Stress Hingga KDRT di Tengah Wabah

“Abi capek, mi”, katanya saat ku tanya kenapa wajahnya cemberut saja.

“Capeknya dobel kalau kerja di rumah. Ya harus kerja ditambah bantu jaga anak-anak”, sambungnya.

Target kerjaan dan noise dari anak-anak sukses membuat suamiku stress. Yang masih ku syukuri, walau ia sedang tertekan, stress, tak pernah sekalipun ia menyakitiku atau anak-anak. Lain cerita dengan para suami di luar sana. Komisioner Komnas Perempuan, Konselor Trauma, juga Sekjen PBB, Antonio Guterres menyatakan KDRT meningkat selama masa karantina ini. Ringan tangan suami melampiaskan stress pada istrinya bahkan anaknya. Sehingga perempuan pun tak lagi merasa aman berada dalam rumahnya. Sejalan dengan itu, di Cina, tingkat perceraian selama karantina pun meningkat.

Ini menggambarkan rapuhnya hubungan keluarga saat ini. Rumah yang harusnya jadi tempat kembali, tempat yang senantiasa dirindukan, menjadi tempat yang ditakuti, menyeramkan karena ada kekerasan di dalamnya. Rasa aman pun hilang.

Padahal, masa karantina bisa dijadikan sebagai masa pengikat hubungan antar anggota keluarga. Karena banyak waktu yang bisa dihabiskan bersama, lebih sering family time dibandingkan sebelumnya. Orangtua yang bekerja bisa lebih memperhatikan perkembangan tumbuh kembang anaknya. Anak-anak bisa lebih menyadari kerja keras orangtuanya dalam mencari nafkah. Sehingga anak merasa bersyukur dan berterima kasih pada orangtua.

Sayangnya, kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, juga papan masih tidak jelas bagaimana pemenuhannya kalau suami kerja di rumah. Syukur bila kerjaan bisa dibawa ke rumah. Bagaimana nasibnya para pedagang kaki lima? Bagaimana nasibnya para pedagang keliling? Bahkan, sampai saat ini, berapa banyak suami yang dirumahkan, jobless? Dari mana mereka memenuhi kebutuhan pokoknya? Wajar jika banyak warga yang kini kelaparan. Bahkan, dikabarkan ada ibu yang meninggal karena kelaparan di Tanggerang.

Inilah yang membuat para suami stress. Istri juga ikut stress melihat suaminya stress, anak-anak pun ikut stress melihat orangtuanya stress. Ilmu sabar, ilmu parenting, seolah hilang menguap tak membekas. Padahal, sejatinya, ku yakin, suami sayang pada istri dan anak-anaknya. Hanya saja, kegalauannya tampak tak berujung di tengah kondisi ini.

Solusi yang ditawarkan hanya mampu membuat bertahan sebentar saja. Pembagian sembako hanya cukup untuk bertahan beberapa hari saja, semakin banyak anggota keluarga, semakin cepat sembako habis. Iya betul, kita harus bersyukur dengan pemberian dan bantuan yang diberikan. Tapi, tak cukup disitu. Harus ada kejelasan bagaimana kelangsungan hidup rakyat selanjutnya.

Bagai tertohok, ku melihat sebuah video yang menceritakan budaya di Turki di salah satu akun instagram. Budaya warisan Kekhilafahan Utsmaniyah, memberi makan hewan terlantar. Di dalam video tersebut, terlihat kucing, anjing, burung, dan hewan-hewan di jalan diberi makan oleh para warga juga petugas resmi dari pemerintah. Hewan saja begitu, apalagi manusia?

Itu menjadi bukti empati yang besar tumbuh dalam Islam. Empati yang dilestarikan dan dibudayakan, bahkan pada hewan. Sementara, kapitalisme dengan individualismenya sukses melahirkan orang-orang yang tak peduli sekitar. Termasuk pejabat yang tak peduli rakyatnya.

Kenapa berbeda? Karena kapitalisme mengajarkan individualisme. Pemikiran “yang penting gue enak”, “Yang penting gue makan”, tertancap dalam diri. Sehingga jumlah korban covid 19 yang meninggal, jumlah penduduk yang terkena PHK, jumlah warga yang kelaparan, di mata mereka hanya sekedar angka. Padahal, angka 1 pun sangat berharga kala itu dipandang sebagai nyawa. Bayangkan kalau yang 1 itu ayahmu, ibumu atau anakmu. Akankah tetap tak bergeming dan tak acuh?

Sudah saatnya kita tinggalkan sistem kapitalisme yang rusak dan merusak ini. Dan kembali pada islam sebagai sistem kehidupan yang Allah turunkan.

Wallahu’alam bish shawab.

Identitas Penulis
Nama : Fatimah Azzahra, S. Pd
Aktivitas : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Bandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *