berhari hari. Namun kalau dihadapkan pada situasi sajian hidangan tersebut, pertahanan menjadi goyah. Keistiqomahan diet pun dipertaruhkan. Itulah “Sambel”. Lezat, tapi bikin pedas, lidah panas, perut melilit, mulas, jika terlalu berlebihan mengkonsumsinya. Sampai sampai kadang lisan berucap “Kapok ah, ga mau lagi makan sambel, bikin perut mules bolak balik kamar mandi, asam lambung jadi tinggi”. Tapi apa yang terjadi esok hari. Lagi-lagi tergoda mencobanya. Itulah sebabnya kadang seseorang yang sering berbuat salah lalu taubat. Namun kemudian mengulangi kesalahannya kembali sering kali dibilang Taubat Sambel.

Ngomong – ngomong tentang taubat, penulis ingat berita yang terjadi akhir – akhir ini. Pada acara Muktamar IV PP Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) tahun 2020 di Istana Bogor Jawa Barat. Presiden Joko Widodo mengingatkan masyarakat terutama kaum muslimin untuk banyak-banyak mengingat Alloh Swt dengan berdzikir, taubat, berinfaq dan sodaqoh untuk membantu saudara – saudara yang terkena dampak pandemi. Diharapkan semua orang banyak berdo’a semoga pandemi ini cepat berakhir. (merdeka.com.26/09/2020).

Orang nomor satu di Indonesia ini menyadari pandemi telah merubah tatanan hidup di dunia terutama bidang ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot pada kuartal II ditahun 2020 sebesar 5,32%. Banyak penduduk di Nusantara kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Namun jokowi menghimbau untuk tidak menyerah dengan polemik yang terjadi saat ini. Perlu penanganan yang kompak antara pemerintah dan masyarakat agar senantiasa menjaga protokol kesehatan dan berdo’a kepada Alloh Swt. (Kompas.com.26/09/2020).

Ajakan Pak presiden untuk taubat memang ada benarnya. Namun taubat seperti apa yang sesungguhnya Alloh Swt inginkan? Tentunya taubatan nasuha. Bukan Taubat Sambel. Indonesia saat ini masih menerapkan Sistem Kapitalis Sekuler dimana peran agama dalam mengatur sistem kehidupan baik di tengah masyarakat maupun di dalam pemerintahan sering diabaikan. Tak jarang di saat ada tokoh yang mengkampanyekan agar hukum Alloh Swt ditegakkan dalam mengatur kehidupan politik dan pemerintahan sering dicibir, diabaikan bahkan dianggap suatu ancaman. Padahal kalau mau direnungkan, itulah langkah awal menuju pertaubatan yang digaungkan presiden dalam menghadapi pandemi covid-19 saat ini. Tentunya taubatan nasuha.

Menurut da’i kondang KH Abdullah Gymnastiar yang sering kita sebut Aa Gym pertolongan Alloh Swt akan turun jika kita semua melakukan 3 T dibawah ini :

1. Taubat Nasuha dalam arti pertolongan Alloh Swt akan turun dan tercurah bagi mereka yang mau merendahkan diri dan mengakui kesalahan.”Sesungguhnya Alloh Swt menyukai orang – orang yang bertaubat dan mensucikan diri” (Al-Baqarah ayat 222). Ada 4 syarat dikategorikan Taubatan Nasuha yaitu menyesal dengan sepenuhnya penyesalan, memohon ampun kepada Alloh Swt, berjanji tidak mengulanginya lagi, dan mengiringi dengan amal sholeh.

Harus diakui dan disadari oleh penguasa Indonesia maupun kita sebagai rakyatnya bahwa selama ini telah salah di hadapan Alloh Swt. Kesalahan tersebut adalah dengan tidak menjadikan Al-Qur’an dan sunnah sebagai sumber hukum. Tidak mau menerapkan hukum-hukum Alloh Swt. Seharusnya kita semua menyesali dengan kesalahan tersebut bahwa kita sudah berdosa di hadapan Alloh Swt dan berupaya bagaimana hukum Alloh Swt bisa ditegakkan di muka bumi ini. Berjanji kepada Alloh Swt untuk tidak menggunakan Sistem diluar Islam dalam menjalankan roda kehidupan.

2. T Kedua yaitu Taat. Pertolongan Alloh Swt akan datang bagi mereka yang mau taat. Terlebih ketika wabah mulai menjamur di dunia. Seharusnya untuk negara yang berpenduduk muslim terbesar. Penguasa mencontoh dan mencari tau bagaimana Islam memberikan solusi dalam menghadapi wabah dan hal – hal apa yang perlu ditempuh. Tak ada lagi solusi terbaik selain taat dan meminta petunjuk kepada Alloh Swt. Taat disini penguasa seharusnya mengajak masyarakat untuk benar- benar menjalankan perintah Alloh Swt, mencontoh apa yang dilakukan Rasululloh Saw dan para sahabat ketika menghadapi wabah. Berusaha meninggalkan maksiat yang mengundang murka Alloh Swt. Berusaha amanah dengan menomersatukan keselamatan rakyat agar terhindar dari covid – 19.

Salah satu kemaksiatan yang merupakan dosa besar yaitu berhutang dengan riba. Itu harusnya dihindari. Bahkan seharusnya ditinggalkan. Jangan sampai kesulitan Ekonomi karena pandemi dijadikan alasan untuk menambah hutang keluar negri. Itu malah menimbulkan ketidakbarokahan, mengundang murka Alloh Swt. Justru seharusnya berupaya bagaimana hutang tersebut terbayarkan. Biar terbebas dari riba.

3. T ketiga yaitu Tawakal.
Tawakal itu penting. Penguasa terus berusaha menghimbau pada masyarakat untuk tawakal. Jika taubatan nasuha secara total telah dilakukan, hukum Alloh telah ditegakkan, cara mengatasi wabah pun telah diupayakan sesuai syariat Islam. Maka usaha terakhir yang perlu dilakukan adalah tawakal.
“Alloh Swt berjanji pada ahli tawakal. Barangsiapa bertaqwa kepada Alloh Swt, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberikan rizki dari arah yang tak disangka-sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Alloh Swt. Niscaya Alloh Swt akan mencukupkan (keperluannya).” (At-thalaq 2-3)

Banyaknya masyarakat yang putus asa di tengah pandemi bahkan ada beberapa orang yang berani mengakhiri hidup dengan bunuh diri karena himpitan ekonomi menjadi bukti peran negara dalam mengayomi rakyat kurang terasa nyata. Di sinilah tawakal seharusnya digalakkan.

Lalu solusi konkrit apa yang perlu dicontoh dari para Khalifah Islam dalam mengatasi wabah?
Disaat penguasa dan rakyatnya sadar dengan kesalahannya dengan taubat nasuha, maka akan muncul di dalam hati untuk terikat dengan hukum syara dalam mengatasi wabah. Solusi Islam dalam mengatasi wabah adalah sebagai berikut :

A. Menelusuri latar belakang penyakit dan membatasi wabah di tempat awal kedatangannya.Tipe karantina ini ada dalam sejarah Khilafah Islam. Jauh sebelum adanya karantina yang dilakukan negara maju. Hal ini dalam rangka menekan penyebaran transmisi wabah/virus.

Imam al-Bukhari telah meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Usamah bin Zaid dari Nabi saw, beliau bersabda:

«إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا«

“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.”
Diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dari Aisyah ra. isteri Nabi saw , ia berkata: aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang Tha’un lalu beliau memberitahuku:
.
«أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِراً مُحْتَسِباً يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ»
.
“Tha’un itu merupakan azab yang Allah turunkan terhadap siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat untuk orang-orang mukmin. Maka tidak ada seorang hamba pun yang tha’un menimpa, lalu dia berdiam di negerinya seraya bersabar mengharap ridha Allah, dia tahu bahwa tidak ada yang akan menimpanya kecuali apa yang telah Allah tuliskan untuknya, kecuali untuknya semisal pahala syahid.”

Islam membatasi penyakit di tempatnya dan masyarakat wilayah terjangkit wabah tetap tinggal di situ dan masyarakat lainnya tidak diperkenankan masuk ke tempat yang terjangkit wabah.

B. Negara menjamin kebutuhan pokok rakyatnya ketika daerah yang terjangkit diisolasi (Lockdown), Penguasa dalam khilafah mempunyai pemahaman spiritualitas yang tinggi, sehingga rakyat tidak ditinggalkan sendirian dalam menghadapi wabah corona, pendanaan atas kebutuhan rakyat dijamin seluruhnya oleh negara melalui kas Baitul Mal. Ketika kas negara mencukupi, tidak dibenarkan rakyat dihimbau untuk patungan/donasi oleh penguasanya. Tanpa adanya himbauan dari penguasa pun sebetulnya konsep saling membantu sudah tercakup dalam hukum syara’. Sehingga rakyat dengan sukarela didorong atas pemahaman spiritual untuk saling membantu saat kesulitan.

C. Negara juga harus komitmen memberikan pelayanan kesehatan berupa pengobatan dan obat secara gratis untuk seluruh rakyat, mendirikan rumah sakit dan laboratorium pengobatan. Penelusuran penyakit dilakukan oleh para ahli kesehatan dan didukung infrastruktur yang memadai untuk segera dilakukan penelitian atas virus wabah tersebut, sehingga didapatkan penindakan dan rekomendasi terbaik untuk pengobatan dan aspek lainnya yang termasuk kebutuhan asasi rakyat di dalam daulah seperti halnya pendidikan dan keamanan dijamin penuh oleh negara.

D. Rakyat yang sehat diperbolehkan kerja. Kehidupan sosial dan ekonomi tetap berlanjut sebagaimana sebelumnya ketika penyakit menular belum mewabah, tidak menghentikan kehidupan masyarakat secara umum dan mengisolasi mereka di rumah, yang akan menambah persoalan berikutnya, yakni melumpuhkan kehidupan ekonomi atau hampir lumpuh sehingga dapat menimbulkan krisis.

E. Dalam merealisasikan kebijakan-kebijakan yang prinsip pengaturannya didasarkan pada syariat Islam, dan ditujukan untuk kemashlahatan rakyat. Maka, mbencana meliputi penanganan pra bencana, ketika, dan sesudah bencana yang sesuai rambu-rambu Islam baru dapat terlaksana secara komprehensif oleh manajemen bencana model Khilafah Islamiyah yang tegak di atas akidah Islamiyah. (Trenopini.Com.29/03/2020).

Jika semua sudah diupayakan. Taubat nasuha, memurnikan ketaatan dan diakhiri dengan tawakal. Maka sekali kali jangan punya niatan untuk berbelok dari hukum-hukum Alloh Swt. Karena jika itu dilakukan. Taubat yang selama ini digaungkan cuma di mulut semata. Layaknya “taubat sambel”. Jangan sampai jargon “takut kepada Alloh Swt” itu terlontar di saat kampanye saja untuk menarik masa. Namun pada faktanya setelah kampanye usai atau wabah berlalu selalu menolak diatur oleh hukum Alloh Swt. Sangat disayangkan, cuma hanya sekedar janji manis. Manusia mungkin bisa mudah dikelabui, tapi Alloh Swt Maha berkuasa, Maha besar. Takut – takutlah kepada Alloh Swt dengan bersungguh-sungguh karena siksa Alloh Swt diakhirat sangat pedih. Kita lemah sebagai manusia. Mudah bagi Alloh Swt untuk berbuat apapun. Namun Alloh Swt Maha Rahman dan Rahim. MashaAlloh. Wallohualam bissowab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.