Tatanan Hidup Baru Apakah Perlu?

Oleh: Tri nuryani

Pemerintah Indonesia melalui Juru Bicara Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto mengatakan, masyarakat harus menjaga produktivitas di tengah pandemi virus corona COVID-19 dengan tatanan baru yang disebut new normal. Menurutnya, tatanan baru ini perlu ada sebab hingga kini belum ditemukan vaksin definitif dengan standar internasional untuk pengobatan virus corona. Para ahli masih bekerja keras untuk mengembangkan dan menemukan vaksin agar bisa segera digunakan untuk pengendalian pandemi COVID-19. “Sekarang satu-satunya cara yang kita lakukan bukan dengan menyerah tidak melakukan apapun, melainkan kita harus jaga produktivitas kita agar dalam situasi seperti ini kita produktif namun aman dari COVID-19, sehingga diperlukan tatanan yang baru,” kata Achmad Yurianto dalam keterangannya di Graha BNPB, Kamis (28/5/2020).(tirto.id 29 mei 2020)
New Normal life yang dimaksud ini adalah tatanan, kebiasaan dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi untuk membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat. Cara yang dilakukan dengan rutin cuci tangan pakai sabun, pakai masker saat keluar rumah, jaga jarak aman dan menghindari kerumunan. Dan kebijakan New Normal merupakan kebijakan untuk membuka tempat publik seperti sekolah, perkantoran, pelabuhan, bandara, tempat ibadah dan lain-lain dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

Presiden Joko Widodo sendiri bahkan sempat menyampaikan dengan istilah berdamai dengan Corona. Tak hanya itu, Mahfud MD, Menkopolhukam menganalogikan bahwa virus corona ini bagaikan istri yang tak bisa ditaklukan jadi terpaksa harus hidup berdampingan. Analogi ini mengisyaratkan bahwa kebijakan New Normal tak memiliki dasar sains dan terkesan terburu-buru. Kenapa bisa dikatakan demikian? Alasan yang bisa memperkuat pernyataan ini adalah bahwa kebijakan New Normal tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan WHO.

Bagaimana bisa menerapkan New Normal sementara grafik pasien positif corona semakin meroket? Juru bicara pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyampaikan adanya penambahan jumlah pasien yang positif terinfeksi virus corona di Indonesia pada Rabu (3/6/2020). Dalam 24 jam terakhir sejak Selasa (2/6/2020), pasien Covid-19 bertambah 684 kasus. Dengan demikian, total pasien positif hingga Rabu pukul 12.00 WIB mencapai 28.233 kasus. Kita mendapatkan kasus konfirmasi positif sebanyak 684, sehingga total menjadi 28.233,” kata Yuri dalam konferensi pers dari Graha BNPB, Jakarta, Rabu sore.(Kompas.com 3 Juni 2020)

Sejak awal Maret 2020, kebijakan penanganan percepatan Covid-19 di Indonesia, memang terkesan plin plan. Dapat dilihat dari masih longgarnya (TKA) yang masuk ke Indonesia, (PSBB), hingga berdamai dengan corona yang dimaknai sebagai kondisi New Normal. Ini membuktikan bahwa rezim sudah tak mampu menangani wabah ini, dan telah gagal menjaga dan memenuhi semua kebutuhan rakyatnya.

Pandemi corona ini benar-benar telah membongkar cacat sistem sekuler kapitalis. Menghancurkan semua sendi kehidupan manusia. Mulai dari aspek politik dan kekuasaan, ekonomi dan keuangan, sosial serta hukum dan yang lainnya. Wajar jika rakyat mulai banyak yang kecewa dan terbuka mata. Bahwa sistem ini hanya menjanjikan angan-angan soal hidup bahagia dan sejahtera. Apalagi faktanya, negara sebesar dan sekuat apapun di dunia, ternyata tak mampu mengatasi serangan wabah yang tiba-tiba, berikut semua kerusakan global yang dimunculkannya.

Dari wabah corona ini memang telah memberi kita banyak pelajaran. Salah satunya bahwa kekuasaan yang tak berbasis pada akidah Islam hanya akan melahirkan kerusakan. Berbeda jauh dengan kekuasaan yang tegak di atas landasan iman. Kekuasaan Islam telah terbukti membawa kebaikan dan keberkahan bagi seluruh alam. Karena sistem hidup yang diterapkannya berasal dari Sang Maha Pencipta Kehidupan.

Kekuasaan Islam yang disebut sebagai Daulah Islam(Khilafah), senantiasa menempatkan urusan umat sebagai urusan utama. Harta, kehormatan, keamanan dan nyawa rakyatnya dipandang begitu berharga. Karena semuanya adalah jaminan dari penegakan hukum syara’. Kesadaran ruhiyyah akan tanggungjawab inilah yang mendorong para penguasa (khalifah) menyediakan hak-hak rakyat dengan hati-hati dan dengan pelayanan terbaik dari kemampuan yang mereka miliki. Tanpa melihat apakah rakyatnya tahu apakah mereka memintanya atau tidak.

Sungguh hari ini, umat manusia dan alam semesta benar-benar membutuhkan sistem Islam. Sebuah sistem pengganti bagi sistem sekuler kapitalisme yang telah terbukti rusak. Namun berusaha mewujudkan sistem Islam tentu bukan sekadar karena dorongan kebutuhan. Melainkan karena lahir dari kesadaran, bahwa terikat dengan Islam secara keseluruhan adalah sebuah kewajiban.

Allah swt berfirman “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *