Sumber Patahnya Hati

Oleh : Ratna Mustika Pertiwi (Pegiat Literasi)

Pernahkah kita merasakan hati seperti bertepuk sebelah tangan, setelah pengorbanan luar biasa namun seperti tidak ada hasilnya?

Mungkin kita juga merasa bahwa sudah melangitkan doa, merubah diri menjadi pribadi yang bertaqwa, namun kenapa kehidupan masih begitu tak berpihak kepada kita?

Pernah patah hati pula ketika melihat manusia lain mencapai aktualisasi dunianya begitu cepat, padahal kepada Rabb-Nya saja ia kadang tidak ingat.
Sama seperti kondisi hati kaum Anshar setelah pulang dari perang Hunain, hati mereka hancur berkeping-keping.

Pasalnya Rasulullah seperti terlihat tidak adil, hanya membagikan unta dan harta ghanimah kepada para muallaf dan orang kafir yang ikut berperang dengan kaum muslimin, padahal harta ghanimah begitu melimpah.

Ketika berkacapun, orang-orang Anshar adalah orang yang membenarkan Rasul ketika beliau didustakan kaumnya, menerimanya ketika ia dinistakan, bahkan membagi harta benda mereka kepada orang Muhajirin saat hijrah ke Madinah. Namun kenapa dunia begitu tidak adil kepada mereka yang ikhlas berjuang dijalan Allah ?

Kegundahan demi kegundahan itu semakin menyeruak didada orang-orang Anshar, perbincangan ketidakadilan Rasulullah semakin pekat ditelinga kaum muslimin, hingga sampai suatu ketika pembicaraan itu sampai kepada Rasulullah.

Tak ingin melihat hati orang-orang Anshar terluka berlarut-larut, Rasul dengan kelembutan dan kebijaksanaannya mengumpulkan orang-orang Anshar mencoba untuk mentabbayunkan hal tersebut.

Dengan wajah penuh kegundahan, Rasulpun bertanya kepada mereka “Wahai kaum Anshar apa maksud perkataan kalian kepadaku?
Singkat cerita dengan penuh kegelisahan, orang-orang Ansharpun tidak berani mengungkapkan kegundahan mereka tentang pembagian ghanimah yang mereka rasa tidak adil. Namun Rasul menjawab dengan sebuah pertanyaan retorik yang menyayat, “Wahai kaum Anshar apakah kalian mempermasalahkan saat aku membagikan harta ghanimah serta unta kepada muallaf dan orang-orang kafir yang itu hanya berupa sampah-sampah dunia?. Apakah kalian tidak senang sekiranya orang-orang membawa pulang kambing-kambing dan unta-unta, sedang kalian membawa pulang Rasulullah bersama kalian?”

Pertanyaan retorik dari Rasulullah tersebut tentu tidak membutuhkan sebuah jawaban lisan, dan memang kaum Anshar tidak mampu menjawab sepatah katapun melalui lisannya.

Mereka menangis tersedu-sedu mendengar begitu besar rasa cinta Rasulullah kepada kaum Anshar. Air mata itu terurai membasahi janggut-janggut kaum Anshar, nafas mereka terengap-engap karena tidak mampu menahan haru yang bercampur dengan penyesalan.

Hati yang semula patah, kini sudah terobati dengan perkataan Rasul yang sungguh mendalam. Kaum Anshar mengaku, mereka memang keliru menyandingkan ghanimah dengan kenikmatan iman islam. Bersamanya Rasul bersama kaum Anshar adalah sebuah indikasi bahwa Allah dan RasulNya sangat mencintai mereka.

Bahkan Rasul pernah mengatakan apabila kaum Anshar melewati lembah yang berliku, curam nan menyakitkan, Rasul akan tetap ikut bersama mereka.

Begitu romantisnya Allah bila sudah mencintai seorang hambaNya, Dia akan menguji keimanan mereka dengan berbagai hal.

Mungkin awalnya ujian didunia memang terasa sakit, mungkin karena keliru menyandingkan dunia dan akhirat, padahal memang keduanya tidaklah sebanding. Dunia yang kemerlap kilaunya hanya semu nan sementara, tetapi kilau kenikmatan akhirat adalah sesuatu yang nyata.

Bila dikata, orang lain menikmati dunia begitu lezat, sedangkan kita merasa begitu menyedihkan. Perlu diingat bahwa habitat seorang mukmin hakikatnya ada di akhirat bukan di dunia. Dunia tidaklah lebih berharga daripada sayap seekor nyamuk, dan tidak mungkin Allah membiarkan hamba yang Dia cintai terperangkap didalam jebakan nikmat yang semu.

Patah hatinya manusia adalah ketika ia tidak memahami apa sebenarnya tujuan ia diciptakan. Sehingga ketika mendapat ujian dalam hal duniawi ia akan mengeluh dan menuduh Allah tidak adil dengan berbagai fatwa. Namun ketika kita memiliki instrumental keimanan yang pekat dan lekat seperti kaum Anshar dan memiliki visi hidup yang jelas, mungkin patah hati itu akan sembuh dengan cepat melalui nasehat-nasehat dan motivasi tentang indahnya nikmat surga.

Tetapi bila patah hati itu tak kunjung sembuh, maka tengok niat kita untuk berhijrah dan bertaqwa kepada Allah, untuk sekeping dunia atau untuk mendapat surga?

Wallahu’alam bishawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *