Sosok pemimpin Yang Kami Rindukan

Oleh : Nuni Toid (Ibu Rumah Tangga dan Member AMK)

Di antara sekian banyaknya amanah, yang paling penting adalah amanah kekuasaan. Rasulullah saw bersabda:

“Pemimpin yang memimpin rakyat adalah pengurus dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya yang dia urus.” (HR. al Bukhari)

Karenanya generasi Muslim pada masa lalu amat paham tentang betapa beratnya amanah kepemimpinan dan kekuasaan. Mereka punya kewajiban penuh untuk mengurus rakyatnya. Bila mereka berkhianat maka ancamannya sangat keras. Seperti hadis di bawah ini, Rasulullah saw bersabda:

“Penguasa mana saja yang diserahi tugas mengurus rakyatnya lalu mengkhianati mereka, dia masuk neraka,” (HR. Ahmad)

Adil dan Amanah

Sejarah peradaban Islam dalam sistem kekhilafahan selama berabad-abad telah melahirkan banyak pemimpin yang adil dan amanah. Seperti khalifah Abu Bakar ash Shidiq ra, Umar bin al Khattab ra, Usman bin Affan ra, Ali bin abi Thalib dan khalifah-khalifah selanjutnya yang memimpin dengan adil dan amanah kepada rakyatnya.

Begitupun dengan para pejabat-pejabatnya pada masa kekhilafahan mereka memiliki keteladanan yang sama. Sebut saja Qadhi Syuraih di zaman kekhalifahan Ali bin abi Thalib ra. Seorang hakim yang mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara Imam Ali bin abi Thalib ra dengan seorang laki-laki Yahudi terkait sebuah baju besi milik Imam Ali bin abi Thalib.

Dengan bersikap adil Qadhi Syuraih mampu menyelesaikan persengketaan itu yang dimenangkan oleh laki-laki Yahudi. Karena keadilan yang ditunjukkan Qadhi tersebut, akhirnya dengan kesadaran penuh laki-laki Yahudi itu masuk Islam dan mengembalikan baju besinya kepada Imam Ali bin abi Thalib ra. Namun Imam Ali bin abi Thalib pun menyerahkan kembali baju besi itu kepada laki-laki Yahudi tersebut sebagai bentuk hadiah atas keislamannya. (Diriwayatkan oleh Imam al-Hakim)

Begitupun dengan Qadhi Hisbah yang telah menghukum penguasa Bani Saljuk dengan punggawanya sebanyak 40 kali cambukan karena menenggak minuman keras. (Kitab Syiar al-Muluk)

Tidak Korupsi

Selain para khalifah bersikap adil, amanah, mereka pun sangat berhati-hati dengan yang bukan miliknya, yaitu harta negara. Mereka tidak berani korup. Hal itulah yang pernah terjadi di zaman kekhalifahan Umar bin al-Khattab ra. Beliau pernah mendapatkan hadiah minyak kesturi dari penguasa Bahrain. Karena kehati-hatiannya sampai ketika sang istri menawarkan dirinya untuk ikut menimbangnya dan membagi-bagikannya, beliau tetap menolaknya. Hal itu sampai terjadi tiga kali istrinya menawarkan diri dan tiga kali pulalah Umar bin al Khattab menolaknya dengan lembut. Mengapa? Karena khalifah Umar bin al-Khattab takut bila mendapatkan yang bukan haknya.

Begitulah Islam yang berhasil mewujudkan para pemimpin yang adil, amanah dan tidak korupsi. Maka sangat wajar bila saat ini kita kaum muslim maupun non muslim merindukan kepemimpinan yang demikian.

Namun sayang, hal itu tidak akan mungkin terwujud, selama sistemnya masih mengadopsi sistem demokrasi sekuler yang kufur. Karena sistem ini hanya mampu melahirkan para pemimpin yang zalim, khianat dan korup.

Maka pemimpin yang mampu bersikap adil, amanah, dan tidak korup hanya akan lahir dari sistem yang bertumpu pada Al-Qur’an dan as-Sunnah, itulah sistem yang diterapkan dalam institusi pemerintah Islam, yaitu khilafah ‘ala minhajjn nubuwwah.

Semoga pemimpin yang kita rindukan ini segera hadir di tengah kita. Dengan begitu, kesejahteraan hakiki akan benar-benar kita rasakan.

Wallahu a’lam bish-shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *