Tatacara Umar bin Khattab Mengelola Pemerintahan

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala

Umar bin Khattab RA adalah Khalifah umat Islam yang kedua. Beliau memimpin seluruh kaum Muslimin setelah sepeninggalnya Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar as Shiddiq RA.

Meski hanya 10 tahun memerintah Umar bin Khattab RA berhasil menorehkan tinta emas peradaban Islam di dunia. Maka tak heran banyak orang di Indonesia dari level rakyat jelata hingga Presiden ingin menjadi seperti Beliau.

Yang sering diketahui masyarakat adalah karakter Umar yang kuat dan keras dalam memegang keadilan. Beliau satu-satunya Sahabat yang berani mengumumkan hijrahnya ke Madinah.

Barangsiapa yang ingin istrinya jadi janda, anaknya jadi yatim hendaknya menghalangi Beliau. Namun apa daya tak seorang pun yang berani.

Umar bin Khattab RA pun terkenal sebagai Khalifah yang merakyat. Setiap malam blusukan memperhatikan urusan umat. Tak bisa dibandingkan dengan pemimpin sekarang yang jarang blusukan. Kalau pun rajin menjelang momen pemilu.

Umar bin khattab RA pun pernah memakan roti kering nan keras dibalut madu sebagai pemanis rasa. Demikian pribadi Beliau, namun sangat sedikit yang membahas tentang tata cara Beliau mengelola negara, mengatur pemerintahan.

Umar bin Khattab RA tidak butuh staff khusus Khalifah. Karena Beliau sendiri sudah tinggi tsaqofah (ilmu) keIslamannya. Beliau adalah seorang mujtahid mutlak.

Beliau hanya dibantu beberapa orang Muawin yang juga tak punya staf khusus. Memiliki staff khusus yang gajinya selangit seperti zaman sekarang adalah pemborosan. Dan pemborosan adalah kawannya setan.

Beliau adalah orang yang bisa dikatakan peletak ilmu anti korupsi. Dengan mengaudit selesih jumlah kekayaan para pejabat sebelum menjabat dan di akhir jabatan, kelebihan harta yang tidak wajar bisa ditelusuri. Pejabat negara yang korupsi langsung dihukum dengan Syariah Islam.

Gaji gubernurnya diperbesar sedangkan Beliau sendiri tak mau gajinya dinaikkan oleh negara. Beliau sering meminjam uang dari Baitul Mal (Kas Negara) karena kesulitan hidup.

Bayangkan seorang pemimpin kaum Muslimin hidup dalam keadaan sederhana. Otomatis para pejabatnya pun hidup sederhana.

Ketika Khalifah Umar ditanya mengapa tidak mau hidup mewah padahal ia mampu jika mau? Mengapa harus memakai pakaian tambal sulam dan tidur beralaskan pelapah kurma? Beliau berkata karena Rasulullah SAW yang lebih baik dariku juga hidup seperti ini.

Bandingkan dengan pemimpin sekarang yang mobil khususnya saja lebih mahal daripada mobil Presiden Perancis. Berstaffkan anak muda millineals yang gajinya lux per bulan.

Khalifah Umar pun tak segan menindak para gubernurnya yang zhalim kepada masyarakat. Ketika seorang Yahudi meminta keadilan kepada Beliau karena rumahnya mau digusur Gubernur Mesir kala itu.

Umar mengirimkan sebuah tulang yang telah digores pedang. Garis lurus itu membuat gemetar Gubernur Amr bin Ash RA yang kemudian membiarkan rumah Yahudi itu tanpa eksekusi.

Yahudi itu pun memilih masuk Islam. Dia kaget tak percaya akan keadilan Islam terhadap non-Muslim.

Inilah sikap pemimpin yang adil. Ketika rakyat sengsara ia ikut sengsara makan roti kering plus madu. Tidak mau memperkaya diri. Dan tak mau nepotisme.

Beliau tak ingin keturunannya, Abdullah bin Umar RHUMAA, maupun puteranya yang lain menjadi khalifah setelahnya. Beliau tegas kepada orang besar dan menerima aduan setiap warga negara tak pandang status sosial dan agamanya.

Kini kita rindu sosok seperti Beliau. Semoga hadir lagi yang seperti dirinya. Yang terlahirkan dalam sistem yang sempurna. Buatan Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana[]

NTT, 26 November 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *