Tafsir Maqhasid Moderat, Rekontekstualisasi Penafsiran Al-Qur’an

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh: St. Rajma Nur Sapayani, S.Pd

 

Tafsir secara bahasa bermakna menyingkap sesuatu yang tertutup sehingga menjadi jelas. Jadi, sebagaimana dijelaskan oleh pakar bahasa Arab, Ibnul Faris dalam Mu’jam Maqayis Al-Lughah bahwa makna bahasa dari kata tafsir adalah penjelasan sesuatu. Adapun secara istilah, beragam para ulama dalam mendefinisikannya, Syaikh Al-Utsaimin dalam kitabnya Ushulun fit Tafsir mendefinisikan istilah tafsir dengan definisi “Penjelasan makna Al-Qur`an Al-Karim.

Ilmu tafsir atau metode penafsiran Al-Qur’an yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis meliputi pertama, tafsir bi al riwayah/ tafsir ma’tsur, yaitu penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, atau dengan sabda Rasulullah, atau dengan perkataan Sahabat, sebagai penjelasan apa yang dikehendaki Allah dalam Al-Qur’an. (Syekh Muhamad Ali ash Shabuni. Al Tibyan fi Ulumi al-Qur’an, hlm. 67—70).  Kedua, tafsir bi al-dirayah/tafsir bi ar-ra’yi, yaitu tafsir yang disusun dengan menyandarkan pada bahasa Arab dan berdasarkan pendapat/ijtihad. Yang dimaksud “pendapat” di sini adalah ‘ijtihad yang didasarkan pada kaidah penafsiran yang sahih’, yaitu upaya sungguh-sungguh menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan bahasa dan bersandarkan pada Al-Qur’an.

Hanya saja, sebagian orang orang moderat mencoba untuk menjadikan penafsiran berdasarkan pendapatnya yang disandarkan pada akal/hawa nafsu. Terbukti dalam Muktamar Tafsir Nasional 2020 yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir Universitas Nurul Jadid (Unuja) Probolinggo menghasilkan beberapa rekomendasi, di antaranya promosi Islam moderat.

Untuk menghasilkan hukum-hukum dan pemikiran-pemikiran yang moderat, maka dibutuhkan metode tafsir moderat/tafsir maqashidi. Yaitu sebuah metodologi untuk memahami dan menafsirkan Alquran dan hadis secara moderat. Tafsir maqishidi itu adalah sebuah pendekatan tafsir yang mencoba menengahi dua ketegangan epistimologi tafsir antara yang tekstualis dengan yang liberalis. (Republika.co.id).

Tafsir maqhasidi ini lebih jauh memunculkan rekontekstualisasi ataupun reinterpretasi Al-Qur’an. Ini adalah upaya menafsirkan kembali teks-teks berbagai nas yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadis agar sesuai dengan konteks atau realitas sosial budaya sekarang.

Misalnya dengan memakai metode penafsiran moderat/tafsir maqashidi, maka penafsiran terhadap QS Al Maidah ayat 47 bahwa penerapan hukum Islam secara kaffah tidak wajib, karena jika diwajibkan, berarti tidak toleran terhadap agama lain padahal Indonesia itu multiagama.

Hasil penafsiran moderat/tafsir maqashidi yakni hukum Islam wajib diterapkan pada urusan kehidupan akhirat saja. Dengan kata lain sebagian hukum saja yang berkaitan langsung dengan agama, misalnya hukum yang berkaitan dengan salat, puasa, zakat, nikah, mengurus jenazah dan haji. Sedangkan hukum yang berkaitan dengan pengaturan kehidupan semisal ekonomi, pendidikan, kesehatan boleh diambil dari selain Islam, misalnya undang undang kolonial warisan penjajah.

Padahal banyak sekali hadis yang mengingatkan bahwa kita tidak boleh main-main dalam menafsirkan Alquran. Sekalipun penafsiran yang bersumber dari pendapatnya itu ternyata benar, maka ini tetap dinilai sebagai suatu kesalahan. (Syekh Muhamad Ali ash Shabuni Al Tibyan fi Ulumi al Qur’an, hlm. 155-156).

Rasulullah saw. bersabda, Dari Jundab ibn Abdillah berkata, Rasulullah saw. Bersabda,Barang siapa berkata tentang Alquran (menafsirkan Alquran) dengan akalnya, ternyata benar, maka sungguh dia telah berbuat salah.” Abu Musa berkata bahwa hadis ini gharib. (HR. Turmudzi dan Abu Dawud).

Dari Ibn Abbas r.a. Rasulullah saw. Bersabda, ”Barang siapa berbicara tentang Alquran tanpa disertai ilmu, maka hendaklah bersiap-siap mengambil tempat duduknya dari api neraka.” Abu Musa berkata ini hadis hasan-shahih (HR. Turmudzi).

Maka dari itu, tafsir maqhasid dan kontekstualisasi syariah ini sangat membahayakan bagi aqidah kaum muslim karena menyimpang dari jalan dan metode tafsir yang dibenarkan syariah. Wallahu álam bishowab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.