Stop Kekerasan Seksual!

Oleh: Irma Setyawati, S.Pd (Pemerhati Masalah Sosial dan Pendidikan)

 

Dilansir dari REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menegaskan pihaknya mendukung kepolisian mengusut kasus pelecehan seksual dan perundungan yang diduga dilakukan oleh tujuh pegawainya terhadap seorang pegawai KPI Pusat. Dukungan untuk penyelidikan lebih lanjut itu disampaikan oleh Ketua KPI Pusat Agung Suprio sebagaimana dikutip dari keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Rabu 2 Sept 2021.

Seorang pria yang mengaku sebagai pegawai KPI Pusat mengaku sebagai korban perundungan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh tujuh pegawai di Kantor KPI Pusat selama periode 2011-2020. Pengakuan korban itu muncul ke publik lewat siaran tertulis yang diterima oleh sejumlah media nasional di Jakarta, Rabu. Dalam pengakuan itu, korban mengaku mengalami trauma dan stres akibat pelecehan seksual dan perundungan yang menjatuhkan martabat dan harga diri korban.

Korban menyampaikan ia sempat melapor ke Komnas HAM dan kepolisian. Namun, saat melaporkan kasus yang dia alami, polisi yang menerima laporan meminta korban menyelesaikan masalah itu di internal kantor. Korban pun melapor ke kantor, tetapi aduan itu hanya berujung pada pemindahan divisi kerja dan pelaku tidak mendapat hukuman. Pemindahan itu, kata korban lewat siaran tertulisnya, tidak menghentikan perundungan dari para pelaku.

Terkait aduan terbuka yang dibuat oleh korban, KPI Pusat menyampaikan pihaknya tidak akan menoleransi segala bentuk pelecehan seksual dan perundungan dalam bentuk apapun. “(KPI Pusat) melakukan langkah-langkah investigasi internal dengan meminta penjelasan kepada kedua belah pihak,” kata Agung Suprio sebagaimana dikutip dari pernyataan sikap KPI Pusat.

Kasus kekerasan seksual adalah fakta lama yang hingga hari ini belum menemukan solusi tuntasnya.Alhasil, kian hari kian muncul fakta-fakta baru lagi yang terus mencuat ke permukaan.  Untuk mencari solusi suatu permasalahan, tentu kita harus telusuri terlebih dahulu penyebab dari kekerasan seksual tersebut.

Jika kita kaji lebih dalam, sebenarnya faktor-faktor penyebab kekerasan seksual berakar pada satu masalah yaitu diterapkannya sistem sekuler kapitalisme dalam segala aspek kehidupan. Sistem kapitalisme yang melahirkan paham liberalisme, sekulerisme, hedoninisme, dll yang menyebabkan manusia bebas berbuat apapun sekehendaknya tanpa ada rasa takut kepada PenciptaNya.

Adanya paham liberalisme yang menghasilkan pergaulan bebas, tontonan yang tanpa batas  dan adanya budaya permisif yang menghasilkan lingkungan sosial dan orang-orang yang mudah melakukan hal-hal yang dilarang agama, termasuk kekerasan seksual.

Khusus kasus dugaan kekerasan seksual yang di alami oleh pegawai KPAI, baik korban dan pelaku adalah sama-sama pria dewasa. Artinya di sini terdapat perilaku seks yang menyimpang. Bila ditelusuri lebih lanjut sejatinya penyebab perilaku seks yang menyimpang ini adalah kurangnya akidah dan adanya paham liberalisme.

Menurut kaum liberal, menjadi lesbian, gay, biseks maupun transgender adalah sebuah pilihan sebagai bagian dari hak asasi. Kalau pun kemudian muncul masalah, maka itu dianggap karena kurangnya pengaturan baik dari masyarakat maupun negara, bukan karena salahnya pilihan mereka. Ini jelas pandangan yang salah. Perilaku seks yang menyimpang ini bukan pilihan bagi orang normal, tapi pilihan bagi orang abnormal. Hal tersebut adalah sebuah penyimpangan dari fitrah manusia.

Islam telah mengatur pemenuhan fitrah manusia untuk berkasih sayang, yaitu dengan menikah. Dan tentu saja itu dalam ikatan pernikahan syar’i, bukan zina. Dengan itulah bisa tercapai tujuan penciptaan laki laki dan perempuan yaitu demi untuk kelangsungan jenis manusia dengan segenap martabatnya sebagaimana firman Allah SWT:

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. an-Nisa: 1).

Islam telah mengatur hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan, baik di ranah kehidupan umum maupun khusus.Adanya pemisahan antara laki-laki dan perempuan (kecuali dalam hal kesehatan, muamalat, dan haji) melindungi keduanya dari interaksi yang berlebihan. Kewajiban menutup aurat membentengi mata-mata telanjang yang mendorong perbuatan maksiat. Pengaturan hak dan kewajiban suami-istri dalam keluarga membuat peran keduanya seimbang. Tak ada yang lebih diuntungkan atau dirugikan.

Islam juga menjadikan setiap elemen keluarga dan masyarakat sebagai pengingat. Dengan perintah amar makruf nahi mungkar, kita terpacu untuk saling mengingatkan dan menasihati. Jika terjadi kesalahan perilaku pergaulan atau kekerasan, masyarakat menjadi kontrolnya.

Untuk mencegah kekerasan seksual juga butuh peraturan dan penegakan hukum oleh negara . Tentunya peraturan dan hukum yang diharapkan disini adalah yang bisa dijadikan sebagai penebus dan pencegah siapapun untuk mengulangi.

Dalam Islam, negara harus memiliki seperangkat aturan bagi perbuatan kemaksiatan. Mulai dari rajam bagi para pezina yang telah menikah, hingga hukuman cambuk 100 kali bagi yang sudah menikah. Yakinlah hanya dengan penerapan Islam dalam seluruh aspek kehidupan yang bisa mencegah dan menyelesaikan masalah kekerasan seksual yang terus bermunculan hari ini.

Wallahua’lam bishawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *