Tanpa New Normal, Ekonomi Hancur, Negara Susah?

Oleh: Abu Mush’ab Al Fatih Bala (Penulis Nasional & Pemerhati Politik Asal NTT)

Tanggapan masyarakat tentang new normal beragam. Ada yang mendukung tetapi banyak pula yang menolak.

Kurva positif Covid-19 selalu naik. Tidak ada tanda-tanda menurun tajam. Sehingga ketika wacana New Normal digaungkan masyarakat bertanya-tanya apakah nanti tidak bergesekan dengan penyebaran virus Covid-19?

Maka banyak alasan digelontorkan oleh orang-orang yang pro New Normal (NM), misalnya yang terpapar Corona kebanyakan sembuh. Kalau pun ada yang meninggal itu lebih banyak dari kalangan lansia, anak-anak dan orang dengan penyakit bawaan.

Jika tidak NM, negara bakal kehilangan banyak dana. Sekarang saja ketika PSBB dilaksanakan sudah menghabiskan banyak dana apalagi ketika masih saja dipertahankan.

Tentu pengeluaran negara semakin besar, krisis ekonomi siap menyambar dan imbasnya kepada masyarakat juga. Pebisnis besar mau pun kecil akan gulung tikar.

Mayoritas masyarakat kita bukan produsen. Sebagai konsumen terbesar jika tidak menemukan akses untuk memenuhi hajat hidupnya dari pebisnis, hidup mereka dalam ancaman.

Oleh karena itu, new normal adalah pilihan terbaik. Toh, banyak daerah yang sudah zona hijau. Kalau pun terkena virus Covid-19, imun manusia nya sangat kuat dan ditambah dengan penguatan mental tentu bisa segera sembuh dari virus liar ini.

Sebenarnya akar masalahnya bukan pada apakah akan NM atau tidak. Kesalahan awalnya adalah terlambat lock down. Jika lock downnya dilakukan sejak Desember dengan menutup akses keluar masuk negeri (transportasi antar negara) tentunya provinsi-provinsinya tetap zona hijau dan beraktivitas seperti biasa.

Ekonomi pun lancar karena negara hanya memerlukan waktu 1-2 bulan untuk lock down dini. Dana yang terkuras tentu jauh lebih sedikit daripada yang terkuras akhir-akhir ini.

Selanjutnya, adalah tidak tepat menganggap bahwa yang meninggal karena Corona adalah lansia, orang dengan penyakit bawaan dan anak-anak. Ini menunjukkan bahwa orang berpendapat demikian menganggap nyawa ketiga golongan ini tidak berguna.

Padahal nyawa satu orang itu sangat berarti. Dalam Islam, menyelamatkan nyawa seorang seperti menyelamatkan nyawa sedunia. Membunuh seseorang tanpa alasan yang benar (sesuai syariah) seperti membunuh manusia sedunia.

Lansia, misalnya, tentu pernah berkontribusi kepada negara ketika muda nya. Minimal ada yang telah melahirkan generasi muda penerus bangsa.

Nyawa anak-anak juga penting karena mereka lah harapan masa depan negara. Begitu juga orang dengan penyakit bawaan, itu bukan kemauan mereka.

NM menurut banyak kalangan hanya menguntungkan kapitalis besar. Ketika PSBB dilaksanakan, ternyata masih banyak oknum pengusaha atau kapitalis yang meloloskan UU yang memudahkan penjarahan SDA. Kapitalis ini memanfaatkan situasi pandemi sebagai alasan.

Banyak kapitalis yang mendukung NM agar bisnisnya laku. Maka yang seharusnya dilakukan penguasa adalah menghentikan penjarahan SDA. Tunjukkan kedaulatan.

SDA dikelola perusahaan negara dan dananya dipakai untuk lock down. InsyaAllah mampu untuk memenuhi logistik masyarakat satu negeri.

Melindungi keperluan kesehatan dan pendidikannya. Lock down bisa sempurna bila ada kerjasama yang apik antara pemimpin dan rakyatnya tanpa dukungan kepada Kapitalis besar. InsyaAllah akan cepat memutus rantai penyebaran Covid-19 yang merusak ekonomi suatu negara. []

Bumi Allah SWT, 6 Juni 2020

#DenganPenaMembelahDunia
#SeranganPertamaKeRomaAdalahTulisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *