Solusi Islam dalam Mengatasi Depresi

Oleh: Tawati (Muslimah Revowriter Majalengka)

Sejak Jumat, 17 Januari 2020, dunia maya diramaikan dengan trending Twitter #RIPNadia. Trending itu dimulai dengan cerita tentang seorang siswi SMP kelas IX yang tewas bunuh diri.

Siswi berinisial SN ini baru berusia 14 tahun. Ia meninggal di Rumah Sakit Polri Kramat Jati setelah ditemukan melompat dari lantai 4 sekolahnya pada Selasa 14 Januari lalu. (Dikutip Popmama.com, 18/1/2020)

Memang akhir-akhir ini banyak terjadi kasus tindak bunuh diri serupa seperti yang dilakukan Nadia. Motifnya pun beragam, namun yang paling sering terjadi adalah akibat tekanan mental atau depresi.

Depresi adalah sebuah penyakit gangguan psikologis yang ditandai dengan kurangnya ‘kewarasan’. Penderita depresi biasanya memiliki perasaan takut yang berlebihan, merasa diri tidak berharga.

Efeknya tidak main-main, penderita bisa menyakiti diri sendiri bahkan orang lain. Bahkan ia bisa menghilangkan nyawanya sendiri serta nyawa orang lain. Hal tersebut terjadi begitu saja, di luar kesadarannya.

Ada banyak penyebab depresi, antara lain karena percintaan, KDRT, bullying, dan kelelahan pasca melahirkan (ini kerap disebut sebagai Baby Blues Syndrom). Depresi tak mengenal usia, tua muda bisa saja terkena.

Dan penderita depresi butuh segera diatasi agar tidak menimbulkan permasalahan yang lebih berbahaya ke depannya. Salah satunya, butuh kepekaan dari lingkungan sekitar, khususnya keluarga.

Islam memiliki serangkaian cara dalam mengatasi depresi, antara lain sebagai berikut:

Pertama, perbanyak mengingat Allah (zikrullah). Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan orang yang ingat akan Rabb-nya dengan orang yang tidak ingat Rabb-nya laksana orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Al-Bukhari).

Mengingat Allah bisa dengan berbagai cara, diantaranya melafazkan kalimat-kalimat tayibah, membaca Alquran dan merenungi maknanya.

Kedua, shalat. Shalat yang merupakan sebuah kewajiban bagi setiap muslim ternyata menyimpan hikmah yang sangat berharga jika ditegakkan. Dengan shalat, hati menjadi tenang dan pikiran pun jernih. Sehingga kegalauan yang menyergap diri akan teratasi. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah: 153).

Ketiga, tawakal. Wajib bagi setiap muslim mengimani dengan sepenuh jiwa tentang qadha dan qadar. Segala ketetapan Allah, baik ataupun buruk, adalah wajib diterima dengan penuh tawakal. Akhirnya, kita tidak akan sampai terjerumus ke dalam depresi berkepanjangan jika kita meyakini bahwa segala yang menimpa kita adalah atas izin Allah.

Terima dan lapangkan hati, niscaya kegalauan akan sirna, berganti dengan keikhlasan. Anak, harta, suami/istri, dan jabatan adalah titipan. Maka bukanlah tidak mungkin suatu saat Allah akan mengambilnya kembali. Bertawakallah niscaya jiwamu terasa lapang.

Keempat, berkumpul bersama keluarga. Resapi kehangatan atas kebersamaan yang terjalin. Dengan berkumpul bersama keluarga, bercengkrama, dan bercanda niscaya kegalauan akan hilang, berganti keceriaan.

Kelima, selalu berpikiran positif. Sebab benak yang dipenuhi pikiran positif akan mewujudkan kondisi kejiwaan yang sehat, jauh dari prasangka yang dapat membebani hati. Berpikir positif juga dapat menarik energi positif ke dalam diri kita, sehingga kita akan senantiasa merasa bahagia.

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku pada-Ku dan Aku bersamanya apabila ia memohon kepada-Ku.” (HR.Muslim).

Demikianlah cara-cara Islam untuk mengatasi depresi. Sungguh Islam adalah agama yang paripurna, segala hal dari masalah yang terkecil hingga yang terbesar, Islam mampu menghadirkan solusinya.

Maka bersandarlah hanya pada aturan Allah, niscaya keselamatan dunia dan akhirat adalah milik kita. Wallahua’lam bishawab[].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *