Subsidi untuk Dicabut, Penguasa dan Pengusaha Manggut-manggut

Oleh: Ummu Aziz (Ibu Rumah Tangga – Cimahi)

Pedagang kecil akan mengalami kesulitan jika subsidi gas 3 Kg dicabut. Ini tidak hanya dirasakan oleh pedagang kecil lainnya seperti penjual gorengan, masakan jadi dan pedagang lainnya. Kalau pembelian tabungnya dibatasi seperti rencana Ditjen Migas, maka yang terjadi kenaikan harga drastis. Saat ini saja harga gas yang dibeli berada di kisaran Rp18-20 ribu per tabung dan bisa membengkak menjadi Rp37-40 ribu per tabung tanpa subsidi.

Melihat fakta yang demikian, menurut kami ada beberapa ketidakselarasan rasio antara lapangan pekerjaan tidak banyak disediakan oleh pemerintah dengan lulusan yang siap bekerja.

Sehingga tidak menampung rakyat yang tidak memiliki pekerjaan untuk memenuhi kehidupan ketika ingin memiliki usaha sendiri namun dimatikan oleh pemerintah itu sendiri. Ditambah pemerintah yang pro kepada pengusaha bukan kepada rakyat itu sendiri. Seperti yang tampak pada kebijakan-kebijakan yang pro terhadap investor dan pengusaha.

Namun bukan hanya hal itu saja, pencabutan subsidi berdampak pada semua kalangan. Ada beberapa subsidi yang dicabut seperti; pencabutan subsidi untuk pelajar tuna netra, juga pencabutan subsidi untuk guru honorer adalah kebijakan yang makin menyengsarakan rakyat.
Hal ini menjelaskan makin banyaknya kezaliman rezim korporatokasi, mencabut subsidi rakyat tapi malah memberi banyak insentif untuk korporasi.

Sedihnya, bahwa subsidi yang akan diberikan hanya salah satu resep kapitalis dalam mengatasi gejolak rakyat, bukan wujud tanggung jawab Negara untuk melayani dan menjamin pemenuhan kebutuhan rakyat.
Inilah sistem kebebasan yang dianut oleh rezim atau penguasa. Wacana pemberian subsidi yang akan digelontorkan untuk rakyat yang tidak mampu masih belum jelas apakah langsung dan terus menerus dan hanya beberapa bulan saja. Seperti yang sudah-sudah.

Jika wacana pencabutan subsidi akan digolkan maka pedagang kecil yang selama ini tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah maka akan gulung tikar. Tidak bisa memenuhi kebutuhan.
Mari kita menarik kebelakang tentang pemerintahan yang dipimpin oleh Umar bin Khatab, bagaimana beliau mengurus rakyat dan kebutuhannya sangat detail. Sehingga beliau sendiri yang turun untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Kisah ini sangat mahsyur terkait Umar yang mengangkat karung gandum sendiri pada saat blusukan. Ini hanya akan bisa terealisasi jika Sistem pemerintahannya adalah Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah yang pernah berdiri selama 14 abad lamanya. Islam mengatur pemberian layanan pada seluruh warga tanpa diskriminasi (kaya dan miskin) dan bagaimana mekanisme Negara islam menjamin pemenuhan kebutuhan dasar setiap individu rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *