Tahan Wisata Demi Keselamatan Jiwa

Oleh: Syifa Putri

Kota kembang Bandung, adalah kota yang menjadi salah satu destinasi wisata yang masih jadi primadona baik lokal maupun dari luar kota, dikarenakan keindahan alam dan hawanya yang sejuk. Akan tetapi setelah pandemi virus Corona melanda dan diberlakukan PSBB, tempat-tempat wisata pun ikut ditutup. Kini setelah memasuki tahap new normal dan semua akses dibuka, antusiasme warga untuk pelesir ke tempat wisata seakan menjadi angin segar bagi pengelola wisata dan jajarannya untuk mengumpulkan pundi-pundi uang kembali. Seperti yang dilansir prfmnews (22/6/2020) Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung mempersilakan pengelola objek wisata untuk mengajukan sertifikasi aman Covid-19, saat kembali beroperasi di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Miris memang, di situasi yang masih bergelut dengan virus Corona dan masih dalam kawasan zona kuning, bahkan sebagian lagi masih berada pada zona merah, hal ini menjadi kekhawatiran penyebaran virus semakin tak terkendali.

Padahal kasus covid-19 di sejumlah provinsi pun belum sampai pada tahap aman. Para ahli epidemiologi mengkritik keras kebijakan new normal atau kenormalan baru yang digembar-gemborkan pemerintah karena tingkat risiko penularan sebenarnya masih sangat tinggi. Kurva pertumbuhan kasus Covid-19 di Indonesia belum mencapai puncak. Dengan demikian, Indonesia masih jauh dari akhir pandemi. Banyak pihak yang memandang bahwa kebijakan ini sangat tidak tepat dan berbahaya jika diterapkan dalam situasi sekarang. Mereka memandang bahwa kebijakan ini hanya bentuk berlepas dirinya pemerintah dari tanggung jawab mengurus rakyat, hingga rela mengorbankan nyawa rakyat dengan alasan ingin menggerakkan kembali sektor ekonomi yang lumpuh akibat pandemi.

Apabila kita rujuk berdasarkan ketentuan Badan Kesehatan Dunia (WHO), penerapan new normal bisa dilakukan ketika suatu negara atau daerah berhasil mengendalikan angka penyebaran Covid-19. Selain itu, memiliki fasilitas kesehatan yang mumpuni, dan risiko lonjakan kasus di tempat rentan dapat diminimalisir.
Inilah watak kapitalis yang diadopsi pemerintah sekarang dimana materi sebagai keuntungan yang lebih diutamakan dibandingkan nyawa manusia itu sendiri.

Dinyatakan Syaikhul Islam Al Aaalim Taqiyuddin An Nabhani rahimahullah, dalam tulisannya berjudul Al Hadharah Al Islamiyah, buku An Nizhamul Islam Oleh karena itu tidak akan ditemukan dalam peradaban Barat nilai moral, atau nilai spiritual, atau nilai kemanusiaan, kecuali nilai materi saja.

Sehingga, aspek ekonomi yang hanya membahas asas materi dan manfaat dalam sistem ekonominya, menjadi fokus bahkan mengatasi urusan kesehatan dan nyawa manusia. Bahkan, kesehatan sendiri tidak lebih dari jasa yang harus dikomersialkan. Hal ini terlihat pada konsep new normal atau new normal life ini. Demi hasrat meraih nilai materi.

Berbeda dengan sistem Islam, dimana keselamatan jiwa sangat diutamakan, seperti firman Allah Swt.:

Sesungguhnya siapa saja yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Siapa saja yang memelihara kehidupan seorang manusia, seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya (QS al-Maidah [5]: 32).

Dan dipertegas juga oleh hadis Rasullulah saw. Dari al-Barra bin Azib radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak. (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Di sini menegaskan akan hak seseorang mendapatkan jaminan keselamatan jiwa, dan pemerintahlah yang bertanggung jawab atasnya. Allah Swt mengutus Nabi Muhammad saw. dengan membawa Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Seluruh interaksi antarmanusia diatur sedemikian rupa oleh syariah Islam sehingga bisa mewujudkan kebahagian bagi manusia dan harmoni seluruh alam semesta. Wujud kerahmatan Islam itu bisa tampak manakala Islam diterapkan secara sempurna (kâffah) dalam Negara Khilafah. Umat, baik secara individu dan berjamaah, akan terlindungi oleh Islam. Mengapa? karena sistem Islam memandangan kewajiban pemerintah adalah memelihara agama, nyawa, kehormatan, akal dan harta.

Secara umum, bahwa tujuan hukum Islam sering dirumuskan sebagai kebahagiaan hidup manusia di dunia dan di akhirat kelak. Hal itu dengan jalan mengambil segala yang bermanfaat dan mencegah sesuatu hal yang tidak berguna bagi hidup dan kehidupan.

Dengan kata lain bahwa tujuan hukum Islam yaitu kemaslahatan bagi hidup manusia secara keseluruhan. Karena Islam tidak hanya mengatur hubungan dengan Allah Swt semata, melainkan mengatur hubungan dengan sesama dan juga mengatur hubungan dengan dirinya sendiri. Sehingga umat menyadari betul, seberapa pentingnya menyelamatkan jiwa dibandingkan dengan rekreasi yang dikategorikan mubah atau boleh-boleh saja. Karena hakikatnya akal yang selalu terjaga dengan mendekatkan diri kepada Allah dan tentunya diiringi sistem yang lahir dari aturan Allah, akan senantiasa menjaga akal tetap sehat dan terhindar dari rasa gundah dan stres. Hal ini tidak akan kita dapati pada sistem kapitalis sekuler ini, malah sistem rusak inilah yang membuat orang menjadi mudah stres, karena menjauhkan kehidupan dengan aturan Allah Swt. Inilah bentuk nyata dari sistem Islam.

Sebagai sebuah agama yang sempurna, Islam memiliki konsep dan visi dalam mewujudkan kehidupan yang sesuai fitrah manusia. Lalu masih enggankah untuk kembali pada solusi yang paripurna? Yaitu sistem khilafah Islam yang akan menyejahterakan rakyat.

Dengan memberikan solusi dengan sistem syariahnya, untuk mengatasi masalah umat saat ini. Karenanya akan teratasi oleh sistem shahih dengan mekanisme penanganan secara menyeluruh. Sistem ini bukan saja telah teruji, tapi juga terberkahi dunia-akhirat. Maka apakah masih ragu dalam meyakini, bahwa hanya dengan Daulah Khilafah Islamiyyah sajalah kemaslahatan rakyat akan terjamin?.
Wallahu a’lam bi-ashawwab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *