Solusi Sampah: Teknologi dan Takwa

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Oleh: Ari Sofiyanti (Alumni Biologi, Universitas Airlangga)

 

Kita semua tahu, masalah sampah di bumi ini telah menjadi ancaman serius. Sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia telah menumpuk dan merusak planet ini. Alam menjadi semakin merana. Dimana-mana kita mendengar berita berton-ton sampah yang dibuang ke lingkungan darat maupun laut. Jumlahnya sekitar  2,12 miliar ton setiap tahun. Sampah-sampah tersebut telah mencelakai satwa, tumbuhan dan tidak terkecuali kehidupan manusia itu sendiri.

Sekarang kita tarik mundur hingga ke titik era revolusi industri ketika berkembang teknologi dan banyak invensi, salah satunya plastik yang kini menjadi momok dunia. Adanya inovasi plastik di abad 19 sesungguhnya telah memudahkan manusia, banyak material yang digantikan oleh plastik dan berbagai inovasi lain dapat dibuat karena adanya plastik seperti komputer, ponsel dan lainnya. Plastik telah menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Namun, sejalan dengan merebaknya industri, meningkatnya penggunaan plastik, bahan kimia, barang elektronik dan ditemukannya teknologi-teknologi lainnya ternyata memiliki dampak negatif pula pada lingkungan. Misalnya debris plastik yang ditemukan pertama kali di laut tahun 1960. Setelah itu, reputasi plastik menurun drastis akibat kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya. Hingga kini, limbah polimer plastik menjadi isu lingkungan  yang tak kunjung usai didiskusikan.

Lantas, mengapa masalah sampah sulit diselesaikan? Apakah kita harus menyalahkan sejarah invensi teknologi, industri, plastik dan elektronik?

Teknologi, industri, elektronik maupun plastik adalah alat yang digunakan oleh manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Masalahnya adalah, bagaimana manusia menggunakan alat-alat tersebut. Isu sampah yang menjerat bagaikan tali kekang setan ini tidak lain adalah warisan dari ideologi kapitalisme sekulerisme. Dalam sistem ini, perusahaan dan industri memiliki prinsip meraih keuntungan sebesar-besarnya dengan pengeluaran  sekecil-kecilnya. Implikasinya, sebagai contoh di Indonesia sendiri ada banyak perusahaan dan industri yang beroperasi atau mengeksploitasi SDA sementara mereka mangkir dari kewajiban mengelola limbah dan sampah yang dihasilkan.

Sistem ini melahirkan tidak lain hanya bencana bagi manusia karena hawa nafsu manusia sendiri. Dengan pemahaman bahwa kebahagiaan didapat dari materi, manusia berusaha mencapainya dengan segala cara. Walaupun akibatnya merusak lingkungan. Mereka berteori bahwa kebutuhan atau keinginan manusia itu tidak terbatas. Bahkan kapitalisme senantiasa merangsang hawa nafsu manusia. Mereka mengaruskan kebebasan, lifestyle  yang berlebih-lebihan dan overconsumption. Segala macam iklan dan tontonan media mempengaruhi agar manusia semakin berperilaku konsumtif. Fokus memenuhi keinginan fun, food, fashion. Gadget, segala macam peralatan elektronik, makanan melimpah, pakaian mewah, mobil berganti-ganti. Manusia seakan tidak pernah merasa cukup. Lalu disitulah para kapitalis beraksi dalam rangka memenuhi keinginan manusia. Bumi pun dicemari oleh limbah dan sampah akibat memenuhi hasrat sebebas-bebasnya.

Kebijakan negara dalam mengelola sampah juga tidak lepas dari sistem kapitalisme. Indonesia menjadi salah satu importir sampah plastik terbesar di dunia. Pada 2020, impor bersih sampah plastik Indonesia mencapai 138 ribu ton. Mengutip artikel dari theworldcounts.com, limbah beracun dan berbahaya sering dijual oleh negara maju ke negara berkembang yang lebih miskin. Praktik ini dikenal dengan perdagangan sampah global. Negara-negara kaya pada dasarnya mengekspor sampah mereka ke negara-negara miskin terutama di Afrika dan Asia. Praktik menggunakan negara-negara berkembang sebagai cara murah bagi negara-negara kaya untuk membuang limbah beracun ini disebut sebagai toxic colonialism.

Artinya gaya hidup, pandangan hidup, bahkan kebijakan negara dalam sekulerisme kapitalime sama sekali tidak ramah lingkungan. Alhasil, masalah sampah semakin mengkhawatirkan. Bumi pun semakin  terancam.

Masalah sampah adalah masalah kompleks yang berangkat dari sistem yang salah. Dunia kini tengah mengambil sistem hukum sekulerlisme kapitalisme liberalisme.  Padahal Sang Pencipta Alam Semesta mewajibkan berhukum hanya kepada Islam dan melarang mengambil sistem yang batil. Maka sudah sewajarnya manusia kembali pada jalan ketakwaan, yaitu kembali pada Islam.

Islam memiliki aturan yang lengkap dan sempurna. Mulai dari individu, masyarakat dan negara. Dari sisi aturan individu, manusia dijaga dari membuang-buang makanan dengan berhenti makan sebelum kenyang dan berbagi makanan dengan tetangga. Dalam hal kepemilikan pun, pemanfaatannya akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Apakah akan membawa pada pahala atau justru menjadi dosa karena tabdzir atau berlebih-lebihan, boros dan membeli tidak sesuai kebutuhan atau hanya karena keinginan. Inilah yang mengarahkan lifestyle kaum muslim less waste. Selain itu ada pula aturan-aturan menjaga kebersihan dan larangan berbuat kerusakan pada lingkungan. Semua ada dalam Al Quran dan As Sunnah. Aturan-aturan dari Allah ini dijalankan karena kesadaran keimanan.

Masyarakat dalam sistem Islam adalah masyarakat yang sadar dan peduli. Bahkan Allah menyematkan gelar umat terbaik untuk umat muslim karena melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Artinya suasana dalam masyarkat Islam adalah suasana taat, takwa, saling mengajak kepada kebaikan dan mencegah segala bentuk kemaksiatan, termasuk merusak lingkungan.

Kemudian pilar yang paling penting adalah negara. Negaralah tonggak dari seluruh pelaksanaan seluruh hukum syariat dalam sistem pendidikan, kesehatan, politik, ekonomi dan lainnya. Misalnya pendidikan, akan disediakan oleh negara atau Khilafah secara gratis dan dapat diakses oleh semua warga negara. Pendidikan yang berbasis akidah ini akan mencetak individu berkepribadian Islam yang unggul dalam pengetahuan. Hasilnya adalah umat yang mulia, bahkan berinovasi dalam teknologi termasuk pengelolaan sampah dengan tujuan ridho Allah, bukan demi mengejar materi semata.

Negara atau Khilafah wajib menegakkan sanksi yang tegas dan adil bagi setiap pelaku pelanggar syariat, dalam hal ini adalah warga negara yang mencemari dan merusak lingkungan. Termasuk jika ada perusahaan atau industri yang mengabaikan AMDAL. Sedangkan dari sisi politik luar negeri, Khilafah adalah negara yang berdaulat dan dihormati.  Sehingga kasus toxic colonialism dari negara lain tidak akan pernah terjadi.

Negara juga wajib memfasilitasi pengelolaan sampah. Mulai dari kebijakannya hingga teknologi. Pengelolaan sampah yang canggih, efektif dan efisien bukanlah suatu kemustahilan dalam negara Islam. Sejarah mencatat salah satu pengelolaan sampah dalam peradaban Islam Khilafah. Pada kurun abad 9-10 M, pada masa Bani Umayyah, jalan-jalan di Kota Cordoba begitu bersih dari sampah, karena telah ada mekanisme pengelolaan sampah di perkotaan yang idenya dibangun oleh Qusta ibn Luqa, ar-Razi, Ibn al-Jazzar dan al-Masihi. Tokoh-tokoh muslim tersebut telah mengubah konsep sistem pengelolaan sampah yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang, karena di perkotaan padat penduduk telah berpotensi menciptakan kota yang kumuh. Kebersihan kota menjadi salah satu modal sehat selain kesadaran sehat karena pendidikan.

Sesungguhnya metode, fasilitas dan teknologi pengelolaan sampah masa kini telah banyak dikembangkan. Akan tetapi sulit diterapkan untuk mengatasi masalah sampah ketika kita masih mengadopsi lifestyle, pandangan hidup dan aturan-aturan sekuler kapitalisme. Satu-satunya cara adalah menjalankan Islam seutuhnya dengan landasan ketakwaan dalam naungan Khilafah saja sehingga perkembangan pengetahuan dan teknologi pengelolaan akan jauh lebih pesat dan dapat diterapkan secara efektif.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar Ruum: 41).

Wallahua’lam bishawab.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
Pocket
WhatsApp

Leave a Reply

Your email address will not be published.