Tarif Listrik Membengkak, Menyengat Hati Para Emak

Oleh: Fida Hafiyyan Nudiya, S.Pt

Seorang ibu nampak murung, rupanya ia baru saja shock setelah menyadari tagihan listriknya naik luar biasa dibanding sebelumnya. Ia yang biasa hanya menghabiskan 150-180 ribu perbulan, dua bulan ini bayarannya membengkak menjadi 750-850 ribu.

Kisah di atas juga mungkin dialami oleh ribuan rumah tangga lainnya. Di situasi pandemic ini, nyaris semua rumah tangga terdampak secara ekonomi. Namun nampaknya pemerintah justru abai menjalankan peran dan tanggungjawabnya sebagai pemelihara urusan masyarakat. Dana bansos yang seharusnya dianggarkan 600 ribu perbulan untuk keluarga dengan kriteria tertentu, justu dipangkas menjadi 300 ribu perbulan. Kemana sisanya yang 300 ribu? Nampaknya aroma ‘korupsi’ tercium menyengat meski rakyat sedang dalam situasi sulit. Sangat disayangkan, empati pemerintah terhadap masyarakat sangat nihil sehingga mau tidak mau banyak yang terpaksa harus mencari nafkah diluar rumah meski dalam situsi wabah.

Kebijakan pemerintah yang mencla-mencle alias tidak konsisten justru menjadikan kurva penyebaran covid saat ini masih tinggi, bahkan di Surabaya terjadi peningkatan jumlah 1000 orang perhari. Hingga menjadikannya zona hitam. Sisi lain, rakyat yang justru disalahkan. Seharusnya dalam situasi ini, pemerintah membantu rakyat yang kesulitan, bukan malah menaikkan listrik secara diam-diam.

Sayangnya saat dikonfirmasi, PLN mengelak telah menaikkan listrik selama masa pandemic. Kenaikan tagihan listrik dianggap wajar karena penggunaan yg meningkat karena WFH dan BDR. “Setelah ada PSBB tentu saja kegiatan di rumah lebih banyak, belajar dari rumah menggunakan fasilitas internet yang membutuhkan listrik. Bapak-bapak kerja juga dari rumah membutuhkan listrik. Lalu AC juga, sehingga mengakibatkan kenaikan pada bulan selanjutnya,” ujar Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Syahril. Padahal pelanggan yang mengeluhkan membengkaknya listrik ini tidak semuanya menggunakan listrik lebih banyak disbanding bulan sebelumnya, bahkan rata-rata menyebutkan penggunaan listrik di meteran tidak jauh berbeda disbanding bulan-bulan sebelumnya. Namun kenaikan bias mencapai 4x lipat.

Ini menegaskan pemerintah tidak peduli terhadap kesulitan rakyat dan sektor strategis layanan publik dan tidak menyesuaikan pelayanannya dengan pendekatan meringankan kesulitan yg dihadapi masyarakat di masa pandemic. Padahal di masa pandemic ini, rakyat butuh kepedulian yang tinggi dari penguasa, bukan justru dipersulit berbagai sector penting dalam kehidupannya.

Sudah saatnya kita merindukan pemimpin yang menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam memelihara urusan rakyatnya. Rindu itulah yang membuat hati kita tergerak untuk memperjuangkan sistem Islam, yang telah terbukti mampu menyejahterakan umat dalam seluruh aspek kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *