Syair Menggugah Imam Syafi’i

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Oleh. Diana Septiani

 

Siapa yang tak kenal dengan Imam Syafi’i? Imam besar yang sejak usia 7 tahun sudah menghafal seluruh isi Alquran. Bahkan, di usia ke 10 khatam kitab Al-Muwattha’ karya Imam Malik.

Terlahir di Ghaza (Palestina) pada tahun yang saat itu Imam besar Abu Hanifah wafat, tahun 150 Hijriyah. Imam Syafi’i memiliki nasab yang bermuara pada Abdu Manaf, kakek buyutnya Rasulullah saw. Nama asli beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Asy-Syafi’i bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abd Yazid bin Hasyim bin al-Muthallib bin ‘Abdi Manaf.

Sejak usia 2 tahun, Imam Syafi’i sudah menjadi anak yatim. Ibunya lalu membawanya ke kampung halamannya di Mekkah. Walau hidup dalam kemiskinan, tak menyurutkan tekad beliau dalam menuntut ilmu. Beliau sering mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma dan tulang unta untuk dijadikan saranan menulis.

Saking tinggi keilmuannya dan begitu luhur pribadinya, Imam Hambali bahkan sering mendoakan beliau di waktu sahur. Sampai-sampai Abdullah, putra Imam Hambali bertanya, “Ayah, siapakah Imam Syafi’i itu? Aku sering mendengar ayah banyak mendoakan beliau.”

Imam Hambali berkata, “Ananda, Imam Syafi’i itu seperti matahari bagi dunia dan seperti keselamatan bagi manusia. Lalu, adakah pengganti bagi kedua kenikmatan ini?” (Adz-Dzahabi, Tarikh Islam, XIV/312)

Selain terkenal sebagai seorang ahli fiqih, ahli lughah (bahasa), beliau juga adalah seorang penyair. Kumpulan syairnya dibukukan dalam Diwan al-Imam Asy-Syafi’i (Antologi Puisi Imam Syafi’i).

Berikut ini adalah sebagian kecil karya syairnya yang begitu menggugah.

“Telah kuhidupkan qanaah dalam jiwaku yang sebelumnya mati
Dengan menghidupkannya terjaganya harga diri ini”

“Jika tamak telah menetap dalam jiwa hamba
Niscaya ia akan rendah dan hina-dina”

“Siapa berharap mulia tanpa rasa letih
Pasti ia habiskan usia demi perkara yang mustahil ia raih”

“Kau berharap kesuksesan, tapi kau banyak tidur setiap malam
Padahal para pencari mutiara pun harus menyelam di kedalaman”

“Tak sedikitpun resah akan esok hari terbetik di benakku
Sebab esok hari pasti ada rezeki lain yang baru”

Dan, syair yang paling masyhur yang banyak diingat para penuntut ilmu ialah:

“Bila kau tak tahan lelahnya belajar
Maka kau harus menahan perihnya kebodohan”.

MasyaAllah! Syair-syair yang begitu indah dan menggugah. Semoga mampu membakar semangat kita untuk giat dalam menuntut ilmu dan bersegera dalam melakukan kebaikan. Semoga kemuliaan di dunia hingga akhirat senantiasa tersemat bagi Imam Syafi’i. Aamiin yaa rabbal’amin.

Wallahu a’lam bishshowab.

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on pinterest
Pinterest
Share on pocket
Pocket
Share on whatsapp
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.