Tangisan Anak-anak Papua Ketika Akan Ditinggal Sang Ustadz

SuaraInqilabi– Curahan hati Ketua DPW Hidayatullah Papua, Ustadz Muallimin ketika akan meninggalkan medan dakwah di tanah Wamena, Papua. Muallimin menyatakan keprihatinan atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di Wamena beberapa waktu lalu. Dalam tulisannya dia mencurahkan isi hatinya bahwa ia tak ingin meninggalkan medan dakwahnya, apalagi sampai hati meninggalkan para santrinya di tanah emas Papua.

“Kami bukan tak mau pulang, bukan pula kami tidak ketakutan. Setiap hari hati kami gemetar melihat keadaan yang semakin hari tambah menakutkan. Bukan kami tidak sayang orang tua maupun sahabat yang selalu menelepon meminta kami pulang dan beranjak dari tempat ini. Tapi kami memikirkan Islam yang bertahun dibangun dan dijuangkan ditempat ini. Anak-anak santri yang masih menjadi mutiara emas untuk Agama Islam,” ungkap rintihan hati Ustadz Muallimin.

“Jika kami harus pulang maka segala usaha itu kembali ke nol. Masyarakat dan juga anak-anak kembali menjadi manusia awam yang tidak lagi tahu apa itu keharmonisan. Islam yang sudah dibangun dengan darah, bahkan nyawa tidak mampu kami tinggalkan begitu saja.”

“Semua orang khawatir atas kondisi kami ditempat ini. Mereka bilang, kami tidak takut mati karena menyangka egois dan naif. Tapi inilah keadaannya, kami masih berat meninggalkan dakwah Islam di tempat pondok Pesantren Al-Istiqomah Walesi Wamena.”

“Kami sejujurnya ingin sekali berada di dekat orang tua, hidup tentram dan damai. Tidak berdesakan dengan ribuan manusia dan jauh dari ketakutan karena suara tembakan dimana-mana. Tapi, kami juga tidak mampu menahan sakitnya meninggalkan anak-anak polos yang baru mengenal Islam.”

Mereka selalu bilang,  “Ustadzah dan Ustad, jangan pulang, kalau guru-guru pulang, kami akan kemana? Pasti kami akan tinggalkan shalat dan buka aurat. Apa hendak yang akan kami lakukan jika manusia yang tidak berdosa selalu mengambil tangan kami dan memohon agar kami tidak meninggalkan tempat ini.

Bahkan masyarakat pun ikut memotivasi para da’i. “Ustadz, jika pulang, maka Islam ini akan ikut hilang. Kami siap menjaga Ustadzah dan Ustadz serta guru-guru lainnya, asalkan tidak meninggalkan tempat ini. Kami yang akan menjadi manusia terdepan manakala ada serangan dari luar sebelum ke guru kami.

“Hatiku hancur dengan kata-kata itu, hingga menjadi pukulan berat bagiku untuk meninggalkan tempat ini. Bukan penguasa dan bahkan tangan-tangan orang besar yang menjamin kami, tapi orang-orang kecil yang juga takut kehilangan nyawanya, namun mereka rela berkorban siang dan malam menjaga kami, agar tetap bertahan ditempat ini.”

“Lantas, kami harus berbuat apa, saat kondisi ini  justru memaksa kami tetap berjuang  mempertahankan Agama Islam. Bendera Jihad itu terlalu kuat untuk ditinggalkan, kami yakin ada bala tentara Allah yang akan membantu kami. Yang akan menjadikan kami tenang dan aman. Hanya kenyakinan itu yg membuat kami kuat dan tetap bertahan ditempat ini.”

“Duri sudah biasa kami pijaki, namun saat ini malah api yang menguji kami. Namun tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Hanya kepada Allah kami yakinkan diri, bahwa kami akan baik-baik saja. Dan bagi keluarga maupun saudara saat ini, kami hanya butuh doa dan dukungan agar kami tidak kehilangan harapan dan kenyakinan.”

Seperti inilah curahan hati pendakwah di pedalaman Papua, Ustadz Muallimin yang ditulis dalam surat panjangnya yang beredar di dunia maya. Dia juga minta didoakan agar diberi ketabahan dan kekuatan untuk bertahan, istiqomah berdakwah di Papua dan mendidik para santrinya. [] Gesang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *