Tahun Ajaran Baru Saat Pandemi Belum Selesai

Oleh : Dewi Rahayu Cahyaningrum (Komunitas Muslimah Rindu Jannah Jember)

Pandemi Corona atau Covid-19 ternyata tidak hanya menyerang orang dewasa dan remaja, tetapi juga menyerang anak-anak bahkan di bawah umur (balita). Sehingga penyebaran pandemik Corona atau Covid-19 masih belum bisa dikatakan berakhir. Bahkan kasus Corona atau Covid-19 pada anak Indonesia cukup besar bila dibandingkan dengan negara lain.

Hampir 1000 anak yang terinfeksi Corona atau Covid-19 tersebut ternyata tertular melalui orang tuanya bahkan bisa melalui lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh adalah Jakarta. Di Jakarta jumlah kasus Corona atau Covid-19 yang tercatat positif terdapat 91 balita untuk usia 0-5 tahun. Data menunjukkan sebanyak 42 balita perempuan positif Corona atau Covid-19, sedangkan laki-kaki sebanyak 49 balita.

Sementara itu, kasus positif Corona atau Covid-19 anak untuk usia 6-19 tahun tercatat sebanyak 390 anak, dengan rincian 195 perempuan dan 195 laki-laki. Jumlah Orang Dalam Pantauan (ODP) anak perempuan mencapai 904, sedangkan laki-laki 910. Dan untuk Pasien Dalam Pantauan (PDP) sebanyak 199 anak perempuan dan 197 anak laki-laki.

Melihat kondisi yang sedemikian parahnya maka Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman B Pulungan menyatakan bahwa resiko penularan Corona atau Covid-19 cukup tinggi sehingga yang harus dilakukan oleh para orang tua yaitu melakukan pengawasan terhadap anak, terlebih jika terdapat kegiatan di luar rumah (HaiBunda, Minggu,31/5/2020).

Data-data di atas menunjukkan bukti bahwa rumor Corona atau Covid-19 tidak menyerang anak-anak adalah salah besar. Dan dengan adanya kondisi dan situasi yang belum memungkinkan tersebut maka rencana tahun ajaran baru dengan sekolah new normal akan menghadapi kerawanan masalah tersendiri.

Menurut Retno Listyarti Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementrian Agama (Kemenag) harus terus mengkaji langkah pembukaan sekolah pada 13 Juli 2020.

“Beberapa negara membuka sekolah setelah kasus positif Corona atau Covid-19 menurun drastis bahkan sudah nol kasus. Tetapi itupun masih ditemukan kasus penularan Corona atau Covid-19 yang menyerang guru dan siswa. Peristiwa itu terjadi di Finlandia. Padahal mereka tentu mempunyai sistem kesehatan yang baik. Persiapan pembukaan sekolah yang matang. Dan sekolah pun akhirnya menjadi klaster baru,” kata Retno.

Begitu juga dengan China, pembukaan sekolah dilakukan setelah tidak ada kasus positif Corona atau Covid-19 selama 10 hari. “Pembukaan disertai penerapan protokol kesehatan yang ketat, para guru yang mengajar sudah menjalani isolasi dahulu selama 14 hari sebelum sekolah dibuka,” terang Retno (Okenews, Rabo, 27/5/2020).

Apabila anak-anak masuk ke sekolah saat pandemi, bisakah anak-anak tertib dalam memakai maskernya sepanjang waktu di sekolah, dan bisakah orang tua menjamin anak-anak akan disiplin mengganti masker setiap empat jam pemakaian atau setiap kotor dan basah.

Bisakah kita benar-benar percaya kalau anak-anak tidak mengucek mata atau memegang hidung dan mulutnya selama di sekolah? Bisakah kita memastikan anak akan tetap jaga jarak 1,5 meter saat jam istirahat karena mereka sedang merasa senang bertemu teman satu dengan lainnya? Lalu siapkah guru-guru mengawasinya? Hal itu juga harus menjadi pertimbangan jika sekolah akan dibuka kembali pada tahun ajaran baru.

Sedangkan hal-hal yang perlu diperhatikan jika terjadi pandemi menurut sistem negara yang berlandaskan Islam terdapat dalam sebuah hadits yang disampaikan oleh Abdurrahman bin Auf mengenai sabda Nabi SAW:

“Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari & Muslim).

Pada akhirnya wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash ra memimpin Syam. Kecerdasan beliau-lah dan dengan ijin Allah Swt yang menyelamatkan Syam. Amr bin Ash berkata:

“Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Maka hendaklah berlindung dari penyakit ini ke bukit-bukit!”. Saat itu seluruh warga mengikuti anjurannya. Amr bin Ash dan para pengungsi terus bertahan di dataran-dataran tinggi hingga sebaran wabah Amawas mereda dan hilang sama sekali.

Dari kisah di atas kita semua dapat belajar dari orang-orang terbaik bersikap, dan juga yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Apa yang dapat kita ambil ibrah atau pembelajarannya adalah:

1. Karantina

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW diatas, itulah konsep karantina yang hari ini kita kenal. Mengisolasi daerah yang terkena wabah, adalah sebuah tindakan yang tepat.

2. Bersabar.

Di dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari diceritakan, suatu kali Aisyah bertanya kepada Nabi SAW tentang wabah penyakit. Rasulullah SAW bersabda, “Wabah penyakit itu adalah orang-orang yang DIA kehendaki. Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman. Jika terjadi suatu wabah penyakit, ada orang yang menetap di negerinya, ia bersabar, hanya berharap balasan dari Allah Swt. Ia yakin tidak ada peristiwa yang terjadi kecuali sudah ditetapkan Allah. Maka, ia mendapat balasan seperti mati syahid.”

3. Berbaik sangka dan berikhtiarlah.

Karena Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit kecuali Dia juga yang menurunkan penawarnya”. (HR. Bukhari).

Dalam kisah Umar bin Khattab berikhtiar menghindarinya, serta Amr bin Ash berikhtiar menghapusnya. Istilah saat ini dan sedang kita lakukan adalah melakukan “social distancing”, tindakan yang bertujuan untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain untuk mengurangi peluang penularan virus. Artinya juga sementara waktu menjauhi perkumpulan, menghindari pertemuan massal, dan menajga jarak antar manusia.

4. Banyak berdoa.

Perbanyak do’a-do’a keselamatan, salah satu contohnya yang sudah diajarkan Rasulullah Saw untuk di lafadzkan di setiap pagi dan sore berikut ini : “Bismillahilladzi laa yadhurru maasmihi, say’un fil ardhi walafissamaai wahuwa samiul’alim”.
Artinya:

“Dengan nama Allah yang apabila disebut, segala sesuatu dibumi dan langit tidak berbahaya. Dialah maha mendengar dan maha mengetahui).
Barang siapa yang membaca dzikir tersebut 3x dipagi dan petang. Maka tidak akan ada bahaya yg memudharatkannya. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jika cara penyelesaian masalah pandemi tidak diselesaikan secara syariah Islam maka secara otomatis pandemi akan berlangsung lama dan itu pastinya akan mempengaruhi dunia pendidikan, dunia ekonomi, dunia kesehatan dan yang lainnya. Pendidikan adalah hal yang paling utama dalam mencetak para calon pemimpin peradaban.

Tidak ada aturan yang paling baik jika dibandingkan dengan syariah Islam. Syariah Islam hanya bisa diterapkan secara menyeluruh dalam sistem pemerintahan yang bersistemkan Islam dan yang tegak di atas akidah Islam. Masya Allah.

Wallahua’lam Bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *